Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Sekolah Minggu dan Guru Sekolah Minggu

diposting pada tanggal 14 Sep 2010 22.29 oleh Essy Eisen   [ diperbarui27 Des 2010 10.15 ]

Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  (Luk.18:2-5, TB-LAI.)

1.   Sejarah singkat

Robert Raikes, seorang wartawan, anak pemilik perusahaan koran di Inggris suatu kali prihatin melihat keadaan kaum muda gelandangan di kotanya, Gloucester. Hidup mereka setiap hari diisi dengan berbuat kejahatan. Hal tersebut tidak saja membuat hidup mereka menjadi sia-sia, namun juga meresahkan warga kota karena banyaknya kejahatan yang dilakukan kaum muda. Robert yakin bahwa pendidikan akan mengubah keadaan yang buruk itu. Oleh karena itu pada tahun 1780, ia membuka kelas pertamanya.

Di hari Minggu itu, ia mengumpulkan anak-anak gelandangan yang nakal itu dan mengajarkan mereka membaca dan menulis, sopan santun dan pelajaran agama. Hasilnya memang baik. Angka kejahatan menurun drastis. Anak-anak itu sangat menantikan hari minggu. Mereka sangat senang dengan pendidikan yang diadakan oleh Robert Raikes itu.

Pada tahun 1872 mulailah digunakan International Uniform Lessons (Bahan Alkitab untuk Sekolah Minggu yang diseragamkan), namun sekolah minggu masih belum digarap secara profesional, tujuannya hanya untuk memenangkan jiwa! Baru pada akhir abad-19 sampai awal abad-20, muncul kesadaran untuk menangani Sekolah Minggu secara lebih profesional. Ilmu pendidikan mulai diterapkan. Pada 1922 berdiri International Sunday School Council of Religious Education, yang pada tahun 1924 berubah nama menjadi International Council of Religious Education. Dengan berdirinya lembaga itu, Sekolah Minggu menjadi lebih maju dengan teori pendidikan modern yang melihat pendidikan yang berpusat kepada anak, dan bukan kepada guru. Pada tahun 1930, muncul juga kesadaran bahwa keluarga ikut berperan serta dalam penyelanggaraan sekolah minggu. Kedekatan orang tua dan anak (baik dari segi waktu maupun kualitas) akan memberi hasil pembinaan yang baik.

Memahami sejarah sekolah minggu yang demikian, kita dapat menangkap beberapa hal berikut:

  1. Gereja dipanggil secara nyata untuk membawa damai sejahtera Allah
  2. Gereja dipanggil bukan hanya mengajarkan Alkitab kepada anak-anak, tetapi juga menumbuhkembangkan seluruh (totalitas) diri anak. Artinya, pembinaan yang menyeluruh (holistik) tidak sekedar pengetahuan Alkitab, dan hidup percaya kepada Kristus, tetapi juga mendidik mengajarkan, cara hidup dan kasih Yesus, kesopanan, tata susila bermasyarakat bagi seluruh kehidupan anak.
  3. Dalam menjawab persoalan dan tantangan kekinian yang dihadapinya, gereja mesti mengupayakan sekolah minggu yang sesuai dengan konteks, yang mampu menjawab tantangan jaman, dan yang membumi.

 

  1. Kebaktian Anak-anak/Sekolah Minggu di GKI

Sekolah Minggu bagi GKI merupakan salah satu bidang pelayanan khusus kepada anak. Penyelenggaraan sekolah minggu sudah menjadi tradisi sejak abad 18 (Gloucecter, 1780), dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan dan tanggung jawab Gereja, yang terus terpelihara dan berkembang baik dalam aspek pendidikan maupun aspek kebaktian.[1] Oleh karena itu GKI melihat bahwa Kebaktian Anak-anak, (:sekolah minggu) adalah kegiatan peribadahan yang dikhususkan bagi anak dalam Jemaat yang dimaksudkan sebagai pemeliharaan hidup iman-kerohanian mereka dalam hubungannya dengan Tuhan.

 

  1. Guru Sekolah minggu (GSM)[2]

 

a.    Panggilan, Tugas dan Tujuan GSM

-      GSM terpanggil untuk menerima, memberitakan, dan menyatakan Kasih dan Keselamatan Tuhan Yesus Kristus –yang mencakup baik hidup pribadi, maupun persekutuan, hidup jasmani maupun rohani, hidup sekarang maupun yang akan datang–  yang diperuntukan bagi seluruh umat manusia dan dunia, khususnya anak-anak.

-      Berdasarkan panggilan itu, GSM bertugas untuk memperlengkapi anggota-anggota Jemaat, yaitu Anggota Baptisan Anak, sehingga mereka sanggup menyatakan persekutuan, pelayanan dan kesaksiannya.

-      GSM bertujuan menolong anak bertumbuh menjadi orang Kristen yang utuh, selaras dengan tujuan Sekolah Minggu serta panggilan dan tugas Gereja.

 

b.    Sasaran-sasaran pelayanan GSM

-      Anggota baptisan Anak dalam Jemaat yang berusia antara 3-12 tahun.

-      Anggota jemaat yang adalah orang tua Anggota Baptisan Anak, guna membantu mereka mendidik anak-anaknya dalam iman Kristen.

-      Anak-anak lain yang tergabung dalam kelas-kelas SM.

 

c.     Tugas-tugas Fungsional GSM

-      Mengajar anak-anak Sekolah Minggu (SM), dalam arti bukan hanya pengetahuan tapi juga sikap sesuai dengan panggilan, tugas, tujuan, dan bahan yang ditetapkan oleh Majelis Sinode Wilayah.

-      Menggembalakan anak-anak SM, dalam arti membimbing mereka secara utuh dalam kehidupan iman-kerohanian, baik bergereja, dalam keluaraga, maupun bermasyarakat.

-      Menyelenggarakan Administrasi SM, yang meliputi:

a)    Strategi dan teknik penyelenggaraan,

b)    Pencatatan dan pendataan,

c)     Peralatan,

d)    Evaluasi, pelaporan dan pertanggungjawaban.

 

d.    Syarat-syarat GSM

-      Berusia minimal 16 tahun.

-      Sudah mengaku percaya dan dibaptiskan atau sudah mengikuti pelajaran katekisasi. Bila syarat ini belum dipenuhi, sedapatnya: sedang mengikuti pelajaran katekisasi di GKI dan mendapat persetujuan dari Majelis Jemaat.

-      Sudah atau sedang mengikuti pembinaan GSM sesudai dengan manual GSM yang ditetapkan oleh Majelis Sinode Wilayah Jawa Barat, dan ternyata berkualitas dalam memenuhi tuntutan pelayanan khusus ini.

 

e.    Kualifikasi GSM

 1.  Dasariah

a)    Memiliki sikap iman yang teguh, yaitu meyakini keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus bagi dirinya.

b)    Meyakini bahwa anak-anak yang dilayaninya juga membutuhkan keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus itu.

c)     Meyakini bahwa pelayanannya selaku GSM merupakan jawaban atas panggilan Tuhan dalam tugas khusus ini.

d)    Memiliki pengenalan dan pengetahuan Alkitab yang memadai sebagai sumber pengajaran Gereja dan pengajaran yang dilakukannya di Sekolah Minggu.

e)    Memiliki pemahaman akan Ajaran Kristen dan Tata Gereja GKI.

f)     Menghayati pengajaran, penggembalaan dan kepemimpinan Kristen sebagai kelengkapan yang diperlukan untuk memenuhi panggilan dan tugas.

g)    Memiliki sikap mental yang dewasa, yaitu berpenampilan yang pantas selaku teladan anak, bertolak dari kesadaran akan tanggung jawab, kedisiplinan pelayanan, kerelaan berkorban.

h)    Memiliki kemampuan mengembangkan diri lebih lanjut selaku GSM dan pribadi orang percaya.

 

2.  Penunjang

a)    Memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang: Psikologi Anak, Prinsip Metoe penggembalaan (konseling dan perlawatan), Prinsip dan Metode pengajaran (Arti dan tujuan pendidikan, berdoa, bercerita, bernyanyi, aktivitas, ekspresi, alat-alat audio-visual/peraga, persiapan dan evaluasi belajar mengajar.

b)    Memiliki pengetahuan secukupnya tentang Sejarah Gereja Umum, Sejarah Gereja Protestan, khususnya di Indonesia dan dalam diri GKI.

 

  1. Apa yang kita lakukan di sekolah minggu?

 

Mungkin saja dengan mudah kita akan menjawab: “Mengajar!” Ya, betul. Yang dilakukan oleh GSM paling hakiki adalah mengajar. Mengajarkan Firman-Nya sebagaimana anak-anak dapat memahaminya, dan lalu tergerak untuk hidup bersesuaian dengan firman-Nya. Namun acapkali yang sering terlupakan oleh GSM ialah, bahwa mengajar menjadi sebuah tindakan “searah” dari murid ke anak. Akibatnya anak, yang semestinya menjadi “subjek” dalam pelayanan menjadi “objek”! Hal ini terjadi ketika ada keterpisahan hubungan yang begitu besar antara Anak Sekolah Minggu (ASM) dan GSM. Ketika GSM tidak mengenal setiap ASM yang dilayaninya, seperti namanya, hobinya, keluarganya dsb. Yang dipentingkannya mungkin hanya bagaimana pengajaran itu disampaikan saja, titik. Ini mesti dihindari. “Objektifasi” kepada anak juga terjadi ketika kegiatan SM dimulai dengan “pikirannya guru” bukan “pikirannya anak”!

