Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Time-proof God

diposkan pada tanggal 11 Nov 2011 04.30 oleh Essy Eisen
Mzm 90: 1-12

Tuhan tidak dibatasi oleh waktu. Itu adalah salah satu pesan utama dari Mzm 90: 1-12. Dengan syair yang indah, pemazmur mengajar umat Israel untuk meyakini bahwa Allah mereka tidak hidup dengan keadaan yang sama dengan manusia. Jika manusia hanya berumur 70-80 tahun, maka Allah sudah ada sebelum gunung-gunung dilahirkan dan bumi diperanakan. Dari selama-selamanya sampai selama-lamanya, Tuhanlah Allah.

Berapa lama itu selama-lamanya? Apakah itu sama dengan tahun-tahun yang tak terbatas panjangnya? Jika ilmu pengetahuan modern memperkirakan bahwa usia bumi ini 4,54 milyar tahun yang lalu, apakah Allah berusia 4,55 milyar tahun? Tidakkah Allah bosan berumur sepanjang itu? Cara pikir seperti ini barangkali tidak tepat untuk memahami kekekalan Allah. Allah berada di luar jangkauan dan kungkungan dimensi waktu. BagiNya, seribu tahun, yang dalam perhitungan Ibrani masa kuno adalah periode waktu paling panjang yang bisa dibayangkan manusia, sama saja dengan satu malam. Perhitungan waktu tidak berlaku untuk Allah. Ia tidak mengalami siklus 24 jam yang kita alami di bumi ini. Ia tidak kenal pagi, siang, sore dan malam. Ia tidak harus menaati musim tanam dan musim panen. Semua periodisasi waktu yang mengikat manusia itu adalah ciptaanNya dan Dia sendiri tidak diikat oleh ciptaan itu. Tentu kita sulit memahaminya, bagaimana itu mungkin?

Saya sering bercerita kepada orang-orang yang akan baru datang ke Australia pertama kalinya dari Indonesia bahwa panjang matahari menyinari benua itu berbeda-beda tergantung musimnya. Jika musim panas, matahari bisa bersinar 17 jam. Matahari terbit pukul 4 atau 5 pagi dan baru tenggelam jam 8 atau 9 malam. Di musim dingin, matahari hanya bersinar 10-11 jam, terbit pukul 6 atau 7 pagi dan tenggelam jam 5 sore. Orientasi waktu orang-orang Indonesia yang terbiasa hidup dengan sinar matahari 12 jam tiap hari sepanjang tahun akan kacau jika harus berhadapan dengan matahari yang masih bersinar terang di jam 7 malam. Dia pikir hari masih siang dan belum perlu makan malam, namun anehnya perutnya sudah lapar. Apalagi jika kita bertemu Allah sama sekali yang tidak perlu matahari dan bulan untuk mengetahui waktu.

Apakah penghiburannya bagi kita bila Allah tidak tergantung pada waktu dan bersifat kekal? Menurut pemazmur, Ia boleh menjadi tempat perteduhan kita turun temurun. Kepada Dia kita boleh percaya bahwa anak cucu kita akan dipeliharaNya seperti Ia telah memelihara orang tua dan kakek-nenek kita. Seperti kata para penatua ketika memimpin Pengakuan Iman Rasuli, “Bersama dengan gereja masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang marilah kita mengingat janji baptisan kita…” Mengapa kita boleh yakin bahwa gereja masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang tetap beriman kepada Allah? Karena Allah yang tidak dibatasi oleh masa akan memelihara gerejaNya.

Apakah tanggung jawab kita jika kita menyadari bahwa kita adalah makhluk yang dibatasi oleh waktu? Menurut pemazmur, kita berlu menghitung hari sehingga beroleh hati yang bijaksana. Saya yakin maksud pemazmur kita tidak perlu menjumlahkan hari kehidupan kita sehingga tahu bahwa saat ini kita sudah hidup delapan ribu empat ratus dan lima puluh tiga hari untuk mendapat hati yang bijak. Menghitung hari lebih bermakna pengenalan akan manfaat hari-hari yang kita lalui dan sedang jalani. Seorang teman saya menjalani disiplin rohani Ignatian setiap hari. Disiplin ini dicetuskan oleh Santo Ignatius dari Loyola yang mengajarkan setiap pagi dan malam orang perlu memeriksa hati nuraninya, apakah sudah menjalankan kehidupan sesuai dengan kehendak Tuhan. Pada pagi hari, ia menentukan hal-hal yang ingin dilaksanakan untuk melayani Tuhan dan pada malam hari ia mengevaluasi hari itu dan keesokan paginya mengingat lagi hasil evaluasi kemarin dan menentukan arah kembali. Dengan demikian tiap hari, ia menjalani hidup dengan bijaksana karena tidak mengulangi kesalahan yang lalu dan senantiasa melibatkan Tuhan. Tidak kelihatan seperti sesuatu hal yang sulit bukan?

Bersama dengan Isaac Watts dan KJ 330 kita boleh yakin:

Sejak dahulu takhtaMu
pelindung kaum kudus;
dengan kuasa tanganMu
Kaubela kami t’rus.

Ya Tuhan, Kau kekal teguh
Pelindung kaum kudus;
kiranya dalam rumahMu
umatMu tinggal t’rus.

(Agustian N. Sutrisno)
Comments