Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Tentang Saksi-Saksi Yehova

diposting pada tanggal 9 Sep 2010 06.05 oleh Essy Eisen   [ diperbarui9 Sep 2010 06.06 ]
Gerakan Saksi-Saksi Yehova dan

Kedewasaan Warga Jemaat Gereja-Gereja di Indonesia

 

Pendahuluan

            Melalui sejarah perkembangan keagamaan kita dapat mencermati setidaknya dua hal: pertama, kelahiran sebuah agama memunculkan perubahan sosial di luar agama itu, kedua; dinamisitas terjadi juga di dalam diri agama sejak kelahirannya. Ini cukup beralasan karena agama berkaitan erat dengan manusia, dan manusia penuh dengan kompleksitas dalam usaha bersekutu dengan `The Ultimate Concern` melalui kekhasan dinamika kehidupannya yang tiada berkunjung akhir. Makalah ini setidaknya mencoba menempatkan diri di bawah bayang-bayang kenaifan di atas, namun dengan kesadaran bahwa `The Ultimate Concern` itu tetap Ultimate di tengah dinamisitas manusia.

            Gerakan Saksi-saksi Yehova (selanjutnya disebut GSSY)[1] sebagai sebuah gerakan keagamaan yang meretas dalam lingkungan protestantisme Amerika Serikat abad-19 sejak kelahirannya telah memunculkan langgam reaksi terutama dari lingkungan pe-retas-nya yaitu protestantisme. Langgam reaksi itu terus terjadi bahkan di tengah-tengah 'penyebarannya' ke luar dari tempat kelahirannya, sampai di Indonesia. Makalah ini akan mencoba membahas rekasi anggota-anggota jemaat gereja-gereja di Indonesia terhadap GSSY. Sebuah analisa akan dilakukan dalam melihat sejauh mana langgam reaksi ini mempengaruhi kehidupan bergereja dalam skope ekumenis, dan langkah-langkah apakah yang patut dipertimbangkan untuk menjaga signifikansi internal dan relevansi eksternal gereja sebagai kenyataan tubuh Kristus yang berkutat dalam dinamisasi progresif kepada penyataan kehadiran Kerajaan Allah.

 

1. Deskripsi Masalah

1.1. Sekilas sejarah GSSY[2]

          Gerakan ini dimulai oleh Charles Taze Russell, seorang protestan Amerika yang pernah menjadi skeptis karena kegagalannya mempertobatkan kawannya menjadi Kristen. Setelah berkutat sebentar dalam lingkungan Adventis, ia keluar dan mulai bereksplorasi secara mandiri dalam penelaahan Alkitab. Russel mendekati Alkitab dengan gagasan bahwa interpretasi terhadap Alkitab harus didasarkan pada penalaran manusia. Dengan menggunakan pendekatan ini ia mengembangkan teologi "Kebenaran yang Hadir"-nya yang dikarakterisasikan dengan penolakan kepada setiap doktrin Kristen utama dan mencapnya sebagai "tidak dapat dipahami dengan nalar, dan tidak alkitabiah", penolakannya terhadap organisasi keagamaan yang mapan dan kepada organisasi pemerintah merupakan karakterisasi lain yang berkembang dari teologinya ini. Gerakannya diminati oleh cukup banyak orang. Pada tahun 1884 dia mendirikan the Watchrower society sebagai sarana untuk mempublikasikan tulisan-tulisannya. Rusell menulis 13 buah buku, banyak artikel surat kabar yang berisikan "khotbah-khotbahnya", dan majalah periodikal Zion`s Watch Tower, yang kemudian menjadi Watchtower. Tulisan-tulisannya ini mewakili penelaahan Rusell terhadap Alkitab, di mana nuansa interpretasi kronologi dan profetis secara umum dibahas. Para pengikutnya meyakininya sebagai penyuara dari Allah, setingkat dengan rasul Paulus dan Martin Luther.