Lalu bagaimana? Sepatutnya, yang benar ialah: ketika ASM menjadi subjek. Apa artinya? Artinya SM menjadi sebuah wadah pembinaan yang berpusat pada anak. (Child Centered)  Dalam pemahaman ini, pembinaan untuk anak dimulai dari pemahaman yang mendalam tentang siapa anak yang diajar dan apa kebutuhannya, kemudian didesain suatu model pembinaan yang secara khusus tepat guna untuk sekelompok anak di dalam sebuah kelas tertentu.[3]

 Secara praktis ada beberapa hal yang mesti dilakukan oleh GSM, jika sebuah SM ingin menjadi SM yang berpusat pada anak yaitu:

1.     Memahami setiap anak yang ada di kelasnya.

2.     Meneliti keinginan anak.

3.     Mengevaluasi keinginan dan kebutuhan anak.

4.     Menganalisa fokus-fokus penerapan.

5.     Membuat desain pembinaan anak dan kegiatannya sebagai strategi menjawab kebutuhan.

6.     Membuat desain kegiatan sekolah minggu/kebaktian anak.

7.     Membuat kurikulum pengajaran.

8.    Melakukan percobaan, evaluasi dan desain ulang.

 

  1. Kertas Kerja

 

Saya telah melampirkan sebuah kertas kerja “data pribadi anak”. Data pribadi anak ini sangat berguna untuk membantu seorang GSM dalam mewujudkan SM yang berpusat pada anak. Kertas kerja ini mesti diisi oleh GSM yang menangani kelasnya. Melalui data pribadi anak ini, GSM diajak untuk mampu mengenal anak dengan baik, seperti: nama lengkapnya, alamat rumahnya, nama orangtuanya, hobbynya, dan masalah-masalah atau kendala-kendala yang dihadapinya, baik dalam kegiatan belajar mengajar SM, maupun masalah-masalah yang dihadapinya di rumah/sekolah/pergaulan.

Untuk apa data pribadi anak ini? Sangat bermanfaat! Seperti sudah kita bahas tadi, bahwa SM yang menarik, yang efektif harus menjawab kebutuhan anak. Di samping itu, fungsi utama dari SM tidak boleh hilang, yaitu ketika perjumpaan Tuhan dengan Anak terjadi melalui kegiatan yang dilakukannya di SM. Kalau seorang GSM mengetahui data pribadi anak yang dilayaninya dengan baik, dan ia menyimpannya dengan baik juga, maka sedikit banyak dalam merancang metode mengajar, dalam mengajar, ia senantiasa diingatkan melalui data-data pribadi itu anak-anak yang sedang dilayaninya. Selain itu, data pribadi ini juga bisa digunakan dalam perencanaan tindakan pastoral bagi anak yang mengalami masalah.

 


KELAS : Batita/Balita/1/2/3/4/5/6-Pra

Tanggal Lahir:

 

KARTU DATA PRIBADI ANAK

 

Nama           :________________________________________________________     (L/P)

                  

Alamat /telp   :________________________________________________________    

                    ________________________________________________________

                    ________________________________________________________

Hobi/kesukaan: ________________________________________________________

Hobi khusus pada anak

(daya tangkap, sifat, masalah kesehatan, dll)

                   : ________________________________________________________

                     ________________________________________________________

Nama Ayah    : ________________________________________________________

Nama Ibu      : ________________________________________________________

Keadaan Keluarga (Masalah utama/situasi keluarga) :

 

Tanggal

Data

Tindakan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengetahui dan Mengenal Nara didik

 

Tahun-tahun pertama dalam kehidupan manusia sangat penting, karena pandangan hidup mulai dibentuk. Tiap anak unik karena faktor keturunan yang masing-masing berbeda satu dengan yang lain, namun ada juga kesamaan sifat dan tingkah laku sesuai dengan umurnya. Pertumbuhan dan perkembangan seorang anak dapat menguntungkan jika orangtua dan GSM mengerti kebutuhannya, kemudian merawat dan mendidiknya sesuai dengan apa yang dibutuhkan pada fase-fase perkembangannya. Mengenal Tuhan dan mengalami kasihNya pada masa muda merupakan satu faktor yang sangat penting yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian yang sehat dan bahagia, GSM terpanggil untuk menolong anak-anak menuju ke sana.

 

  1. Kemampuan dan Kebutuhan anak

 

1.1        Mengenal umur 3 tahun/ Anak Batita

1.1.1   Fisik

Anak batita bertumbuh dengan pesat, tetapi pertumbuhannya tidak merata. Otot-otot besar pada lengan dan kaki mendahului pertumbuhan otot-otot kecil, Itu sebabnya Anak batita senang dengan semua kegiatan yang menjangkau dan melatih otot-otot besar, dengan berlari, memanjat, meloncat, dsb. Namun memang karena otot-otot kecilnya masih dalam pertumbuhan, kegiatan-kegiatan yang membutuhkan koordinasi dengan otot kecil, masih kurang mampu dilakukan dengan baik oleh mereka, yang terlihat dari misalnya, belum bisa menggunting dengan rapi sesuai batas, mewarnai dengan cekatan dsb.

 1.1.2   Sosial

Dunia anak batita sangat terbatas. Ia merasa aman dan terlindung dalam lingkungan keluarganya. Lingkungan itu menjadi tempat belajarnya yang utama dalam mengenal dunia sekitarnya. Mereka belajar bergaul dan berkomunikasi dengan sesama angota keluarga yang lain. Anak batita senang bergaul dengan anak-anak lain, dan biasanya dapat bermain dengan baik di bawah pengawasan orang dewasa.

      Pada dasarnya setiap anak kecil bersifat “egosentris”, yaitu berpusat pada dirinya sendiri, sehingga sering terdengar: “Aku mau ini”, “ini aku punya”, dsb. Dengan pandangannya yang sempit itu ia belum mau memikirkan kebutuhan orang lain. Tetapi hal berbagi mesti diajarkan perlahan-lahan dan dilatih terus untuk mereka. Bermain merupakan kegiatan yang terpenting untuk usia ini.  Ketika mereka bermain mereka melatih kreativitas mereka, dan juga melepaskan tegangan emosi.

 1.1.3   Mental

Anak batita belum sanggup berkonsentrasi dalam jangka waktu lama, khususnya kalau yang disampaikannya tidak menarik untuk dia, perhatiannya akan segera beralih kepada hal lain. Tetapi ia dapat mendengarkan sebuah cerita dengan penuh perhatian, asal ceritanya pendek, tidak lebih dari lima menit, anak batita senang bila cerita itu diceritakan lagi berkali-kali dengan kata-kata yang sama.

Perbendaharaan kata anak sudah cukup banyak, namun masih terbatas. Ia mengenal ± 900 kata dan bertambah menjadi  ± 1500 kata menjelang empat tahun. Hal ini perlu mendapat perhatian jika kita ingin berkomunikasi dengan mereka. Usahakan gunakan kata yang sederhana, yang sudah dikenal oleh mereka.

Melalui panca indera: melihat, mendengar, mencium, merasa dan meraba, anak dapat mengenal dunia di sekelilingnya, dan belajar melalui pengalaman langsung. Mereka juga memiliki rasa ingin tahu yang besar, mereka akan terus bertanya: “Apa ini?” Apa itu?”, kemudian sesuai perkembangan mental pertanyaannya akan berkembang: “Untuk apa itu?” “Mengapa?” Bagaimana?” Anak batita mengembangkan pengertian mengenai jarak dan waktu dan mulai mengerti istilah “kemarin”, “hari ini” dan “esok”. Mereka juga dapat mengingat kejadian yang tidak terlalu lama dan berbicara mengenai peristiwa-peristiwa secara sederhana.

 1.1.4   Emosional

Anak batita mengalami satu tahun dalam perkembangan yang agak tenang. Mereka mudah dibimbing, ingin menyenangkan orangtua dan bersemangat mengalami hal-hal baru. Mereka percaya dan mempercayakan diri kepada orangtua dan orang dewasa yang mengawasi atau mengajar mereka. Dua perasaan negatif yang sering dialami adalah rasa takut dan rasa cemburu.

 1.1.5   Perkembangan Rohani

Anak batita dapat belajar mengenai pokok-pokok berikut secara sederhana dalam sekolah minggu dan dalam keluarga mereka: Tuhan menciptakan langit dan bumi, Tuhan menciptakan saya, Tuhan selalu dekat saya, Tuhan mengasihi saya, Tuhan memberi orangtua kepada saya, Orangtua mengasihi dan memelihara saya, Tuhan ingin supaya saya mengasihi saudara saya, Tuhan memberi makanan dan minuman kepada saya, Gereja saya adalah Rumah Tuhan dsb.

 

 

1.2        Mengenal umur 4-5 tahun/ Anak Kecil

1.2.1   Fisik

Pada usia ini anak aktif sekali. Dalam berlari, melompat, memanjat, anak kecil memperlihatkan koordinasi tubuh yang baik yang terus dilatih. Setiap aktivitas yang dikuasai membawa kesenangan karena meningkatkan otonomi: “Aku bisa sendiri”, “Aku sanggup sendiri”. Pada pekerjaan tangan seperti menggunting dan melukis, koordinasi mata dan jari yang terdiri dari otot-otot kecil mulai lebih baik dibandingakan usia sebelumnya  .    

 

1.2.2   Sosial

Di dalam keluarga, mereka menokohkan ayah mereka sebagai teladan mereka, karena biasanya mereka mengenal ayah selaku pemelihara yang serba bisa, yang dapat memperbaiki apa yang rusak di rumah. Sedangkan ibu, berperan sebagai penghibur dan pelindung. Hubungan terhadap anggota keluarga yang lain bervariasi. Terhadap kakak, mereka lebih menerima karena biasanya kakaknya melindunginya, sedangkan terhadap adiknya biasanya terkadang muncul perasaan iri hati, kalau perhatian lebih diberikan oleh ibunya kepada adiknya.

Tidak seperti batita, di dalam bermain mereka sudah bisa tidak diawasi oleh orang dewasa. Namun, sifat egosentris terkadang masih terlihat kuat dan biasanya ini menimbulkan pertengkaran-pertengkaran, namun biasanya pertengkaran itu berlangsung sebentar saja, dan mereka cepat berdamai kembali. Dalam cara bermain, anak pada usia ini menunjukan kemajuan. Jika bermain bersama, mereka memperlihatkan sikap saling membutuhkan. Misalnya: yang satu jadi pemilik toko, yang lain jadi langganan, yang satu dokter, yang lain pasien.

 

1.2.3   Mental

“Rasa ingin tahu” dan “belajar dengan menggunakan seluruh alat indera” mereka yang terjadi pada periode sebelumnya terus berkembang hingga usia ini. Pada usia ini, daya khayalnya sangat kuat, sehingga kita perlu hati-hati dalam menanggapi pernyataan-pernyataan yang diungkapkan oleh mereka. Selain itu, mereka juga suka meniru, mencoba hal-hal yang dilakukan orang dewasa yang makin lama makin menarik baginya. Karena perbendaharaan kata mereka bertambah, maka mereka senang untuk berbicara dan juga mendengarkan cerita. Mereka juga mulai mengerti waktu dalam pengertian minggu, bulan dan musim-musim. Namun, belum dalam pengertian masa lampau atau masa depan.

