Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Terimalah orang yang lemah imannya

diposting pada tanggal 10 Sep 2011 00.34 oleh Essy Eisen
(Rm 14: 1-12)

Selama tinggal di Brisbane saya berbakti tiap minggu di Uniting Church of Australia. UCA, mitra resmi GKI di Australia, adalah salah satu gereja paling progresif dan liberal dalam hal pendirian etika dan dogmatika di dunia ini. Hal-hal yang masih tabu dibicarakan di banyak denominasi lain sudah diresmikan dan diterima oleh UCA. Saya pernah mendengar bahwa UCA sedang merancang liturgi perceraian di gereja, karena sebagian pendetanya sendiri bercerai dan tidak memandang perceraian sebagai hal yang menentang kesaksian Alkitab. Ada berbagai hal lainnya tentang pendirian UCA sebagai sebuah sinode yang bagi saya sulit untuk dapat dipahami dan selain itu, menurut saya pribadi, bertentangan dengan apa yang saya baca dan mengerti tentang Alkitab dan ajaran gereja.

Ini sangat berbeda dengan gereja yang saya hadiri selama tinggal di Sydney. Di sana saya berbakti di Presbyterian Church of Australia, gereja yang juga berajaran Calvinis seperti GKI. PCA memandang dirinya sebagai sebuah denominasi Injili yang konservatif. Mereka begitu konservatifnya sehingga PCA Sinode Wilayah New South Wales tidak mengizinkan seorang perempuan menjadi pendeta. Perempuan hanya boleh menjadi penatua dan toh pada kenyataannya kebanyakan penatua adalah pria. Inipun bagi saya begitu aneh. Menurut pemahaman saya, tidak ada dasar Alkitabiah yang cukup kuat untuk melarang perempuan menjadi pendeta.

Walaupun secara sinodal posisi UCA dan PCA kelihatannya sudah jelas, pada kenyataannya di tingkat jemaat, pendirian para anggota dan pejabat gerejanya bisa begitu berbeda. Ketika mengikuti Pemahaman Alkitab di PCA, para penatua yang memimpin Pemahaman Alkitab berbicara dengan jujur tentang ketidaksetujuan mereka mengenai kebijakan yang melarang perempuan menjadi pendeta. Para penatua bahkan berdoa agar posisi sinodal boleh berubah. Begitu juga di UCA, jemaat saya secara umum ternyata punya pendirian yang konservatif. Mereka tidak bisa begitu saja menerima pendirian sinode UCA tentang beberapa hal yang terlampau progresif dan liberal.

Hal semacam ini cukup langka di antara gereja-gereja di Indonesia, yang seringkali para pejabat gerejanya menerima apa saja posisi sinodal tanpa berani mengkritisinya karena kritik dianggap pemberontakan. Lebih menyedihkan lagi, ada anggota gereja yang harus diusir atau dipecat dari keanggotaannya karena memiliki pemikiran yang tidak persis sama dengan pendirian sinode tanpa ada kesempatan untuk berdialog dan bertukar pikiran.

Dalam Roma 14, Rasul Paulus menasihatkan jemaat di Roma untuk menerima semua orang yang percaya kepada Kristus dalam jemaat. Orang-orang yang “lemah imannya” harus diterima oleh mereka yang “kuat imannya”. Barangkali dalam peristilahan teologi kontemporer, pernyataan Paulus bisa kita parafrasekan: mereka yang konservatif harus diterima oleh mereka yang liberal. Pada masa Paulus pertentangan muncul di antara mereka yang makan daging yang telah dipersembahkan kepada dewa-dewa Romawi dan mereka yang tidak mau menyentuh makanan seperti itu. Ada pula pertentangan di antara mereka yang mendukung Hari Sabat dan mereka yang tidak lagi memandang Sabat sebagai satu-satunya hari ibadah. Mereka yang masih lebih berpegang pada pendirian konservatif Yahudi tentang aturan makanan dan hari-hari ibadah disebut sebagai mereka yang lemah imannya oleh Paulus. Mereka ini tidak boleh dikucilkan dan dihakimi secara sepihak oleh mereka yang kuat imannya, yaitu jemaat yang lebih progresif dan liberal dalam pemahaman mereka tentang tradisi keagamaan Yahudi. Paulus tidak menyetujui sikap saling menghakimi dan menjelek-jelekkan ketika ada perbedaan pemahaman tentang ajaran gerejawi. Bukankah dogma dan ajaran tidak menyelamatkan? Hanya Kristus yang menyelamatkan (bdk Rm 14: 9-10).

Apa yang menjadi pertentangan di jemaat kita masa kini? Apakah di antara mereka yang mendukung cara bermusik tertentu dengan mereka yang tidak suka cara bermusik itu? Apakah di antara mereka yang berpegang pada ineransi Alkitab dengan mereka yang menolak ineransi Alkitab? Baiklah kita tidak terjebak pada penghakiman-penghakiman sepihak tentang pendirian yang tidak kita setujui. Ini tidak berarti sebagai sebuah sinode kita tidak memerlukan pegangan ajaran yang baku dan disiplin gerejawi. Namun, sudah sepantasnya perbedaan pendapat tidak dikekang, melainkan diupayakan agar menjadi sarana perjumpaan dan dialog yang membangun untuk kebaikan gereja. Kalaupun kita tidak bisa menyetujui pendapat lain itu, kita tidak perlu membenci mereka yang berpendirian lain. Kita harus belajar untuk “menerima mereka yang lemah imannya” seperti nasihat Paulus. Yang paling terutama di dalam kehidupan berjemaat adalah “semua orang akan memuliakan Allah” (bdk Rm 14: 11). Jangan lupa pula, bahwa setiap orang dengan ajaran yang dipegangnya akan memberi pertanggungan jawab kepada Tuhan sendiri ( Rm 14: 12). Apakah sikap kita dalam menghadapi perbedaan sudah memampukan semua orang untuk memuliakan Allah? Apakah kita juga telah siap mempertanggungjawabkan ajaran yang kita percayai kepada Tuhan?

(Agustian N. Sutrisno)

Comments