Serba-Serbi Jabatan Gerejawi

diposkan pada tanggal 9 Sep 2010 06.02 oleh Essy Eisen   [ diperbarui18 Nov 2010 23.40 ]

Serba Serbi Jabatan Gerejawi GKI

 

Apa itu Jabatan Gerejawi?

Jabatan Gerejawi adalah posisi dan fungsi khusus dalam pelayanan yang ada di gereja, yang bermula dari panggilan Allah melalui Kristus oleh kuasa Roh Kudus –melalui gereja– yang digunakan untuk membangun gereja.[1] Dari pemahaman ini jelas terlihat bahwa Jabatan Gerejawi itu pertama sekali harus dimaknakan sebagai sebuah panggilan spiritual, karena ia tidak berangkat dari pemahaman tugas organisasional gerejawi semata, tetapi bermula dari panggilan Allah Tritunggal, melalui gereja (Efesus 4:11-16). Titik berangkat ini penting, karena acapkali pengemban Jabatan Gerejawi merasa bahwa ia memangku jabatannya karena dorongan dan ajakan dari Majelis Jemaat atau Pendeta-nya saja atau karena dipilih oleh Jemaat. Memang benar, ada mekanisme seperti pemanggilan, pencalonan, penetapan, pembekalan dan peneguhan yang rapi dan terkesan amat organisasionalistis. Bahkan kalau untuk Jabatan Pendeta harus dilengkapi studi teologi, kaderisasi dan persiapan yang panjang. Tetapi GKI memahami di balik proses itu panggilan dan karya Allah -melalui prinsip Kristokrasi-[2] juga nyata hadir dan bekerja. Titik berangkat yang keliru dalam memaknakan jabatan gerejawi yang diemban akan mengakibatkan pejabat gerejawi cenderung menjalankan tugas-tugasnya dalam pola-pola kepemimpinan sosial yang kering, kaku, penuh beban, kehilangan antusiasme dan keceriaan dalam melayani yang pada akhirnya pembangunan gereja menjadi tidak efektif. Ini bukan berarti kemampuan-kemampuan manajerial dengan memanfaatkan ilmu-ilmu tata organisasi menjadi tidak penting, melainkan setiap pejabat gerejawi, seharusnya memaknakan jabatannya secara utuh baik secara teologis maupun sosiologis. Pemaknaan terhadap jabatan gerejawi ini turut mempengaruhi efektifitas pembangunan gereja. Jika pejabat gerjeawi mengedepankan pemaknaan sosiologis, maka ia telah mengkerdilkan gereja hanya menjadi institusi-organisasi voluntaris yang bersifat kemanusiaan belaka. Padahal gereja bukan sekadar organisasi. Gereja adalah organisme, yang mendapat pertumbuhan-Nya dari Allah sendiri. Gereja bertumbuh dan membangun dirinya ke arah Kristus yang adalah kepala. Sumber keberadaan Gereja bukan pada dirinya sendiri, tetapi karena anugerah Allah di dalam dan melalui Kristus oleh karunia Roh Kudus. Oleh sebab itu, gereja harus selalu memandang Kristus, menerima pembaruan Kristus dan melanjutkan karya kasih Kristus dengan kreatif di tempat di mana ia diutus. Upaya-upaya inilah yang menjadi bukti gereja mau dibangunkan oleh Allah dan membangun juga dirinya. [3]

 

Apa bedanya Pejabat Gerejawi dengan Anggota?

Seringkali beban pekerjaan melayani ditumpahkan kepada para pejabat gerejawi karena mereka dianggap “lebih” ketimbang anggota biasa. Padahal pada hakikatnya, para pejabat gerejawi itu juga adalah anggota gereja! Perhatikan nomor induk keanggotaan Pendeta dan Penatua, tidak ada kode-kode khusus di sana. Jadi, baik pejabat gerejawi maupun anggota, ada dalam keutuhan sebagai pelaku-pelaku pembangunan gereja dalam rangka berperanserta mengerjakan misi Allah di Indonesia dengan bersekutu, bersaksi dan melayani. Perbedaan yang ada hanyalah dalam kadar fungsional. Setiap anggota diberikan talenta dan karunia rohani oleh Allah untuk membangun gereja-Nya. Dalam keutuhan anggota-anggota itu, ada anggota-anggota yang dipanggil untuk menjalankan fungsi pelayanan kepemimpinan sebagai pejabat gerejawi, dan ada yang dipanggil menjalankan fungsi-fungsi pelayanan umun sesuai talenta mereka. Oleh sebab itu perbedaan dalam arti hierarkis antara anggota dan pejabat gerejawi tidak pernah diterima dan harus ditolak dengan tegas di GKI. Hubungan antara anggota dan pejabat gerejawi adalah hubungan fungsional yang timbal balik dan dinamis karena kasih Kristus.