 

1.2.4   Emosional

Emosi yang dialami anak kecil kuat sekali dan belum dapat dikendalikan. Ia mudah menangis, juga cepat tertawa, bahkan tertawa secara berlebihan. Emosi anak kecil belum terlalu stabil dan cepat berubah. Rasa takut sering dialami mereka terhadap hal-hal yang belum mereka pahami dengan jelas. Misalnya:suara gonggongan anjing, sura guntur, dsb. Oleh karena itu perlu didampingi dan diberi penjelasan. Mereka menjadi marah kalau dilarang berbuat sesuatu yang diinginkan, apalagi kalau dengan kata-kata: “belum boleh, masih kecil!” mereka merasa sudah besar, tetapi begitu dicoba dan gagal mereka menjadi kecewa. Rasa iri terhadap sesama timbul kalau mereka ingin memiliki apa yang dimiliki anak lain, atau kalau perhatian guru dan orangtua dialihkan kepada anak lain.

 Mereka bersukacita jika menemukan sesuatu yang baru dan indah di alam, atau bila mendapat makanan/minuman yang digemari. Rasa bangga akan muncul bila mereka berhasil menghasilkan karya tertentu. Rasa belas kasihan terbangun kalau melihat orang lain merasa sedih atau menderita.

 

1.2.5   Perkembangan Rohani

Karena seorang anak kecil belum dapat menyelidiki sesuatu sendiri, maka ia percaya akan apa yang diceritakan kepadanya. Anak kecil suka mendengar cerita tentang Allah. Mereka ingin tahu siapakah Allah dan apa yang diperbuatNya. Mereka senang mendengarkan bahwa Allah menciptakan alam semesta. Mereka juga sudah belajar membedakan antara yang benar dan yang salah (mengenai moralitas secara sederhana).

 

1.3        Mengenal umur 6-8 tahun/ Anak Tengah

1.3.1   Fisik

Anak-anak umur 6-8 tahun ini pada umumnya duduk di kelas 1-3 SD. Pada umur 5-6 tahun seorang anak akan mengalami perubahan pada tubuh dengan pesat. Tubuh yang sebelumnya pendek dan gemuk menjadi tinggi dan kurus. Kaki dan lengan menjadi lebih panjang. Wajah yang semula bulat berubah menjadi lonjong dengan ekspresi yang pasti. Gigi sulung tanggal diganti dengan gigi tetap. Jantung berdetak lebih cepat. Dengan perubahan-perubahan ini keseimbangan tubuh anak terganggu untuk sementara waktu. Anak sering merasa lelah dan mudah terserang wabah penyakit. Sebab itu mereka perlu istirahat secukupnya. Ini perlu dilakukan secara seimbang dengan tetap memperhatikan dan memfasilitasi keaktifan yang dilakukannya, karena memang pada dasarnya pada usia ini anak kelihatan aktif sekali. Pada usia 7 tahun anak mulai dapat mengurus dirinya sendiri. Mereka dapat mandi sendiri, mengenakan pakaian, menyisir dsb.

 

1.3.2   Sosial

Pada usia ini anak mengalami perluasan dalam proses sosialisasi, karena sudah memasuki cakupan lingkungan yang lebih besar dibandingkan pada usia sebelumnya. Anak tengah sangat menghormati gurunya, bahkan menirunya. Mereka suka mengerjakan tugas-tugas yang diberikan untuk menyukakan hati guru, sekaligus ingin diperhatikan dan dipuji. Sifat egosentris mulai berkurang, kesanggupan untuk bekerjasama lebih baik, tetapi masih memiliki kecenderungan untuk mencari perhatian dan pujian bagi diri sendiri.

 

 1.3.3   Mental

Anak sudah belajar menulis dan membaca dengan sederhana pada usia ini, sehingga untuk mengajar sudah bisa menggunakan tulisan. Namun hurufnya mesti besar-besar. Menulis dan membaca baru bisa lancar pada kelas tiga SD. Bila anak kecil hanya tahan duduk sebentar untuk mendengar cerita, Anak tengah dapat bertahan lebih lama. Hal ini karena daya konsentrasi mereka lebih lama. Anak tengah belum mengerti hal yang abstrak, yaitu sesuatu yang tidak dapat dilihat dan dipegang. Karena itu bila dalam pelajaran yang disampaikan ada kata-kata yang abstrak, guru perlu menjelaskannya, seperti misalnya kata iman dan pengampunan.

Pengertian mereka mengenai moralitas masih “hitam-putih”. Mereka belum mengerti besarnya komplikasi kepribadian seseorang. Bahwa seseorang pada satu saat bisa melakukan hal yang baik dan kemudian hari melakukan yang tidak baik, masih terlalu sulit untuk pengertian mereka. Pola penilaian anak tengah masih tergantung pada orang tua atau guru mereka, Itu berarti pola penilaian positif yang ditanamkan oleh orangtua dan guru mempunyai pengaruh yang besar dalam hidup mereka.

 

1.3.4   Emosional

Salah satu kecenderungan emosional anak tengah adalah membesar-besarkan. Mereka ingin menarik perhatian karena merasa “kecil” di antara anak-anak yang lebih besar. Selain itu terkadang mereka juga akan mengungkapkan sikap “mengundurkan diri”. Anak tengah belum bisa mengatur waktu, karena itu mereka mudah menjadi gelisah bila akan mengikuti suatu kegiatan. Pada usia ini mereka sudah bisa merasakan kesusahan anak-anak lain yang ditimpa kelaparan atau yang mengalami kesusahan lainnya.

 

1.3.5   Perkembangan Rohani

Anak tengah telah bertumbuh dalam pengertian akan kebesaran dan kasih Allah. Mereka juga mulai mengerti akan arti cerita-cerita Alkitab. Apa yang diajarkan kepada mereka akan diterima dengan penuh kepercayaan.

 

1.4        Mengenal umur 9-12 tahun/ Anak Besar

1.4.1   Fisik

Pada usia ini pertumbuhan tinggi badan tidak lagi terlampau pesat, sehingga terjadi keseimbangan. Oleh karena itu mereka giat dan aktif serta cenderung pemberani. Karena keberaniannya sewaktu-waktu mereka dapat mengalami kecelakaan. Dengan kondisi tubuh sebaik itu, rumah terasa sempit bagi mereka. Karena itu bermain di luar rumah, bahkan tempat yang jauh dari rumah sering merupakan pilihan yang menyenangkan. Alam terbuka menjadi tujuan mereka. Di situ energi yang butuh penyaluran memperoleh tempatnya.

 1.4.2   Sosial

Anak besar senang mengembangkan pendapatnya sendiri, karena itu mereka tidak dapat menerima begitu saja apa yang dikatakan oleh guru. Kadang-kadang mereka bersikap berani terhadap guru, tetapi bila guru bersikap tegas dan berwibawa karena siap mengajar mereka, mereka akan menghormatinya. Salah satu cara membangun kewibawaan guru adalah menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikan.

Pergaulan dengan teman sebaya sangat erat. Mereka membentuk kelompok-kelompok dan merasa kuat serta berani kalau bersama. Mereka sudah mulai canggung di dalam berhubungan dengan lawan jenis mereka, baik di dalam bermain maupun di dalam kelas.

Kalau anak tengah senang bercerita kepada orangtuanya mengenai peristiwa yang mereka alami atau dengar, anak besar lebih tertutup kepada orangtuanya. Hal ini tentu baik, di dalam melatih mereka mengambil keputusan sendiri, tetapi pada masa ini perlu dibimbing juga, dengan komunikasi yang baik.

Anak besar juga butuh pelatihan untuk mendisplinkan diri mereka karena muncul kecenderungan mereka tidak bisa menjalankan tugas-tugas rutin dengan baik/mengatur waktu dengan baik.

Anak besar biasanya memiliki tokoh idola mereka sendiri, entah pahlawan pejuang kemerdekaan, pemimpin negara yang berhasil, dll. Yang memberikan inspirasi keteladanan bagi mereka.

 

1.4.3   Mental

Anak besar telah mempunyai daya konsentrasi yang baik. Mereka sanggup duduk untuk mendengar cerita selama 20-25 menit. Pada fase usia mereka, mulai muncul minat ke arah cita-cita yang akan diraih kelak. Mereka mulai memiliki rasa keingintahuan tentang peristiwa-peritiwa besar kehidupan seperti: terjadinya benda-benda alam semesta, mengapa pesawat bisa terbang dsb. Keinginan untuk menemukan banyak hal yang baru mendorong Anak besar untuk membaca. Mereka tidak lagi tertarik pada cerita khayal, tetapi kepada hal yang sungguh-sungguh terjadi. Sejalan dengan kemajuan IPTEK di SD, anak besar semakin terlatih dalam hal berpikir. Selain itu, searah dengan perkembangan logika mereka, Anak Besar memperhatikan apakah hidup seseorang sesuai dengan perkataannya atau tidak. Mereka sendiri ingin berbuat hal yang benar dan menuntut orang dewasa melakukan apa yang mereka katakan.

 

1.4.4   Emosional

Dari segi perkembangan emosional, pada umur ini anak jarang merasa takut. Mereka berusaha menguji keberanian mereka dengan membaca cerita yang mengerikan atau berusaha menunjukan bahwa mereka tidak takut. Biasanya bila sedang bermain dalam kelompok mereka berlomba melompat dari tempat yang tinggi atau beramai-ramai mengendarai sepeda di jalan raya.

Anak besar kurang sabar dengan dirinya sendiri. Bila gagal mengerjakan sesuatu, mereka kadang-kadang merusakan apa yang telah dikerjakan. Kekecewaan mereka diungkapkan melalui sikap dan tindakan yang langsung meletup, tetapi emosi semacam itu cepat berubah.

Anak besar puas dengan keadaannya. Ia tentu tidak terlalu membandingkan dirinya dengan teman-teman yang lain, yang lebih diperhatikan atau lebih beruntung dari dirinya. Bila mereka sewaktu-waktu mengganggu anak-anak kecil, itu tidak dilakukan karena iri hati, melainkan karena bosan dan ingin memperlihatkan kekuatan.

