Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Simeon, Hana dan Kita

diposting pada tanggal 23 Des 2011 20.09 oleh Essy Eisen
Lukas 2: 21-40

Adakah di antara saudara yang suka menunggu? Menunggu bagi kebanyakan orang tidak enak. Belum lama ini di akhir tahun saya mengunggu di bank untuk menabung. Ternyata antriannya panjang sekali karena itu adalah hari terakhir transaksi tahun 2008. Ada lebih dari 10 orang di depan saya. Dibutuhkan waktu satu jam lebih sebelum saya bisa sampai ke meja teller. Harus saya akui, menunggu terasa tidak menyenangkan. Akhirnya satu jam terbuang.

Itu baru satu jam. Bagaimana kalau kita harus menunggu bertahun-tahun untuk satu hal? Apalagi jika yang kita tunggu-tunggu itu adalah sesuatu yang dijanjikan Allah sendiri langsung kepada kita? Bagaimana rasanya? Pembacaan Injil kita hari ini menghantar kita bertemu dengan Simeon, seorang Israel yang setia menantikan janji Allah tentang datangnya seorang Mesias. Simeon telah menerima janji dari Roh Kudus sendiri bahwa ia tidak akan mati sampai ia menjumpai Mesias yang dijanjikan Allah.

Lukas tidak secara spesifik menyebutkan berapa lama Simeon sudah menunggu dan berapa usianya saat itu. Tetapi kebanyakan ahli tafsir memperkirakan usianya sudah sangat lanjut ketika menemui Maria, Yusuf dan bayi Yesus di Bait Allah, karena kata-kata “Sekarang Tuhan biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan FirmanMu” (ay 29). Yang jelas dicatat Alkitab adalah bahwa Ia orang yang benar dan saleh. Tahun-tahun penantian akan Mesias itu tidak membuat Simeon menjadi orang yang melupakan Tuhan karena janjiNya seolah-olah tak pernah terjadi. Ia malah bertumbuh menjadi orang yang sangat dekat dengan Tuhan. Karena kedekatan inilah, Simeon pada hari itu bisa bertemu dengan Mesiasnya. Roh Kudus yang telah memberikan janji kepadanya juga menuntun dia untuk masuk ke Bait Allah dan mengenali bayi kecil Yesus sebagai juru selamat yang ditunggu-tunggu untuk membawa kelepasan.

Dari Simeon, kita melihat bahwa janji dan firman Allah memang pasti digenapi, tetapi soal kapan itu ditepati, itu adalah hak Allah untuk menentukannya. Mungkin janji itu digenapi hari ini, besok, minggu depan, tahun depan, atau bertahun-tahun lagi, atau bahkan baru menjelang ajal. Tugas kita sepanjang saat penantian itu adalah tetap setia, tetap hidup “benar dan saleh” dan dengar-dengaran dengan perkataan Roh Kudus. Percayalah bahwa “Ia yang menjanjikannya setia” (Ibr 10:23). Kita juga melihat bahwa Roh Kudus berperan penting dalam seluruh kehidupan Simeon. Dialah yang memberikan janji itu tentang Mesias dan Dialah juga yang menuntun Simeon untuk mengenali bayi mungil di Bait Allah sebagai Mesiasnya. Adakah kita juga membiarkan Roh Kudus menuntun kehidupan kita sementara menanti penggenapan janji dan firman Allah?

Dalam buku Too Busy Not to Pray, dikisahkan seorang pendeta menemui seorang wanita yang menangis sangat keras di teras gereja. Pendeta itu bertanya, “Mengapa Anda menangis?” Wanita itu menjawab, “Ibu saya dibaptis hari ini.” “Bukankah itu kabar baik, mengapa ibu menangis?” Wanita itu bercerita ia sudah lama berdoa agar ibunya bertobat. Ia percaya bahwa janji keselamatan Allah juga berlaku bagi ibunya. Setelah lima tahun berdoa, ia mulai ragu apakah Allah akan menjawab doanya, tetapi ia terus berdoa. Setelah sepuluh tahun berdoa, ia merasa dirinya amat bodoh, menantikan Allah akan bertindak, tetapi ia terus berdoa. Setelah lima belas tahun berdoa, ia sudah putus asa. Agaknya Allah tidak akan bertindak apa-apa. Dua puluh tahun kemudian, barulah si ibu wanita itu akhirnya dibaptis. Wanita itu berseru, “Akhirnya, Allah bertindak dan saya tidak akan pernah meragukan lagi kuasa Allah.” Allah tidak harus segera menggenapi janjiNya. Ia punya pengaturan waktu sendiri. Kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan pengaturan waktu Allah. Namun yakinlah, Allah akan mengerjakan apa yang menjadi bagianNya juga. Kesabaran menantikan penggenapan janji Allah adalah aspek pertama yang kita pelajari dari bacaan kita hari ini.