            Pada tanggal 31 Oktober 1916, karena sakit ia meninggal, dan digantikan oleh Joseph F. "Hakim" Rutherford. Tidak seperti pendahulunya Rutherford mengenyam pendidikan formal. Ia berprofesi sebagai pengacara (meskipun tidak pernah meraih gelar sarjana hukum). Seperti Russell, ia menganjurkan studi mendalam terhadap Alkitab. Rutherford lebih mengarahkan loyalti pengikutnya tidak lagi kepada pendiri (Russell) tetapi lebih kepada organisasi watchtower. Setelah dipenjara pada tahun 1918 karena menerbitkan literatur yang menolak perang, Rutherford lebih gencar melakukan "serangan-serangan" kepada pemerintah dan organisasi keagamaan. Ia juga memperbaharui doktrin peninggalan Russell dari penebusan dan pemulihan segala sesuatu kepada ketaatan kepada nama Yehova. Hal ini mengkristal dan mengakibatkan organisasi itu berubah nama menjadi Jehova`s Witnesses (Saksi-Saksi Yehova). Rutherford meninggal pada bulan Januari 1942.

            Ia digantikan oleh Nathan Knorr. Knorr mengikuti GSSY sejak usia 16 tahun. Di bawah kepemimpinannya gerakan ini mampu meningkatkan jumlah anggota dari 115.000 sampai lebih dari 2.000.000 pada tahun 1975. Di bawah kepimpinan Knorr jugalah GSSY menerjemahkan dan menerbitkan Alkitabnya sendiri yaitu New World Translation, yang selesai pada tahun 1950. Penekanannya lebih menuju kepada pendidikan dan pelatihan kepada pengikutnya. Ini memberikan dampak signifikan berupa pertambahan pengikut karena kefasihan mereka berargumen. Knorr meninggal karena kanker pada bulan Juni 1977. Kepemimpinan Knorr dilanjutkan oleh Fred W. Franz, seorang ahli interpretasi pada zamannya Knorr. Franz pernah mengambil studi bahasa Yunani di Universitas Cincinnati, pada tahun 1914 namun drop-out­. Kepemimpinanya berlanjut hingga sekarang.

            Demikianlah sekilas sejarah GSSY.[3] Dari runtutan sejarah perkembangannya, nyata terlihat bahwa Gerakan ini dengan segala atributnya mengalami perkembangan. Hal ini mengisyaratkan pengetahuan yang seaktual mungkin mengenai GSSY menjadi signifikan di dalam upaya mengerti gerakan ini.

 

1.2. Doktrin-Doktrin Utama GSSY.[4]

          Di tengah-tengah berkembangnya pemahaman mereka dari tahun ke tahun, terdapat juga beberapa doktrin yang terlihat stabil semenjak jamannya Russell. Beberapa rumusan doktrin yang stabil ini digali dari literatur yang dikeluarkan oleh GSSY.

a. Alkitab

            GSSY percaya bahwa Alkitab diilhami oleh Allah, dan menjadi sumber otoritatif bagi pembentukan doktrin dan kepercayaan. GSSY berpandangan dalam memahami Alkitab, iman kepada Yehova sebagai Ayah, perlu disokong dengan iman kepada organisasi gerakan ini sebagai Ibu.

b. Allah

          Hanya ada satu Allah yang nama-Nya ialah Yehova. Sepanjang sejarah kehidupan manusia, difokuskan kepada ketaatan akan nama Yehova, yang telah dikaburkan oleh pemberontakan Iblis dan kejatuhan manusia.

c. Yesus Kristus

          Yesus Kristus adalah ciptaan pertama dan terbesar yang dilakukan Allah. Ia dikenal sebagai Michael sang penghulu malaikat pada masa sebelum menjadi manusia dan merupakan agen utama Yehova dalam penciptaan. Selama berada di bumi, dia adalah manusia yang sempurna. Yesus mati sebagai tebusan bagi Adam sendiri, untuk memberikan kesempatan kedua bagi manusia dalam melayani Yehova. Yesus dibangkitkan oleh Yehova tidak dalam kedagingan tetapi sebagai sebuah makhluk roh. Setelah kenaikannya ke surga, ia ditinggikan karena ketaatannya, dan dia akan datang untuk menghakimi setiap orang yang menolak rencana keselamtan yang disediakan Yehova.

d. Roh Kudus

          "roh kudus" (tidak pernah diberi huruf besar) bukan Allah, atau pribadi manusia, tetapi lebih kepada kekuatan impersonal yang melakukan kehendak Yehova.