Pada usia ini anak malu dan tidak senang menunjukan perasaan kasih sayangnya kepada orang dewasa, khususnya bila berada di antara teman-teman. Mereka tidak suka digandeng oleh orang dewasa atau diusap-usap rambutnya. Tetapi hal ini tidak berarti mereka tidak membutuhkan kasih sayang, hanya cara mengungkapannya telah berubah.

Bila anak besar menjadi kurang sabar terhadap dirinya lalu kecewa, emosi negatif segera terkuasai olehnya. Dalam hubungan dengan anak sebaya, kalau membenci seorang teman, ia dapat menguasai perasaannya untuk kemudian berdamai kembali. Penguasaan emosi yang negatif membuat anak besar menikmati humor. Bila mendengar sesuatu yang lucu mereka akan tertawa dan senang menceritakan hal itu kepada kawan-kawannya. Mereka juga senang membuat lelucon tentang sesama teman dan menertawakannya, dan bila diri sendiri menjadi sasaran humor mereka tidak tersinggung karenanya.

 

1.4.5   Perkembangan Rohani

Anak besar sudah mengerti hal yang benar dan yang tidak benar. Karena itu perlu didorong agar dapat semakin memperoleh kemampuan untuk memaknakan peristiwa-peristiwa kehidupan sehari-hari, mana yang merupakan perbuatan yang benar dan mana yang salah, dengan memperhatikan bahwa sepatutnya mereka memilih yang baik, dan menjauhi yang jahat. Mereka senang untuk dilibatkan dalam mengambil keputusan kolektif, atau meneliti sebuah kasus moral.

 

1.5        Mengenal trend masa kini

Selain mengetahui dan mengenal nara didik di beberapa jenjang usia, penting juga bagi kita untuk mengetahui trend-trend yang muncul di lingkungan anak di sekolah, keluarga dan masyarakat agar kita semakin jeli mengetahui dan mengenal nara didik dengan baik.

 

1.5.1   Trend dalam pendidikan formal di sekolah

Ilmu pendidikan dewasa ini berkembang dengan pesat. Hal ini dapat memunculkan beberapa dinamika/ tekanan kebutuhan kepada anak antara lain:

·         Orangtua mendorong anak untuk memasuki lembaga pendidikan formal yang mempunyai sistem pengajaran yang terbaik.

·         Orangtua menambah beberapa jenis keterampilan (musik, olahraga, komputer, seni, dll.)

·         Anak dipacu untuk berprestasi di sekolah.

·         Orangtua sulit memahami tantangan yang dihadapi anak, baik dalam tugas maupun tekanan di sekolah, karena tidak mengalaminya pada waktu mereka kecil, sehingga anak berjuang sendiri.

·         Dunia pendidikan formal sebagai lembaga penyalur ilmu pengetahuan dan keterampilan menjadi kebutuhan sehingga anak ditekan untuk belajar sebaik-baiknya dan sebanyak mungkin.

·         Media mengajar menyebabkan cara berpikir berkembang dengan pesat/maju, dibandingkan dengan anak sepuluh tahun yang lalu. Pekerjaan anak di sekolah semakin menumpuk, baik bagi individu maupun bagi kelompok.

 

1.5.2   Trend dalam pendidikan anak di keluarga

·         Karena lebih banyak orangtua bekerja, tugas mengajar dan mendidik lebih banyak diserahkan ke sekolah, pengajar khusus atau kepada pembantu rumah tangga.

·         Orangtua yang bekerja pada masa kini biasanya menjunjung tinggi pendidikan bagi anak. Mereka mengalami di lapangan bahwa tanpa pendidikan yang baik anak akan mengalami kesulitan di masa yang akan datang.

·         Orang tua terkadang cenderung mewujudkan kerinduannya sendiri kepada anak tanpa melihat kebutuhan dan kemampuan anak.

·         Anak seringkali merasa tertekan menghadapi keterbatasan dan takut gagal, jika tidak dapat memenuhi tuntutan orang tua.

·         Ada juga orangtua yang merasa kurang mampu memenuhi kebutuhan keluarganya sehingga melibatkan anak untuk bekerja. Mereka mementingkan kebutuhan jasmani anak lebih dari pada pendidikannya.

 

1.5.3   Trend dalam pendidikan anak di masyarakat

·         Media TV dapat dinikmati anak dengan mudah dan bebas, demikian juga dengan Video.

·         Mass media dapat dilihat, dibaca, dan diperoleh dengan mudah oleh anak.

·         Keadaan masyarakat dapat diketahui anak melalui membaca surat kabar.

·         Aneka tempat hiburan, dunia rekreasi dan toko serba ada dengan mudah merangsang keinginan anak.

·         Pola hidup mewah membentuk pandangan anak dan menghasilkan anak manja.

 

 

  1. Aplikasi

 

Bagaimana mengaplikasikan kebutuhan dan kemampuan anak itu dalam rangka proses belajar dan mengajar? Berikut ini secara sekilas beberapa hal dapat kita ungkapkan. Namun, jangan jadikan ini “barang jadi”! Saudara juga dapat menggali lebih banyak lagi aplikasi-aplikasi yang lain dalam rangka kaitan antara kemampuan dan kebutuhan anak dengan hal-hal yang dapat dan mesti dilakukan di Sekolah Minggu.

 

USIA 3-5 TAHUN

-          Anak-anak pada usia ini membutuhkan ruangan yang lebih luas untuk dapat bergerak dengan bebas, dan juga mesti diberi kesempatan seluas-luasnya di dalam bermain. Pada usia ini mereka tidak dapat duduk saja dan mendengarkan secara pasif pelajaran di SM. Siapkan kegiatan yang dapat dilakukan secara individual oleh setiap anak seperti: melipat, mewarnai, mengecat, dan berikan dorongan serta pujian atas hasil yang diberikan, bagaimanapun bentuknya. GSM diharapkan berusaha untuk mengembangkan kreatifitasnya dengan membaca dan mencari ide kegiatan yang dibutuhkan secara bervariasi.

 

-          Hal yang penting dalam usia ini adalah bahwa mereka perlu belajar membina relasi dengan anak-anak lain seusianya dan orang dewasa lainnya, selain keluarga. Suasana yang penuh keakraban di SM dan kegiatan yang menyenangkan perlu dikembangkan di kelas. Suasana yang aman dan penuh kasih itulah yang akan menjadi dasar bagi anak-anak usia ini untuk terus menerus merasa ingin datang ke SM!

 

-          Oleh karena kemampuan mereka mendengar apa yang disampaikan oleh GSM hanya sebentar saja, maka setiap GSM perlu menyiapkan doa, cerita, dan nyanyian yang dapat dilakukan dengan sederhana, mudah dan tidak terlampau panjang atau bertele-tele. Hal yang perlu diperhatikan adalah cerita yang menarik, -lebih baik lagi kalau dengan menggunakan alat peraga- yang berhubungan dengan pengalaman mereka sehari-hari, misalnya mengasihi kawan, bekerja dengan kawan, siapa keluaragaku, perasaanku, dlsb.

 

-          Cara berbahasa dengan anak-anak usia ini sebaiknya memakai bahasa sederhana yang mereka kenal dalam tingkatan bahasa yang mereka pakai. Pendekatan kepada anak-anak secara pribadi sangat menolong di dalam rangka mengembangkan proses belajar mereka. Anak akan semakin memahami arti dikasihi dan mengasihi melalui pengalaman langsung dengan orang lain.

 

USIA 6-8 TAHUN

-          Setiap anak harus diberi perhatian secara khusus-individual oleh para GSM sebab kebutuhan dan kemampuan setiap anak berbeda satu dengan yang lain. Setiap anak sedang dalam proses mengembangkan dirinya untuk menjadi anak Allah, sementara kemampuan mereka berkembang tidak sama. Mereka adalah anak-anak yang perlu pertolongan dari orangtua dan dari GSM. SM dengan demikian menjadi bagian penting dalam hidup pribadi anak dan turut membentuk diri anak seutuhnya.

 

-          Di SM, anak-anak juga mulai menjalin persahabatan dan mencari teman yang baik. Perasaan tersebut perlu didorong dan dikembangkan, agar mereka belajar menghargai pentingnya persahabatan. Cerita-cerita Alkitab dapat menunjang upaya membangun rasa persahabatan tersebut. Ajarkan persahabatan Yesus dengan pengikutNya, Daud dan Yonatan, dsb. Mereka dapat mulai diajak untuk memberi perhatian pada teman sekelas yang berulang tahun atau sakit atau mendapat musibah. Berbagai kegiatan dalam kelompok sangat baik untuk diadakan pada usia ini.

 

-          Kejadian nyata di gereja perlu diperkenalkan kepada anak-anak. Sekali-kali perlu diundang pendeta ke kelas dan biarkanlah anak-anak bercakap-cakap dan berkenalan dengan pendetanya. Hal yang sama juga kepada penatua, dan juga sekali waktu mengundang orangtua untuk turut mengajar di SM. Dalam kesempatan yang memungkinkan, anak-anak perlu pengalaman mengikuti kebaktian bersama dengan jemaat di gereja. Semua bagian dari kehidupan gereja perlu diketahui oleh anak dan inilah saat yang tepat.

 

-          Berikan kesempatan kepada setiap anak untuk melakukan suatu tanggung jawab, misalnya melalui kegiatan bersama. Ingatkan orangtua dan anak untuk turut pula memberi tugas dan tanggung jawab di rumah. Seiiring dengan pemberian tugas itu, GSM perlu memberikan pujian sebagai sugesti positif kepada anak. Dalam melakukan tugas yang diberikan, tidak setiap anak akan menerimanya dengan gembira. Ada anak yang menolak atau ragu-ragu. Hal ini disebabkan rasa tidak pasti di dalam dirinya. Oleh karena itu, dorongan dari GSM sangat diperlukan. Mereka harus ditolong untuk dapat melewati masa krisis tersebut. Dari pengalaman semacam ini, anak belajar mengembangkan rasa percaya pada dirinya sendiri.

 

-          Susunlah acara sekolah minggu yang membuat suasana menjadi gembira dan memberi kesempatan kepada anak-anak untuk bergerak. Kerahkan seluruh kemampuan/talenta unik yang masing-masing dimiliki oleh GSM, misalnya kreasi dalam bernyanyi, bercerita, permainan, komunikasi dengan anak, dsb.