 

Ada berapa Jabatan Gerejawi di GKI?

Ada dua. Penatua dan Pendeta. Fungsi utama mereka adalah memimpin dan membangun gereja (dalam arti utuh, terutama spiritual). Mereka menjalankan kepemimpinan fungsional sendiri-sendiri tetapi juga secara bersama-sama (kolektif) dalam kerekanan yang saling berhadapan (kolegial). Dalam lingkup jemaat kepemimpinan kolektif-kolegial itu berwujud dalam Majelis Jemaat. Dalam lingkup klasis berwujud Majelis Klasis. Dalam lingkup Sinode Wilayah berwujud Majelis Sinode Wilayah. Dalam lingkup Sinode berwujud Majelis Sinode. Seringkali ada salah penyebutan di sini. “Saya sudah tidak jadi Majelis lagi” keliru. Sebab, “Majelis” itu kumpulannya, bukan jabatan. Yang benar; “Saya sudah tidak jadi Penatua lagi”. Dalam kaitan dengan kemajelisan, GKI tidak mengenal tingkatan-tingkatan, melainkan lingkup. Oleh sebab itu, jika seorang penatua mengikuti persidangan klasis, kini ia menjadi anggota Majelis Klasis, begitu juga dengan Sinode Wilayah dan Sinode. Dalam lingkup tidak dikenal istilah “lebih tinggi”, melainkan “lebih luas”. Seorang penatua dari jemaat GKI Citra 1 yang melayani dalam lingkup sinode sebagai anggota Badan Pekerja Majelis Sinode misalnya, tidak lebih tinggi kehormatannya ketimbang penatua dari rekan-rekannya di GKI Citra 1 dan rekan penatua di jemaat GKI lainnya. Begitu juga dengan Pendeta. Yang dimaksud “lebih tinggi” itu acapkali mungkin yang dipahami berhubungan dengan keputusan-keputusan sinodal. Namun keputusan-keputusan ini pun sebenarnya tidak “lebih tinggi”. Sebab dalam sistem presbyterial-synodal yang dipilih GKI, lingkup sinode dengan keputusan-keputusan sinodal yang mengikat keseluruhan Jemaat-Jemaat yang ada di dalamnya, lahir dari kesatuan yang terdiri dari lingkup-lingkup yang lebih kecil darinya yaitu; Majelis-Majelis Sinode Wilayah, Majelis-Majelis Klasis, dan Majelis-Majelis Jemaat melalui mekanisme persidangan-persidangan yang ada.

 

Apa bedanya tugas Penatua dan Pendeta?

Dalam tugas kepemimpinan struktural tidak ada perbedaan, yaitu melaksanakan tugas kepemimpinan sebagai anggota Majelis Jemaat, Majelis Klasis, Majelis Sinode Wilayah dan Majelis Sinode. Dalam tugas umum tidak ada perbedaan kecuali dalam hal yang berkaitan dengan firman Allah. Penatua bertugas memelajari dan mendalami Firman Allah, sedangkan Pendeta bertugas memelajari dan mengajarkan Firman Allah. Selebihnya sama mereka: berdoa untuk dan bersama dengan anggota, mendorong anggota untuk mengikuti dan berperanserta dalam kebaktian, memperlengkapi dan memberdayakan anggota bagi tugas-tugas mereka di gereja dan bagi tugas-tugas misioner mereka di masyarakat, melaksanakan penggembalaan umum dengan perhatian kepada mereka yang sakit, berduka, dalam kesulitan dan menghadapi kematian, melaksanakan penggembalaan khusus, melaksanakan pelayanan ke dalam, melaksanakan kesaksian dan pelayanan keluar, melaksanakan pendidikan dan pembinaan, memperhatikan dan menjaga ajaran GKI. Namun, ada juga tugas-tugas yang hanya dilakukan oleh Pendeta, yaitu: melaksanakan pemberitaan Firman Allah, melayankan sakramen-sakramen, menahbiskan/meneguhkan pendeta, melaksanakan peneguhan dan pemberkatan pernikahan dan melantik badan pelayanan.

 

Mengapa Pendeta mendapat status emeritus, sedangkan Penatua tidak?