 

 

 

e. Trinitas

          Doktrin Trinitas adalah produk kekafiran dan disusun oleh Setan. Doktrin ini diperkenakan pada abad kedua sebagai sebuah hasil apostasi dari beberapa gereja, dan dirampungkan sebagai doktrin yag keliru pada konsili Nicea, dan konsili berikutnya.

f. Jiwa

          Manusia tidak menuju kepada pemilikan jiwa yang kekal, tetapi lebih kepada dirinya sendiri adalah "jiwa". Jiwa yang dibicarakan dalam Alkitab adalah nafasnya, dan mewakilkan kombinasi dari daging dan rohnya atau sebagai "kekuatan untuk hidup". Tidak berbeda dari jiwa binatang. Roh yang memberi kekuatan untuk hidup itu adalah kekuatan impersonal, sama seperti listrik. Pada saat kematian manusia musnah secara keseluruhan. Doktrin mengenai hidup yang kekal aslinya berasal dari kalangan kafir.

g. Hukuman kekal

            GSSY sangat kuat menentang doktrin mengenai penghukuman kekal, sebagai sebuah kelanjutan dari pemeliharaan pemahaman penemunya Charles Russell. Tidak ada penghukuman kekal bagi orang jahat. Kematian adalah hukuman terakhir, orang yang benar akan dibangkitkan untuk mendapatkan hidup yang kekal pada saat pembangkitan.

h. Kebangkitan

            Kebangkitan bukan restorasi seorang individu dengan penggabungan jiwanya dengan tubuh kebangkitan; namun merupakan penciptaan ulang  seorang individu. GSSY meyakini adanya 3 kebangkitan:

-          Kebangkitan pertama: Ini adalah kebangkitan Roh, dan hanya terjadi di dalam diri Yesus dan 144.000 pengikutnya yang terpilih. Tidak ada seorangpun yang dibangkitkan dari 144.000 orang itu sampai tahun 1918, setelah kedatangan Yesus kedua kali yang tidak kelihatan pada tahun 1914. Pada kebangkitan ini seseorang menerima tubuh roh yang tidak nampak melalui pengelihatan mata telanjang.

-          Kebangkitan untuk Kehidupan: Ini merupakan kebangkitan di bumi, yang mana orang mati dibangkitkan secara fisik. Termasuk di dalam kebangkitan ini adalah (1)mereka yang setia imannya sebelum jaman Kristus di bumi (nabi-nabi PL dan orang-orang kudus) (2) "domba yang lain"-Saksi-saksi Yehova yang setia yang telah mati sebelum Armagedon. Kebangkitan ini akan nampak pada permulaan milenium, masa 1000 tahun pemerintahan Kristus, Orang jahat yang berdosa kepada roh kudus tidak dibangkitkan

-          Kebangkitan pada saat penghakiman: Kebangkitan yang terakhir, yang muncul setelah Armagedon, termasuk orang yang belum pernah mendengar Injil.

i. Keselamatan

          Menurut doktrin mereka hal ini dimengerti dalam dua perspektif kelas, yaitu "jemaat Allah" ("kelas yang dipilih", "sisa-sisa", "144.000"), dan "kumpulan besar manusia". "Jemaat Allah" berharap dapat bersatu dengan Kristus di Surga, jika mereka tetap setia dalam organisasi. Berada di dalam surga dunia, merupakan harapan dari "kawanan besar manusia" itu. Kelas ini termasuk mayoritas saksi-saksi Yehova. Keselamatan bagi "kawanan besar" tidak hanya dengan iman, meskipun iman kepada Yehova dan kepada anak-Nya Yesus Kristus dibutuhkan. Keselamatan pada dasarnya dengan usaha sendiri. GSSY memberikan 4 syarat bagi keselamatan: (1) Pengetahuan akan kehendak Allah, (2) ketaatan, (patuhi hukum Allah), (3) asosiasi dengan "saluran Allah" melalui GSSY, untuk dapat masuk ke dalam surga dunia (4) bersaksi.

 

j. Pemerintah

          Semua pemerintahan yang dilakukan oleh manusia berada dibawah kendali setan. Semua agama tentunya berada di bawah perintah setan pula, secara khusus gereja-gereja yang beroganisasi (gereja yang ada). Semuanya ini akan dihancurkan pada perang Armagedon, yang sesudahnya Yehova akan mendirikan kerajaanya di bumi.

 

k. Kedatangan kedua kali

            Walaupun Russell mengatakan Kristus kembali secara tidak kelihatan pada 1874, dan Armagedon akan terjadi pada 1914, doktrin terakhir GSSY, mengungkapkan bahwa Yesus datang kembali secara tidak kelihatan pada 1914.