 

USIA 9-12 TAHUN

-          Anak membutuhkan pertolongan dan kesabaran dari GSM untuk mendengar pertanyaan-pertanyaan mereka dan mengarahkan pertanyaan mereka secukupnya saja dan tidak bertele-tele. Perlu dicatat bahwa jawaban yang panjang belum tentu diingat oleh mereka. Anak sering datang dengan pendapatnya yang aneh dan salah. Akan tetapi, seorang GSM sebaiknya mengarahkan kembali pertanyaan tersebut agar lebih jelas dan tidak terlibat perdebatan dengan anak. Jawaban GSM sebaiknya merupakan kesaksian imannya sebagai seorang Kristen. Anak usia ini membutuhkan seorang pelayan yang bersedia mendampinginya selama proses melewati usianya ini, sehingga relasi yang akrab antara GSM dan ASM harus terpelihara dengan baik. Jawaban yang diberikan oleh GSM bukanlah selalu merupakan jawaban yang terbaik atas pertanyaan anak. Para GSM lebih diharapkan hadir sebagai model dan teman yang baik daripada sebagai orang pandai yang tahu segala hal.

 

-          Dengan bantuan orangtua dan ahli lain di gereja, informasi atau pendidikan seksual dapat mulai diberikan pada usia ini. Berikan dorongan berdasarkan iman Kristen bagaimana manusia menghargai karunia seksual yang diberikan oleh Allah.

 

-          Berikan kesempatan bagi anak-anak di kelas untuk merencanakan suatu kegiatan bersama. Sekali-sekali biarkan mereka yang memimpin kebaktian di SM. GSM perlu terus mendampingi mereka dengan penuh kesabaran dan memberikan petunjuk yang diperlukan. Melalui kegiatan semacam ini anak semakin baik rasa percaya pada dirinya dan sekaligus merasa bahwa kehadirannya sangat dihargai oleh GSM.

 

-          Sediakan waktu untuk mengadakan komunikasi dengan anak-anak secara pribadi. Kemampuan anak dalam kelompok tidak sama satu dengan yang lain, dan sebaiknya setiap GSM mengenal kelebihan dan kekurangan tiap anak. Mereka perlu dorongan untuk berani tinggal dan bersama yang lain dalam kelompok. Bila kelompok tidak terbentuk, maka GSM dapat menolong membuatkan kegiatan agar anak belajar berkelompok. Hargailah prestasi yang mereka capai baik secara individu maupun secara kelompok. Bila anak melakukan kesalahan, sebaiknya GSM menegur secara pribadi tanpa diketahui anak yang lain.

      

  1. Kertas Kerja

 

Berikut ini saya lampirkan, kertas kerja yang saudara mesti isi. Kertas kerja ini melatih saudara untuk dapat menggali dan mempersiapkan kegiatan SM sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak berdasarkan jenjang usia mereka.

 

Selain kertas kerja, saya juga melampirkan pointers pemahaman anak mengenai Tuhan, gereja, Alkitab dan sesama, untuk melengkapi saudara dalam mengerjakan hal di atas.

 


 

USIA 3-5 TAHUN (KELAS BATITA-BALITA)

 

NO

KEBUTUHAN ANAK

KEGIATAN YANG DILAKUKAN

YANG PERLU DISEDIAKAN

1.

Ruangan yang lebih luas, anak dimungkinkan dapat bergerak bebas dan melakukan kegiatan secara kreatif.

 

 

 

 

 

2.

Membina relasi dengan anak seusianya: Saatnya anak dengan kesempatan dan kegiatan yang ada, dapat mengembangkan diri untuk mampu bermain dengan anak yang lain.

 

 

 

 

3.

Mengerti hal-hal yang ada di sekitar hidupnya: Semua kata, kalimat, jenis objek haruslah sesuatu yang ada di sekitar hidup sehari-hari (misalnya:kucing, anjing dan bokan anoa atau simau; padang rumput dan bukan padang pasir, pohon pepaya dan bukan pohon ara, dsb)

 

 

 

4.

Mengajar dengan alat peraga: Anak akan tertolong dan belajar lebih baik bila ada alat bantu yang dipakai oleh GSM, tentu dengan warna dan bentuk yang menarik

 

 

 

 

5.

Bahasa yang sederhana dan mudah dipahami

 

 

 

 

 

 

6.

Keterampilan dengan menggunakan otot besar: Perlu diperhitungkan jenis kegiatan yang dipilih, alat-alat yang digunakan oleh anak-anak, sesuai dengan waktu yang tersedia dan kemampuan yang ada.

 

 

 

 

  

USIA 6-8 TAHUN (ANAK TENGAH)

 

NO

KEBUTUHAN ANAK

KEGIATAN YANG DILAKUKAN

YANG PERLU DISEDIAKAN

1.

Kemampuan tiap anak berbeda:Jangan membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lain. Pahami setiap anak dengan bakat dan minat masing-masing yang berbeda.

 

 

 

 

2.

Mengembangkan rasa persahabatan: Relasi dekat mereka tidak saja dengan anggota keluarga, namun banyak di luar keluarga, yaitu: Sekolah, gereja, atau masyarakat dalam batas tertentu.

 

 

 

 

3.

Mampu mengerti keadaan yang nyata: anak mengenal dirinya dari suku tertentu, anggota dari gerejanya. Ia kenal dengan pendeta, guru atau profesi lain di gerejanya.

 

 

 

 

4.

Berikan kegiatan dengan menggunakan otot besar: masih merupakan kelanjutan dari usia sebelumnya, walaupun sudah berkurang.

 

 

 

 

5.

Berikan kegiatan bersama: mereka yang suka bekerja di dalam kelompok dan mengembangkan suatu kerja sama

 

 

 

 

6.

Beri kegiatan yang menggunakan otot kecil: Kegiatan yang lebih banyak harus dikembangkan dan keterampilan yang lebih kreatif perlu disiapkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

USIA 9-12 TAHUN (ANAK BESAR)

 

NO

KEBUTUHAN ANAK

KEGIATAN YANG DILAKUKAN

YANG PERLU DISEDIAKAN

1.

GSM lebih banyak mendengar:pada usia sebelumnya mereka sudah terlalu banyak mengikuti instruksi dari orang dewasa. Sekarang perlu diberikan kesempatan untuk mengemukakan pikirannya secara kreatif.

 

 

 

2.

Ciptakan kekeluargaan di kelas: Anak perlu diberikan kesempatan untuk mengemukakan pikirannya juga perlu diajar untuk mendengar pendapat anak yang lain.

 

 

 

 

3.

Menghargai ciptaan Tuhan dan diri sendiri: Kegiatan ini bertujuan mempersiapkan rasa percaya diri dan menanamkan harga diri. Semakin banyak pikirannya diterima dan didengar orang lain, akan semakin baik.

 

 

 

4.

Merencanakan kegiatan bersama: golongan usia ini perlu diberi kesempatan untuk merencanakan kegiatan bersama (kegiatan kecil/besar) dengan pendampingan GSM.

 

 

 

 

5.

Pendekatan pribadi:berikan contoh-contoh cara mendekati anak secara pribadi, dalam motivasi tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

USIA

PEMAHAMAN TENTANG TUHAN

PEMAHAMAN TENTANG GEREJA

PEMAHAMAN TENTANG ALKITAB

PEMAHAMAN TENTANG SESAMA

0-3 Tahun

Yang dipahami adalah relasi dengan orang yang terdekat dengan dirinya. Kasih sayang dirasakan dan tidak memahami adanya relasi lain di luar itu. Konsep tentang Tuhan adalah relasinya dengan orangtua.

Lebih membutuhkan rasa aman. Bila di gereja itu berarti ada ruang khusus tempatnya bernain dan tidak merasa takut. Relasi dengan orang di gereja sangat tergantung pada apa yang mereka katakan dan perbuat.

Beberapa cerita Alkitab dapat dipilihkan untuk mereka. Cerita  yang dipilih haruslah mengenai manusia atau hal yang nyata dan bukan yang abstrak. Alkitab dilihat sebagai  benda yang dianggap penting oleh orang dewasa.

Anak usia ini memusatkan segalanya pada dirinya saja. Sulit bagi mereka untuk berbagi dengan orang lain. Mereka pun bermain sendiri. Bermain bersama belum dipahami.

4-5 Tahun

Konsep mengenai Tuhan berkembang melalui relasinya dengan orangtua. Ia lebih merasakan secara mendalam kasih orangtuanya dan sulit berpisah dengan mereka. Di situ kasih yang sesungguhnya terbentuk.

Mereka sedang berusaha lebih mandiri termasuk dalam mengikuti bimbingan dari orang-orang dewasa gereja. Merasa lebih aman bila aktif dengan anak seusianya. Gereja dipahami sebagai tempat yang aman dan bertemu dengan banyak orang lain yang saling mengasihi.

Anak-anak masih menyukai cerita Alkitab yang tokohnya dan dunianya tidak jauh dari dunia mereka. Mereka mulai paham bahwa di dalam Alkitab ada cerita tentang Allah dan Yesus dan bahwa orangtuanya, gerejanya menghargai sekali Alkitab. Ia pun belajar menghargainya.

Mereka semakin banyak keluar rumah, untuk sekolah, Sekolah minggu, berkunjung dengan keluarga. Temannya makin banyak, namun masih terpusat pada diri sendiri. Sekalipun demikian mereka perlu mengembangkan diri dengan bermain bersama anak lain, berbagi, bergiliran dan berpartisipasi.

6-8 Tahun

 

Anak sangat tertarik pada kisah Yesus dan menyamakan diri denganNya yang juga berkembang menjadi semakin besar. Melalui kisah Yesus relasi dengan Tuhan dipahami semakin mudah. Pada saat yang sama orangtua di rumah juga menolong merelasikan semua pengalaman hidup dengan Tuhan.

Anak lebih mengamati gereja sebagai tempat yang aman dan ramah terhadapnya. Anak mengemati banyak pula kegiatan dilakukan di gereja, misalnya kebaktian, PA, perkunjungan, sekolah minggu, koor, dll. Ia mulai tahu bahwa semua kegiatan itu dilakukan karena kasih kepada Yeus. Mereka mulai mengamati tokoh-tokoh baik di gereja.