NKB 60 bertanya, “Gerangan bayi apakah yang di pangkuan Maryam?” Melalui penuturan Simeon, kita bisa menemukan sebagian jawaban dari pertanyaan yang ditanyakan oleh banyak orang ini. Bayi yang digendong Maria itu tidak lain adalah Mesias yang sudah dijanjikan berabad-abad yang lalu. Bayi Yesus, yang pada waktu itu barangkali baru berumur satu bulan lebih, mengingat upacara pentahiran baru bisa dilaksanakan jika seorang bayi laki-laki berumur 30 hari sesuai dengan isi Taurat. Reaksi Simeon ketika melihat Yesus adalah menyambut dan menatangNya. Ia memuji Allah karena matanya boleh melihat “keselamatan yang daripadaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu Israel.” Jelaslah, bahwa Yesus menurut kesaksian Injil Lukas adalah Juruselamat bukan hanya bagi umat Israel, tetapi juga terang bagi segala bangsa. Kesaksian Hana kepada semua orang tentang bayi ini semakin memperkuat fakta bahwa dalam Lukas 2: 21-40, kita tidak berhadapan dengan bayi biasa-biasa saja. Dia sungguh adalah Mesias yang dinantikan itu.

Saudara-saudara, kita sekarang mengetahui semua hal ini melalui Alkitab, melalui pemberitaan gereja dan catatan sejarah itu sendiri. Namun Simeon dan Hana tidak punya semua itu. Mereka hanya melihat bayi berumur satu bulan yang belum bisa apa-apa dan dibawa oleh orang tuanya yang sederhana dari Nazaret, yang hanya sanggup mempersembahkan tekukur dan merpati, bukan kambing atau domba yang merupakan korban pentahiran utama bagi mereka yang mampu. Bagaimana mereka bisa percaya dan beriman bahwa bayi yang masih kemerahan ini adalah Mesias bagi dunia? Mereka pertama-tama percaya bahwa Allah akan menggenapi janjiNya. Mereka ini mencerminkan iman Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Iman kedua orang tua ini adalah iman yang super yang tidak perlu tahu sama sekali dari peristiwa sejarah. Mereka sanggup melihat dengan mata iman bertahun-tahun ke muka. Simeon bahkan bisa menasihati Maria dalam ayat 33-35, bahwa anak ini akan menjadi tanda yang besar bagi Israel dan juga menjadi pedang yang membawa kesedihan bagi dirinya.

Akan tetapi, iman kita yang kecil juga mempunyai persamaan juga dengan iman mereka yang besar. Simeon, Hana, saya dan saudara semua tak pernah melihat Yesus disalibkan, dikuburkan lalu dibangkitkan. Namun dengan iman kita semua percaya Ia adalah Mesias. Kita semua di sini juga adalah pewaris iman Simeon dan Hana. Bagi Simeon, Hana dan kita semua yang percaya berlakulah perkataan Yesus, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:29). Keyakinan iman ini adalah pokok kedua dari bahasan kita akan Lukas 2:21-40.

Pada akhirnya, saudara-saudara, perjumpaan dengan Yesus, walaupun dalam bentuk bayi, tidak bisa menghasilkan iman yang diam dan berpangku tangan. Biarpun yang dihadapinya hanyalah bayi kecil, Hana tidak bisa berdiam diri. Ia memberitakan hal ini kepada semua orang. Bayangkanlah betapa bingungnya orang-orang mendengar bahwa bayi berumur satu bulan ini adalah Mesias?

Hana tidak berhenti dengan bersyukur saja karena telah melihat sang Mesias. Ia melanjutkan kabar sukacita ini kepada “semua yang menantikan kelepasan bagi Yerusalem”, walaupun usianya sudah 84 tahun. Bagaimana dengan kita yang lebih muda? Adakah iman kita hanyalah iman yang diam saja? Ataukah kita juga mau ambil bagian dalam menyaksikan karya keselamatan Allah yang dimulai sejak kelahiran Yesus?

Kiranya bersama dengan Simeon dan Hana, kita menjadi umat yang semakin yakin akan kegenapan janji Allah, semakin beriman pada Mesias yang sudah datang dan semakin rajin mengabarkan sukacita kedatangan Mesias kepada dunia ini. Kiranya ketiga pokok pelajaran ini menjadi bekal kita dalam menghayati masa raya Natal. Semoga sukacita masa raya Natal mendorong kita semua melakukan semua ini demi kemuliaan Allah Bapa melalui PutraNya, Yesus Kristus dan dalam persekutuan dengan Roh Kudus.

Agustian Sutrisno
Comments