 

Inilah secara singkat doktrin-doktrin utama dari GSSY. Setiap doktrin ini dikatakan sangat asli alkitabiah. Lebih lagi GSSY  mengklaim berada dalam harmoni yang sempurna dengan ajaran para rasul dan jemaat Kristen mula-mula. Pada masa sekarang GSSY juga menegaskan dan mempermurni keaslian doktrin mereka dengan meneliti karya-karya pada bapa gereja mula-mula.[5]

 

1.3. GSSY di Indonesia

          GSSY marak di Indonesia pada dasawarsa 1960-an dan 70-an di Indonesia. Dengan kekhasan mereka yaitu mendatangi rumah-rumah kristen maupun non-kristen dan melakukan "penginjilan" sesuai dengan metode mereka, (disertai penjualan buku, pembagian brosur dan traktat), GSSY dilarang beroperasi di Indonesia dengan dikeluarkannya SK Jaksa Agung RI. No. Kep. 129/JA/12/1976 tanggal 7 Desember 1976. Di tengah kebekuannya itu mereka masih tetap berusaha eksis meskipun dengan menyamar sebagai yayasan penginjilan atau sebagai persekutuan doa tertentu.[6] Namun nampaknya mereka menemukan kelegaan pada awal abad 21 ini, karena lewat SK Jaksa Agung no. Kep-255/A/JA/06/2001 tanggal 1 Juni 2001, GSSY memperoleh kebebasannya untuk "beroperasi" kembali di Indonesia.

 

2. Analisa

2.1. Reaksi terhadap GSSY

          GSSY memiliki kekhasan sebagai sebuah gerakan keagamaan. Sebagai sebuah "aliran gereja", tentunya reaksi terbesar muncul dari kalangan gereja khususnya gereja-gereja arus utama. Berikut ini akan ditelaah reaksi-reaksi yang muncul, pertama sekali di daerah asal kelahirannya dan kemudian di Indonesia. Sebenarnya reaksi-reaksi juga muncul di daerah-daerah lain selain kedua daerah ini, namun sebagai fokus pembahasan maka disajikan dua saja.

a. Reaksi di Amerika Serikat

          Reaksi yang muncul di AS beragam, beberapa hal dapat sisebutkan, yakni: Reaksi fisik berupa penyerangan langsung kepada objek-objek yang berkaitan dengan GSSY,[7] reaksi "counter" wacana melalui buku-buku,[8] brosur dan literatur yang dikeluarkan oleh gereja-gereja arus utama. Reaksi ini ditanggapi oleh kalangan GSSY dengan membawanya ke pengadilan bahkan sampai ke mahkamah agung, jika ada reaksi yang membatasi ruang gerak mereka. Patut untuk diketahui AS menganut dan memberikan kebebasan penuh untuk beragama bagi setiap warganya.[9] Di samping itu terdapat batasan yang jelas dalam hubungan antara gereja[10] dan negara, yang mengisyaratkan bahwa negara tidak berhak sedikit pun turut campur dalam kehidupan gereja, entah itu mencampuri masalah ajaran maupun menetukan sesat atau salahnya ajaran suatu agama dengan alasan apapun. Olehnya reaksi gereja-gereja terhadap GSSY di AS lebih bersifat lepas. GSSY diperhadapkan dengan hukum sejauh mereka memang terbukti melanggar hukum, semisal karena kegiatannya kehidupan, kemanan dan kertiban masyarakat menjadi terganggu dan terancam. Di AS sendiri kasus yang berkaitan dengan GSSY yang diajukan ke mahkamah agung a.l.[11]: Penginjilan di tempat umum, masalah perpajakan, anak-anak selaku penginjil, tranfusi darah, hormat kepada bendera. Keputusan dari kasus itu bervariasi. Dalam beberapa kasus GSSY menang dan ada beberapa kasus mereka kalah. Umumnya kemenangan mereka ialah apabila itu berkaitan dengan penyebaran agama (yang memang bebas) maka mereka bisa dipastikan menang, namun apabila kasus itu berkaitan dengan; pelecehan agama seseorang, penindasan hak-hak anak kecil, dan kasus-kasus lain yang berkaitan dengan kedamaian dan ketertiban, maka mereka berkemungkinan untuk kalah.