Anak suka mendengarkan berbagai cerita Alkitab, mereka sudah semakin mampu menghubungkan cerita tersebut dengan pengalaman hidupnya sendiri. Mereka sudah bisa membaca dengan lebih baik. Cerita Alkitab dalam bahasa yang sederhana lebih dibutuhkan oleh mereka, agar selain membaca juga ada kebebasan menggali cerita Alkitab, bahkan mereka sering mengulang-ulang cerita yang disukai.

 

Anak banyak mengamati panutan dalam jenis seks yang sama. Acapkali mereka meniru tingkah laku para orang dewasa itu. Mereka sudah mulai bisa bekerjasama dengan teman sebaya walaupun tidak terlalu lama. Mereka belajar tentang apa yang benar dan apa yang salah. Juga mengikuti peraturan dalam berbagai permainan. Mereka mudah kasihan pada orang yang menderita dan memerlukan pertolongan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

USIA

PEMAHAMAN TENTANG TUHAN

PEMAHAMAN TENTANG GEREJA

PEMAHAMAN TENTANG ALKITAB

PEMAHAMAN TENTANG SESAMA

9-12

Tahun

Umumnya anak suka pada penjelasan yang masuk akal dan nyata. Disadari dalam relasi Yesus dengan Tuhan ada rasa saling setia, sehingga ia mulai paham bahwa ia pun dapat membina relasi dengan Tuhan.

Anak semakin sadar bahwa orang-orang di gereja memang mengasihi Allah. Akibatnya mereka mulai suka diajak ikut serta dalam beberapa kegiatan, bersemangat untuk membantu bila diperlukan. Mereka pun mulai merasa sayang pada Yesus dan ingin melakukan sesuatu. Kegiatan yang bentuknya memberi, sangat menarik perhatian anak pada usia ini.

Tentu saja karena kemampuan membacanya sudah lebih baik, maka ia lebih banyak membaca bagian Alkitab dan sebaiknya anak sudah memiliki sendiri Alkitab sebagai miliknya pribadi. Menghafal banyak ayat yang bagus. Menemukan banyak tokoh dalam Alkitab, membacanya sendiri, dan  merelasikannya dalam hidupnya.

Saat yang sangat penting mengembangkan rasa bekerjasama dengan teman sebaya. Barangkali berbagai kelompok seminar dapat diselenggarakan di gereja untuk dapat mereka ikuti. Hal lain yang muncul, pengaruh orang lain bagi dirinya sangat kuat. Ia sedang dalam proses mencari identitas dirinya sendiri. Mereka memerlukan dorongan dan contoh-contoh panutan yang dapat mempengaruhi mereka secara positif.

Pra-Remaja

Saatnya anak memerlukan panutan yang dapat mereka kagumi. Para tokoh dalam Alkitab yang dikasihi oleh Tuhan karena relasinya yang baik. Cerita semacam ini sangat menolong anak dalam membentuk kualitas relasinya dengan Tuhan, sehingga ia secara pribadi membina relasi

Pada usia ini mereka mengembangkan pemahaman bergereja dengan kemampuan menerima tanggungjawab dan ikut melayani. Mereka sudah perlu diberi waktu untuk menyampaikan usul dan pendapatnya. Mereka merasa saatnya untuk mewujudkan kesetiaannya pada gereja dan mengambil keputusan mengikut Yesus.

Pada usia ini anak tidak saja merelasikan cerita Alkitab dengan kehidupannya sendiri, melainkan merelasikan dengan kehidupan orang lain yang ia kenal. Cerita Alkitab yang abstrak/simbol-simbol/perumpamaan sudah dapat mereka pahami dengan baik.

Pengaruh kelompok bagi anak dalam usia ini sangat kuat, dan di pihak lain pengaruh orangtua masih tetap kuat juga. Kini perasaan tentang keadilan dan kebenaran sangat kuat muncul, dan sangat mudah bersemangat membela keadilan. Karena itu model/panutan tokoh-tokoh Alkitab dan tokoh gereja serta masyarakat sangat diperlukan.

 

 

Mengajarkan Firman-Nya

 

Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga. (Mat.18:10, TB-LAI)

 

“...Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku..(Luk.9:48, TB-LAI)

 

Pengantar

          Pada bagian sebelumnya kita telah membahas dua hal yaitu: sekolah minggu secara umum, dan mengenal nara didik dari segi perkembangan psikologi, moral, sosial, intelektual dan teologis. Sekarang kita akan membahas bagian inti dari tugas GSM yaitu mengajarkan Firman Tuhan kepada anak-anak. Pada bagian ini kita akan memulainya dengan prinsip-prinsip belajar mengajar baik pemaknaan secara umum maupun teologis, lalu berlanjut dengan bagian aplikatif praktis mengenai mengajarkan firman-Nya.

 

  1. Tujuan Mengajar

 

1.1. Tujuan tertinggi berasal dari Allah sendiri

Apakah tujuan dan maksud Allah terhadap manusia? Melalui Alkitab kita dapat menemukan jawabannya. Kejadian 1:26 menyuratkan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, Allah menghembuskan naafas-Nya ke dalam manusia, dan dengan nafas Allah itu manusia menjadi makhluk yang hidup (Kej.2:7). Allah menciptakan manusia untuk menyembah Allah, bekerja sama dengan Allah dalam memelihara bumi dan untuk berkomunikasi dengan Allah dan dengan sesamanya.

Namun manusia yang diciptakan dengan tujuan yang begitu tinggi dan dengan kehendak yang bebas itu lebih memilih mendengarkan suara Iblis, dan jatuh ke dalam dosa. Dosa adalah sikap yang meragukan maksud baik Allah kepada manusia. Dosa adalah pemberontakan kepada Allah. Hal ini mengakibatkan gambar Allah dalam diri manusia menjadi gambar yang samar. Hubungan dengan Allah terputus, hubungan dengan sesama manusia juga terganggu karena dosa itu. Walaupun demikian, Allah sendiri pada akhirnya berinisiatif mengulurkan tangan untuk memperbaharui hubungannya dengan manusia. Gambar Allah yang dirusakan oleh dosa, harus diperbaharui. Ini merupakan tujuan tertinggi dari Allah. Tercapainya tujuan ini dimungkinkan melalui kedatangan Tuhan Yesus. Dalam seluruh kehidupan Tuhan Yesus, gambaran Allah dalam manusia dinyatakan dan dikonkritkan. Tujuan Allah tidak abstrak, melainkan nyata dalam Anak-Nya melalui hidup-Nya, dan kemudian diwujudkan juga di dalam mereka yang mengikut Dia dan menjadi serupa dengan Dia. (Rm.8:29)

 

1.2. Tujuan Umum

            “Menjadi serupa..” itu berarti adanya suatu perubahan yang sungguh-sungguh direncanakan dan harus menjadi nyata. Hal ini sebenarnya sesuai dengan tujuan umum dalam segala pengajaran yaitu:

-          Perubahan dari tidak mengetahui menjadi mengetahui.

-          Perubahan dari tidak bermotivasi menjadi memiliki motivasi.

-          Perubahan dari tidak terampil menjadi terampil.

 

Tujuan pendidikan kristen mencakup seumur hidup manusia. Menjadi serupa dengan Dia adalah proses perubahan yang akan berlangsung terus seumur hidup. Dengan demikian, tujuan pendidikan kristen di Sekolah Minggu ialah meletakan dasar rohani dalam kehidupan seseorang dan membimbing anak dalam:

-          Mengenal Allah yang benar, yang hidup, dan yang karena Kasih-Nya menghidupkan kita.

-          Mengasihi Dia dengan seluruh keberadaan diri kita.

-          Mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

 

Tujuan Allah untuk menjadikan manusia serupa dengan gambaran Anak-Nya menuntut penggambaran yang benar mengenai Allah, sehingga harus mewarnai semua tujuan yang dirumuskan di dalam setiap pelajaran yang diajarkan kepada anak.

 

1.3. Tujuan Kurikuler

             Dalam tujuan kurikuler dirumuskan apa yang dapat dicapai oleh anak dalam satu jangka waktu tertentu, misalnya dalam satu tahun atau satu semester, atau satu triwulan. Tujuan kurikuler berhubungan dengan umur anak. Di antara seorang anak yang berumur tiga tahun dan seorang anak yang berumur enam tahun, perbedaan umurnya sedikit, namun perbedaan dalam perbendaharaan kata, daya tangkap dan daya belajar cukup besar. Jadi tujuan kurikuler menggariskan apa yang dapat dicapai oleh seorang anak pada waktu dan dalam umur tertentu.

 

1.4. Tujuan Khusus

            Selain tujuan umum dan tujuan kurikuler, ada tujuan khusus yang dalam pelajaran formal disebut “Tujuan Instruksional Khusus” (TIK) Dalam satu jam pelajaran hanya ada satu langkah saja yang dapat diambil. Tujuan khusus atau TIK merumuskan apa yang diharapkan dicapai oleh anak melalui pelajaran itu. Tujuan itu dapat dikembangkan dalam tiga bagian yaitu:

-          Pengetahuan baru

Pengetahuan baru berhubungan dengan alam pikiran dan mental. Jika anak diajar sesuai dengan umur mereka, tiap pelajaran dapat membawa pengetahuan baru. Cerita yang telah disampaikan kepada anak kecil, jikalau diceritakan lagi kepada anak besar, harus disampaikan dengan informasi yang lebih luas sehingga ada pengetahuan baru yang membuat mereka tidak bosan. Pengetahuan baru itu dapat menggerakan hati anak, sehingga tercipta satu kerinduan untuk menimbulkan sikap dan tindakan baru.

 

-          Sikap baru

Sikap yang baru berkaitan dengan hati. Hati adalah pusat segala eksistensi dan mencakup alam perasaan, motivasi dan kehendak. Jika perasaan disentuh, maka motivasi dapat dibangunkan dan kehendak digerakan. Perasaan kagum, heran, terpesona, terima kasih, hormat, takut, sedih, menyesal dsb. merupakan perasaan “stimulasi” yang dapat menghasilkan sikap dan motivasi baru untuk berbuat sesuatu sesuai dengan firman yang disampaikan dalam pengajaran.

 

-          Tindakan baru

Anak dapat dibimbing untuk mewujudkan sikap baru dalam tindakan baru. Apa yang dimengerti dengan pikiran dan dirasakan dalam hati sekarang perlu diwujudkan dalam tindakan kasih terhadap Allah dan sesama. Di bawa kepada perubahan menuju “menjadi seupa dengan Dia..!”