Penatua adalah jabatan gerejawi yang berlaku dalam jangka waktu tertentu dan tidak penuh waktu, sedangkan pendeta adalah jabatan gerejawi yang berlaku seumur hidup dan penuh waktu. Di dalam lembaga kepemimpinan/kemajelisan, karena jabatan penatua tidak penuh waktu maka penatua tidak mendapat status emeritus. Tetapi pendeta, karena jabatannya berlaku seumur hidup dan penuh waktu, maka diberi status emeritus yaitu status yang menandakan bahwa ia tidak lagi menjalankan fungsinya di lembaga kepemimpinan/kemajelisan. Status emeritus ini tidak menghilangkan jabatan kependetaannya, dan ia disebut sebagai “pendeta emeritus”, walaupun fungsi penuh-waktunya dalam lembaga kepemimpinan dinyatakan berakhir.

 

 

 

Apakah Pendeta dapat disebut juga Gembala Sidang?

Istilah gembala sidang berangkat dari “sistem pemerintahan” gereja konggregasional di mana keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kelangsungan kehidupan jemaat dipegang oleh jemaat. Si Pendeta, dengan demikian bertugas untuk menjadi gembala sekaligus semacam moderator di tengah “sidang” jemaat itu. GKI sebagaimana sudah disinggung di atas tadi, memilih sistem presbyterial-sinodal. Kepemimpinan dalam jemaat ada dalam wujud Majelis Jemaat. Oleh sebab itu, istilah “Gembala Sidang” bagi Pendeta di GKI menjadi tidak cocok.

 

Apakah Jabatan Gerejawi dapat ditanggalkan?

Ya. Untuk penatua dan pendeta, jika ia pindah menjadi anggota gereja lain yang tidak seajaran dan atau ia berada di bawah penggembalaan khusus. Untuk pendeta ia pindah ke gereja lain yang seajaran tanpa melalui prosedur pemanggilan gerejawi, ia mengajukan permintaan pengunduran diri dari jabatan kependetaannya dengan alasan yang dapat diterima Badan Pekerja Majelis Sinode.

 

Apakah Pejabat Gerejawi dapat mengakhiri pelayanan sebelum masa pelayanannya berakhir?

Ya. Untuk penatua jika ia tinggal di luar kota atau luar negeri lebih dari 6 bulan sehingga tidak dapat memenuhi tugas-tugasnya sebagai penatua, ia tidak dapat melayani lebih lanjut karena sakit, ia mengundurkan diri dengan alasan yang bisa diterima oleh Majelis Jemaat, ia berpindah menjadi anggota jemaat lain, ia pindah menjadi anggota gereja lain yang seajaran. Untuk pendeta: ia memindahkan keanggotaannya ke gereja lain. Ia diteguhkan menjadi pendeta gereja lain yang seajaran melalui prosedur pemanggilan gerejawi.

 

Kesimpulan

Beberapa hal di atas saya angkat sebagai serba-serbi dari jabatan gerejawi karena pertanyaan-pertanyaan itu seringkali muncul dalam kehidupan jemaat berkaitan dengan jabatan gerejawi. Tentu masih banyak sekali serba-serbi yang dapat didalami berkaitan dengan jabatan gerejawi dan pemaknaannya. Untuk itu, saya mengajak saudara mengenal seluk beluk Jabatan Gerejawi GKI beserta pemaknannya dengan melihat Tata Gereja GKI bagian Mukadimah dan Penjelasan tentang mukadimah khususnya bagian anggota dan pejabat gerejawi. Juga pada Tata dasar GKI ps 8 dan 9, berikut penjelasannya, serta Tata Laksana GKI bagian H. (Beberapa bagian penjelasan di atas juga bersumber dari bagian-bagian ini). Salam damai.

 

 

 



[1] Menurut Pdt. Lazarus H. Purwanto, dalam makalah bina penatua GKI Klasis Jakarta Selatan, Maret 2010.

[2] Ibid. Kristokrasi = Gereja sebagai tubuh Kristus, bertumbuh dan membangun diri ke arah Kristus yang adalah kepala. Proses-proses gerejawi yang dilakukan ini selalu ada di dalam upaya Kristokrasi. Melihat tolok ukur karakter yang diajarkan dan diteladankan Kristus secara progresif.

[3] Masalah disintregasi pemaknaan ini muncul dalam beberapa jemaat GKI (SW) Jabar pada kurun waktu 1993-2003, yang kemudian saya angkat dan pertahankan sebagai skripsi di STT Jakarta.

Comments