 

b. Reaksi di Indonesia

            Pasca keputusan jaksa agung tahun 2001, soal pencabutan keputusan pelarangan, gereja-gereja (tidak hanya arus utama) memberikan rekasi yang cukup keras. Dalam sebuah kesempatan pembahasan antara gereja-gereja tentang "hadirnya kembali" GSSY di Indonesia setelah lama "dibekukan", di Jakarta[12] penulis mendapatkan sedikit gambaran mengenai reaksi gereja-gereja atau bisa juga dikatakan anggota-anggota jemaat gereja-gereja di Indonesia perihal kehadiran GSSY kembali. Penulis membaginya ke dalam tiga bagian:

-          pertama, ialah anggota-anggota Jemaat yang dengan tegas menolak kehadiran GSSY, baik dengan adanya keputusan ataupun tidak. Dapat dikatakan mereka anti GSSY. Alasan yang mereka kemukakan ialah; bahwa tidak ada alasan yang dapat diterima mengenai ajaran GSSY. Dalam banyak segi ajaran GSSY menyimpang dari apa yang diyakini. Olehnya sah menyebut GSSY sebagai aliran sesat. Tidak ada kompromi.

-          Kedua, ialah anggota-anggota jemaat yang mengambil pendapat pasca SK Jaksa Agung 2001. Mereka berpandangan jika memang karena konsideran kebebasan beragama, kebebasan berdemokrasi, dan kebebasan asasi, GSSY diperbolehkan untuk hadir di Indonesia, maka perlu ada penegasan tambahan perihal status GSSY. Pada SK Jaksa Agung 2001, pembinaan GSSY dimasukan ke dalam Dirjen Bimas Kristen di Departemen Agama, ditambah tim pengawas aliran kepercayaan. Hal ini mengasumsikan bahwa GSSY itu Kristen, sedangkan di dalam kekristenan GSSY dianggap sesat. Pada pandangan kedua ini dituntut sebuah pengakuan dari pemerintah yang dipublikasikan perihal status GSSY. Hal yang mendasari ini bagi mereka ialah; bahwa di tengah kemajemukan yang ada mereka tidak mau menjadi korban akibat penginjilan "ekstrim" yang dilakukan GSSY kepada masyarakat. Jangan sampai ada salah duga, karena public opinion cenderung menilai GSSY sebagai Kristen.

-          Di samping hal-hal di atas ada juga yang berpandangan bahwa kehadiran GSSY tidak perlu diperhatikan sebagai sebuah masalah terkecuali mereka memang telah melanggar hukum. Yang perlu adalah konsolidasi ke dalam untuk membendung arus yang datang.

 

Dari reaksi-reaksi yang muncul terdapat beberapa gagasan pokok, yaitu: Terdapat perbedaan ajaran yang cukup vital dan mendasar antara GSSY dan gereja-gereja. Tetapi tanpa menutup mata dan telinga ada juga yang mirip. Hal ini tidak aneh mengingat GSSY mengakar kepada kekristenan. Ketakutan-ketakutan yang terungkap dari gereja-gereja yang ada ialah; mereka takut GSSY sanggup merangkul anggota-anggota gereja mereka, lalu mereka juga takut masyarakat umum salah mengerti dan mencap GSSY sebagai kristen, sehingga apabila karena kegiatannya GSSY menimbulkan masalah, maka gereja-gereja yang tidak bersalah akan ikut terkena masalah. Setidaknya lalu menjadi penting melihat apakah GSSY bisa disebut kristen?

            Jika kita memperhatikan mulai dari sejarah perkembangannya maupun doktrin-doktrin yang ada, tidak terlampau sulit untuk membuat perbedaan dan persamaan. Mungkin salah satu jalan penyelesaian adalah menggunakan metode klasikal kristen, semacam konsili. Apapun keputusan yang keluar itulah keputusannya. Tetapi apakah ini lalu menjadi selesai? Sejarah dengan tegas mengatakan tidak sepenuhnya! Dengan demikian pembedaan mungkin saja bisa berpengaruh dan mungkin juga tidak. Di dalam konteks majemuk Indonesia, nampaknya memang perlu pembedaan dan kejelasan status GSSY. Reaksi yang ada di AS nampaknya dapat menjadi prototipe yang perlu dipikirkan. Penulis melihat upaya pemerintah lewat Jaksa Agung hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh Pemerintah AS perihal kebijakan terhadap GSSY. Namun ada satu hal, yang berbeda. Konteks Indonesia yang mayoritas muslim memberikan form "Bimas" sebagai kekhasannya. Inilah yang menjadi kendala. Inilah juga yang kemudian menimbulkan ketakutan-ketakutan eksternal gereja-gereja dengan hadirnya GSSY.