 

1.5. Apa gunanya?

            Tujuan yang dirumuskan dalam tiga bagian itu berfungsi untuk menentukan seleksi bahan, menentukan pilihan  nyanyian dan ayat hafalan, menentukan media mengajar, menentukan aktivitas dan kegiatan, serta menentukan evaluasi. Yang mesti diingat ialah tujuan harus memberi ruang gerak yang wajar. Jika satu tujuan kurang terperinci, arah pelajaran menjadi kabur. Sebaliknya, jika satu tujuan terlalu terperinci dapat mengahalangi kreativitas guru dan anak. Selain itu, yang teramat penting ialah tujuan harus realistis.

 

  1. Persiapan Mengajar

2.1. Perlengkapan mengajar

Hal apa saja yang perlu disiapkan dalam mengajar? Untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam tiap jam pelajaran, satu tujuan sudah harus dirumuskan dengan seksama. Tujuan itu seperti pusat dari seluruh jam pelajaran dan ikut menentukan tiap-tiap unsur dalam pelajaran itu. Sebelum memahami tujuan, guru harus sudah mempelajari Firman Tuhan, menyelidiki latar belakang cerita dan membaca bahan cerita itu dengan baik. Hal ini bisa dilakukan bersama-sama dalam kegiatan persiapan mengajar hari selasa, pada bagian penelaahan Alkitabnya.

            Setelah menemukan tujuan itu, Guru Sekolah Minggu mesti:

·         Memahami tujuan untuk dirinya sendiri

·         Memahami tujuan dan aplikasi kepada muridnya

Setelah itu, tentukan perlengkapan yang mesti dipersiapkan dalam pencapaian tujuan itu.

 

2.2. Tim Kreatif

Setiap organisasi yang maju dan efektif biasanya memiliki tim kreatif. Tim kreatif ini tidak berarti menggantikan seluruh tugas-tugas personil organisasi, tetapi mereka bertindak sebagai kumpulan orang-orang yang selalu berupaya mengembangkan inovasi-inovasi baru dan kreatifitas dalam organisasi. Mereka tidak harus selalu profesional tetapi yang pasti memiliki semangat kerja yang tinggi, semangat belajar yang tinggi, dan selalu tidak puas dengan apa yang ada, dan berkeinginan untuk terus menerus memperbaharui diri menuju excellency. (Kesempurnaan).

Di Komisi Anak sebuah gereja, hal itu patut ditiru. Perlu ada sebuah tim kreatif yang mampu dan mau mengembangkan apa yang dimiliki menuju pembaharuan yang sempurna. Dalam Komisi Anak yang memiliki pelayanan khsusus kepada sekolah minggu, tim kreatif itu bisa dibagi ke dalam beberapa divisi. Contoh: Divisi alat peraga, divisi pujian, divisi aktivitas, divisi cerita, dsb. Karya-karya mereka dapat menjadi berkat yang besar bagi pengembangan sekolah minggu. Karya-karya itu dapat di file dengan rapi dengan klasifikasi tertentu dan disimpan dalam bengkel aktivitas dan alat peraga untuk sewaktu-waktu digunakan.

 

2.3. Bengkel Aktivitas dan Alat peraga

Bengkel Aktivitas dan alat peraga ini adalah tempat di mana tim kreatif dan seluruh GSM bekerja. Di dalamnya mesti tersedia alat-alat yang bisa digunakan untuk menyusun, membuat, mempraktekan, karya dari masing-masing divisi.

 

  1. Kegiatan Inti Sekolah Minggu

3.1.      Urutan kegiatan

Kerangka satu jam pelajaran/ tiap-tiap pertemuan dapat terdiri dari empat bagian, yaitu:

·         Pembukaan

·         Cerita Alkitab

·         Penerapan/Respons

·         Penutup

Pembukaan

Pembukaan merupakan jembatan dari dunia anak kepada Firman Tuhan. Anak datang dari lingkungan, keberadaan dan kegiatan yang bermacam-macam. Hati dan perasaan mereka mencerminkan apa yang baru mereka alami. Ada anak yang baru menonton satu program TV yang sangat menarik, ia mungkin sebenarnya ingin meneruskan nonton TV itu, namun disuruh orangtuanya ke sekolah minggu, dan mungkin menyesali program TV yang tidak bisa ia nikmati itu. Atau bisa jadi ada anak yang tiba di SM dengan rasa kusut di hati, karena baru bertengkar dengan adiknya, atau dimarahi orangtua dan kakak. Ada juga anak yang datang dengan sangat gembira karena rindu untuk datang ke SM.

            Bagaimana semua dapat dipersatukan dalam waktu yang sangat singkat? Pembukaan perlu menimbulkan rasa ingin tahu serta mengarahkan pikiran anak pada tujuan pelajaran, tanpa “melepaskan” inti pelajaran/ isi cerita. Unsur-unsur dalam pembukaan: ucapan “selamat datang”, anak diterima dengan penuh perhatian, menyanyi bersama, doa pembuka, persembahan, mengingat hari ulang tahun anak, cerita pengalaman sehari-hari, percakapan untuk menerangkan satu istilah, mengulangi satu bagian pelajaran minggu yang lalu (nyanyian baru, ayat hafalan, gambar yang mengingatkan mereka akan cerita minggu lalu, dll), menyanyikan lagu yang akan mengantar mereka masuk ke dalam cerita/inti pengajaran.

 

3.2.      Bercerita

3.2.1.         Bercerita yang Efektif

Kriteria cerita yang baik adalah:

-          Cerita mempunyai satu tema yang terurai dengan jelas.

-          Cerita memiliki proses yang berkembang dan akhirnya mencapai klimaks

-          Mampu memperlihatkan watak para tokohnya.

-          Setia pada tema utama cerita tersebut.

-          Cerita memiliki unsur dramatis.

-          Cocok bagi anak sesuai dengan usianya.

 

Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika bercerita:

Suasana:

-          Mengetahui tempat yang pasti untuk bercerita.

-          Mengetahui berapa lama cerita akan disampaikan.

-          Aturlah anak-anak agar dapat duduk berdekatan dengan nyaman, dapat juga dibentuk setengah lingkaran.

-          Usahakanlah agar tidak ada interupsi selama bercerita.

-          Tataplah anak-anak ketika bercerita.

-          Jumlah anak sebaiknya terbatas, tidak lebih dari 30 anak.

 

Suara:

-          Bicaralah dengan tenang, tidak berlebihan dan langsung.

-          Aturlah agar volume suara dapat terdengar dengan baik.

-          Aturlah agar volume suara agak rendah.

 

Ekspresi:

-          Mengetahui apa yang hendak dikatakan.

-          Keluarkan ekspresi sebagaimana mestinya.

-          Katakan dengan jelas maksud yang hendak disampaikan. Hindarkan penjelaasan berkepanjangan ketika menjelaskan tentang tokoh atau tempat.

-          Berlakulah sewajarnya saja.

 

Mengatur waktu ketika bercerita:

-          Menjaga agar tidak terlalu cepat sewaktu membawakan cerita.

-          Pakailah jeda (berhenti sejenak) ketika bercerita.

-          Upayakan klimaks (puncak) cerita pada waktu yang tepat.

 

Mengakhiri cerita:

-          Jangan mundur ketika hendak mencapai klimaks cerita.

-          Jangan pindah ke cerita yang lain.

-          Jangan tergoda untuk memberi nasihat.

-          Akhiri cerita dengan cepat, lalu berhenti.

 

3.2.2.         Teknik Bercerita

Beberapa cara menyampaikan cerita:

-          Membacakan cerita

-          Papan Flanel

-          Drama

-          Musik

-          OHP/LCD Proyektor

-          Dengan gerakan tubuh/mimik

-          Panggung boneka

-          Rekaman kaset

-          Anak aktif

-          Permainan simulasi

-          Menulis cerita

 

 

Macam-macam cerita dalam Alkitab:

-          Cerita pengembaraan

-          Cerita kehidupan seseorang

-          Cerita sejarah

-          Cerita perjuangan

-          Cerita kepahlawanan

-          Cerita kisah penciptaan

-          Cerita drama kehidupan

-          Cerita kejadian yang menakutkan

-          Cerita kejadian yang lucu

 

Prinsip dalam mengolah cerita:

1.     Sebuah cerita tidak harus disampaikan secara utuh hanya pada bagian bercerita.

2.     sebelum memilih cara penyampaian yang baik, kenali dahulu jenis cerita yang mau disampaikan.

3.     Pahami usia nara didik yang diajar dan perhatikan kemampuan mereka.

 

Beberapa hambatan dalam bercerita:

-          Tidak tahu bagaimana mempersiapkan cerita

-          Guru tidak semangat (berminat) dengan cerita yang ditentukan dalam pelajaran.

-          Guru mengharapkan hal yang berlebihan (tidak realistis) sebagai pencerita.

-          Tokoh dan tempat dalam cerita tak dapat dipahami oleh guru, sehingga sulit diingat.

 

Langkah-langkah dalam mempersiapkan cerita:

1.     Bacalah cerita beberapa kali. Kenalilah tokohnya, tempat kejadiannya, dan urutan ceritanya.

2.     Bahasakan cerita itu dalam bahasa sendiri.

3.     Ucapkan cerita itu.

4.     Dari langkah ke-3 akan terasa bagian mana yang masih harus diperbaiki dan dikembangkan.

5.     Bila perlu, cobalah sekali lagi dengan memperhatikan bagian-bagian yang harus diperbaiki. Bila mungkin ceritakan pada orang lain yang ada pada saat itu.

 

Beberapa cara dalam menyampaikan cerita:

1.     Menggunakan sura, gerak, dan mimik yang sesuai.

2.     Menggunakan papan flanel.

3.     Menggunakan gambar atau alat peraga yang lain.

4.     Menyampaikannya melalui permainan.

5.     Menyampaikannya dengan menyanyi.

 

Catatan: berhati-hatilah agar jangan sampai metode yang digunakan membuat anak lepas perhatiannya dari inti cerita yang disampaikan.

