Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Setiap orang yang mau mengikut Aku…

diposkan pada tanggal 2 Sep 2011 20.55 oleh Essy Eisen
Matius 16: 21-28

Saya baru saja berbicara dengan seorang teman Indonesia yang juga kandidat PhD di universitas saya di Brisbane. Kami berbicara tentang mengikut Kristus di Indonesia dan Australia. Di Indonesia, walaupun mendirikan gereja sulit dan mempertahankan integritas serta kejujuran tidak mudah, secara umum orang-orang masih menghormati agama dan menganggap penting hidup spiritual. Di Australia, sebaliknya mendirikan gereja relatif mudah. Barangkali malah terlalu mudah, sehingga sekarang ada terlalu banyak gedung gereja, dan ketika pengunjung gereja menurun jumlahnya, gedung-gedung itu akhirnya dijual dan beralih fungsi menjadi toko, restoran, rumah, dan bahkan diskotik. Akan tetapi, kehidupan spiritual terus merosot dan bahkan kebudayaan ini sangat anti agama.

Saat ini di Mahkamah Agung Australia sedang disidangkan perkara melawan Scripture Union Australia. Ada pihak-pihak yang mengajukan tuntutan agar program chaplaincy (konselor agama di sekolah-sekolah negeri) yang dikelola oleh Scripture Union dihapuskan dan subsidi pemerintah untuk para konselor ini dihentikan sama sekali. Kaum ateis dan sekuler ekstrem ini begitu menentang nilai-nilai Kekristenan dan dengan terang-terangan mengupayakan agar Kekristenan dan juga segala jenis agama dihapuskan dari kehidupan publik.

Di manapun di seluruh dunia dan di segala zaman, mengikut Kristus tidak senantiasa mudah. Kepada murid-muridNya, Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Mengikut Kristus membutuhkan tiga tindakan. Pertama, kita perlu menyangkal diri kita. Ini berarti kita perlu meninggalkan keinginan, nafsu, dan kesenangan kita yang bertentangan dengan upaya kita mengikuti Kristus. Ada kalanya mengikut Kristus bisa dilakukan dengan membawa kesenangan dan sesuai dengan keinginan pribadi kita. Namun, ada kalanya mengikut Kristus tidak bisa dilakukan tanpa menyangkali hal-hal yang begitu menyenangkan bagi kita.

Kedua, kita perlu memikul salib. Salib adalah lambang penderitaan tetapi juga lambang kemenangan bagi mereka yang beriman. Di atas salib, Kristus mengorbankan diriNya dan menanggung penderitaan. Jika Tuhan dan guru kita melewati jalan penderitaan, maka kita juga perlu siap sedia dari waktu ke waktu untuk menanggung derita itu. Namun, dari jalan derita itu, Kristus muncul sebagai pemenang. Tuhan Yesus berkata, “tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Bagi kita yang sedia memikul salib, Tuhan menjanjikan bahwa kita akan memperoleh kemenangan bersama Dia.

Ketiga, kita perlu mengikut Dia. Dalam Alkitab versi the Message dikatakan, “Anyone who intends to come with me has to let me lead. You’re not in the driver’s seat; I am.” (Barangsiapa ingin bersama Aku harus membiarkan Aku memimpin. Kamu tidak ada di kursi pengemudi; Aku yang ada di situ). Kita harus mengikuti pimpinan Yesus dan membiarkan dia menjadi juru mudi kehidupan kita. Kita perlu mengalihkan kontrol atas kehidupan kita, dari diri kita sendiri kepada Tuhan Yesus.

Menghadapi dunia yang tidak menerima Kekristenan, Tuhan Yesus sendiri memanggil kita untuk menerima fakta bahwa mengikut Dia bukan tugas yang mudah. Ini tidak berarti bahwa Kekristenan hanya berisi kesusahan dan ketidaksenangan. Sekali-kali tidak! Akan tetapi, mereka yang mengikut Kristus perlu siap menghadapi kesulitan: menyangkali diri, memikul salib dan mengikut Dia. Kiranya Tuhan Yesus sendiri menolong kita untuk mengikutiNya.

(Agustian N. Sutrisno)
Comments