 

Kesimpulan

          Sejak kelahirannya GSSY telah menimbulkan reaksi. Namun karena tempat kelahirannya adalah negara yang menjamin penuh kebebasan beragama, maka tidak terdapat kendala yang berarti. Kebijakan bagi GSSY di Indonesia mungkin sudah tepat, jika Indonesia dengan kompleksitasnya mau belajar menjadi negara-bangsa yang mandiri dan menghargai demokrasi. Permasalahan yang muncul adalah ketakutan internal dan eksternal gereja-gereja dalam menghadapi GSSY. Internal mereka takut jika GSSY "mencuri" jemaat mereka, "eksternal" ialah ketakutan dampak yang ditimbulkan akibat "penginjilan yag ekstrim dari GSSY ini.

            Sebagai sebuah pilar civil society gereja dapat membantu mewujdkan masyarakat yang dewasa dengan turut ambil serta. Sudah sepatutnya negara tidak mencampuri urusan keagamaann, baik itu penilaian ajaran dsb. Gereja dapat mulai memikirkan tindakannya yang menuju kepada kedewasaan. Sikap yang merengek-rengek minta bantuan negara untuk menyelesaikan masalah internal mereka, itu merupakan preseden buruk jika mau menuju kepada kedewasaan. Mewujudkan kedewasaan gereja berarti mengajak gereja untuk menghargai dan berusaha mengurus dirinya sendiri. GSSY dapat menjadi alat yang baik menuju proses kedewasaan itu. Menjadi dewasa juga gereja menjadi gereja yang berada dinamis progresif, dengan tidak lagi terlalu mempersoalkan hal-hal yang justru malah menahan gereja untuk berkembang. 

 

Daftar Pustaka

Aritonang Jan. S., Berbagai aliran di dalam dan sekitar Gereja, Jakarta:BPK-  GM, 2000

Braswell George W., Understanding Sectarian Groups in America, Nashville:    Broadmen Press, 1986

Finnerty Robert U., Jehova`s Witnesses on Trial: The testimony of the early church      fathers, New Jersey:P&R Publishing, 1993

Moland, Chritendom:Christian Churches, Their doctrines, Constitutional form, and ways        of Worship, London:A.R. Mowbray, 1959

Neve J.L., Churches and Sects of Christendom, Nebraska: Lutheran Publishng House,            1952

Buku panduan :Dialog Interaktif: Mencermati kegiatan saksi Yehova dalam masyarakat       majemuk Indonesia di GIA Pegangsaan, 10 November 2001. (tidak diterbitkan)

 

 



            [1]Merupakan terjemahan dari Jehova`s Witnesses. dalam beberapa literatur kadang diterjemahkan menjadi saksi Yehova, sebenarnya Witnesses harus diartikan jamak, olehnya menjadi saksi-saksi.

            [2]Disarikan dari Robert U. Finnerty, Jehova`s Witnesses on Trial: The testimony of the early church fathers, (New Jersey:P&R Publishing, 1993), hlm. 11-15.

            [3] Untuk pembahasan lebih lengkap lihat juga: Jan. S. Aritonang, Berbagai aliran di dalam dan sekitar Gereja, (Jakarta:BPK-GM, 2000), hlm. 316-333, J.L. Neve, Churches and Sects of Christendom, (Nebraska: Lutheran Publishng House, 1952), hlm.470-472., dan Einar Moland, Chritendom:Christian Churches, Their doctrines, Constitutional form, and ways of Worship, (London:A.R. Mowbray, 1959), hlm. 341-346.

            [4]Finnerty, Op.cit., hlm. 15-22.

            [5]Sejauh mana validitas pernyataan ini, lih. Ibid., hlm. 23-141.  

            [6]Aritonang, Op.cit., hlm. 316.

            [7]Ronald B. Flowers., That Godless Court?:Supreme Court decisions on Church-State relationship, (Kentucky:Westminster, 1994), hlm.26.

            [8]Sebagai contoh lih. George W. Braswell, Understanding Sectarian Groups in America, (Nashville: Broadmen Press, 1986), hlm. 62-101.

            [9]Ibid., hlm.9-26.

            [10]Sebenarnya tidak terbatas kepada gereja saja namun kepada semua agama yang ada di AS, namun istilah gereja menjadi lebih sering dipakai. Lih. Ibid., hlm. ix.

            [11]Ibid., hlm.23-28.  

            [12]Dialog Interaktif : "Mencermati kegiatan saksi Yehova dalam Masyarakat majemuk Indonesia, di GIA Pegangsaan, 10 November 2001.

Comments