 

3.3.      Bernyanyi

Bernyanyi merupakan salah satu aspek yang penting di dalam sekolah minggu. Yang perlu diperhatikan ialah, selaku pemimpin di dalam menyanyi, GSM mesti mengetahui dengan baik lagu yang akan dinyanyikan. Bagaimanakah iramanya? Temponya cepat atau lambat. Yang kedua, perhatikan liriknya dengan baik. Nyanyian di dalam sekolah minggu bukan hanya pelengkap, tetapi terhisab di dalam tujuan inti pelajaran yang di sampaikan. Oleh karena itu pelafalan kata-kata di dalam nyanyian pujian mesti jelas, dengan begitu diharapkan anak SM dapat termotivasi untuk bisa bernyanyi dengan baik, dan menghayati lagu yang dinyanyikannya. Jika lagunya adalah lagu yang gembira, nyanyikanlah dengan gembira. Jika lagunya mesti dihayati dengan baik, hayatilah dengan baik.

            Libatkanlah anak di dalam menyanyi. Sesekali beri kesempatan anak di dalam memimpin puji-pujian. Selain itu, anak juga dapat di ikut sertakan untuk mengiringi puji-pujian (bagi yang memiliki talenta di dalam memainkan alat musik). Kegiatan lain yang dapat melibatkan anak untuk aktif adalah dengan memberikan alat musik sederhana yang dapat dimainkan oleh anak-anak. Mereka, akan gembira jika dilibatkan dalam aktivitas seperti ini.

 

3.4.      Berdoa

3.4.1. Berdoa adalah melakukan percakapan dengan Tuhan.

Pada usia 2 tahun seorang anak kecil telah mampu berkomunikasi dengan orang lain. Ia mulai menyatakan keinginannya bila membutuhkan sesuatu kepada orang lain. Ia dapat merasa senang bila ibu menggantikan bajunya yang kotor dengan yang bersih. Ia mulai mengerti maksud orangtuanya sewaktu berkomunikasi dan sebaliknya orangtua juga semakin mengerti akan maksud anaknya yang memutuhkan sesuatu. Orang tua kemudian akan memenuhi kebutuhan anaknya dengan penuh kasih sekalipun tidak semua tuntutan anak dapat dan perlu dipenuhi. Suasana sehari-hari yang terjadi, sewaktu anak berkomunikasi dengan orangtuanya, akan sangat mempengaruhi pemahaman anak bahwa berdoa berarti sedang melakukan percakapan dengan Tuhan. Suasana sehari-hari yang dimaksud misalnya orangtua dan anak berkomunikasi dalam suasana ceria dan gembira. Atau barangkali anak punya orangtua yang suka bermain dengannya atau suka berkomunikasi dalam suasana tergesa-gesa karena orangtuanya sibuk, sehingga tidak punya cukup waktu untuk bercakap-cakap dengan anaknya. Jadi suasana relasi yang dialami seorang anak akan sangat berpengaruh terhadap pemahamannya mengenai berdoa, di mana anak diperkenalkan untuk berkomunikasi dengan Tuhan secara dekat. Cinta Tuhan akan dikenali anak kecil melalui pola komunikasi dengan orang dewasa yang dekat dengannya.

 

3.4.2. Berdoa dengan benar, berarti mengalami dan merasakan secara pribadi relasi yang ada antara anak dan Tuhan.

Sama dengan seorang anak kecil yang sedang belajar naik sepeda, ia tidak cukup hanya mendapat petunjuk bagaimana caranya naik sepeda, akan tetapi yang lebih penting ia harus diberi kesempatan untuk belajar sendiri mendapat keseimbangan naik sepeda. Berdoa dilakukan bukan karena tradisi, atau kebiasaan yang dilakukan oleh orang dewasa dan harus diikuti oleh anak hanya dengan cara memberi petunjuk-petunjuk lisan bagaimana caranya beroda dengan sopan dalam sikap yang baik, tetapi berdoa berarti membina relasi/persahabatan dengan orang yang dikasihi. Anak perlu mengalami sendiri adanya relasi khusus antara dirinya dengan Tuhan. Anak memerlukan pertolongan untuk membina relasinya dengan Tuhan secara pribadi. Caranya adalah dengan melakukannya bersama-sama dengan anak sejak usia sedini mungkin.

 

3.4.3. Berdoa berarti mengembangkan persahabatan dengan Tuhan. 

Dalam persahabatan ada keinginan dari kedua belah pihak untuk saling mengenal dengan lebih baik. Seorang tidak memaksa sahabatnya untuk memenuhi apa saja yang diinginkan, tetapi ia juga punya keinginan untuk memberi sesuatu yang terbaik bagi sahabatnya. Anak perlu diberikan pemahaman akan konsep doa di mana relasi persahabatan dengan Tuhan sedang dilakukan. Bila anak mengalami relasi yang akrab dengan orangtuanya, maka ia tidak menemukan kesulitan dalam membina relasi dengan Tuhan.

 

3.4.4. Dalam doa ada rasa hormat kepada Tuhan sebagai Pencipta Agung yang penuh cinta kasih dan pengampunan.

Tuhan adalah sahabat, tetapi juga adalah pencipta manusia, mahakuasa, dan tahu apa yang dibutuhkan oleh manusia. Artinya, Tuhan tahu memberikan apa yang terbaik bagi manusia. Anak belajar memahami konsep yang sulit itu melalui pengalamannya dengan oangtua di dalam keluarga. Ibu memberikan yang dibutuhkan oleh anak, bapak mencari nafkah karena mengasihi keluarganya. Rasa percaya sedemikian akan turut mempengaruhi terbentuknya rasa percaya anak kepada Tuhan.

 

3.4.5. Pokok-pokok dasar berdoa dengan anak

 

  1. Ungkapan pujian

Pada awal doa, pujian atas kebesaran dan kebaikan Tuhan perlu diucapkan. Anak perlu diajar untuk selalu memuji dan menghormati Tuhan sewaktu mulai berdoa.

 

  1. Pengakuan atas kesalahan

Mengakui kesalahan di hadapan orang lain diakui sebagai hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Namun, lebih mudah seorang anak mengaku salahnya daripada orang dewasa. Dengan terlebih dahulu memuji kebesaran Tuhan, karena Ia adalah pencipta dan pemilik diri kita, maka anak akan lebih mudah mengakui kesalahan yang dilakukannya. Tolonglah anak untuk mengakui kesalahan yang konkret, misalnya pagi tadi di sekolah mencubit temannya sampai menangis. Secara bertahap anak dilatih agar ia mau mengucapkan dengan kata-katanya sendiri kesalahan yang baru ia lakukan.

 

  1. Mengucap terima kasih

Dalam bagian ini anak mengucapkan terima kasih atas berkat Tuhan yang ia lihat dan alami secara konkret, misalnya turunnya hujan, makanan yang tersedia di rumah, ikut ibu ke pasar, dapat hadiah dari tante, dll. Orang tua sebaiknya menolong anak dalam mencari hal-hal yang perlu disyukuri untuk diungkapkan dalam doa pada hari itu.

 

  1. Permohonan

Bagian ini merupakan bagian yang penting sekaligus sulit dalam kehidupan iman seorang anak. Dalam doa, anak dapat memohon kepada Tuhan apa yang ia butuhkan dan inginkan, namun dengan pemahaman bahwa manusia tidak menuntut Tuhan dengan memaksakan kehendaknya. Menjadi sulit oleh karena kadang orang dewasa seringkali memaksakan Tuhan untuk memenuhi permohonannya, bahkan merasa ditinggalkan oleh Tuhan dalam kesulitannya. Banyak orang tua terlihat kecewa karena merasa permohonannya tidak terpenuhi oleh Tuhan. Sejak usia dini anak telah memperhatikan cara orangtuanya memohon kepada Tuhan dan ia akan mengikutinya. Anak akan mengikuti apa yang dipahami orangtuanya, misalnya, melalui doa orangtua terlihat percaya sekali kepada Tuhan, atau memaksa Tuhan memenuhi permohonannya. Dalam hal ini anak perlu belajar bahwa Tuhan tidak selalu memenuhi apa yang diharapkan oleh manusia, tetapi Ia senantiasa memberikan yang terbaik bagi umat-Nya di dalam cara-Nya bekerja.

 

3.4.6. Berdoa berdasarkan usia

  1. Anak usia Balita-5 tahun

-          Doa dilakukan secara spontan. Pilihlah waktu yang tepat bagi mereka di mana suasana santai, tidak sedang marah, mengantuk atau sedang asyik bermain.

-          Panjang atau pendeknya doa tidak menjadi masalah.

-          Tolonglah anak mengerti bahwa Tuhan bekerja memenuhi kebutuhannya melalui orang lain (bapak, ibu, dll)

-          Pakailah bahasa dan cara-cara yang mudah dipahami anak.

-          Agar pemahaman tentang persahabatan semakin baik dipahami anak pada usia ini, cari buku-buku cerita tentang persahabatan dan bacakan pada anak-anak.

 

  1. Anak Kecil usia 6-8 tahun

-          Ajak anak mengucap syukur dan memuji Tuhan.

-          Anak belajar menyusun doanya sendiri dan beri kegiatan untuk itu.

-          Melalui liturgi sederhana anak dapat berdoa secara berbalas-balasan.

-          Sediakan waktu bagi anak agar setelah selesai berdoa mereka dapat mengungkapkan pendapatnya tentang apa yang baru saja didoakan.

-          Berikan perhatian pada anak akan pentingnya memohon pengampunan atas kesalahan yang dilakukan.

-          Pokok penting lain adalah doa mohon pertolongan dengan menyebutkan secara jelas apa yang dibutuhkan.

 

  1. Anak Besar usia 9-12 tahun

-          Pada usia ini anak sudah membutuhkan doa secara pribadi. Yang dibutuhkan adalah bahan-bahan untuk didoakan dan bahan untuk renungan pribadi.

-          Mereka mulai belajar menghargai doa di dalam ibadah orang dewasa.

-          Ajarkan bahwa berdoa dapat juga dilakukan dengan memakai nyanyian.

-          Hal penting yang perlu ditekankan adalah melalui doa ada relasi khusus dan dekat dengan Tuhan.

 

3.5.      Alat Peraga

Alat peraga adalah penolong bagi guru sekolah minggu dalam menyampaikan cerita dengan lebih baik dan perlu diingat bahwa alat perga bukanlah yang terutama di dalam mengajar. Yang utama tetap berita firman Tuhan yang diceritakan/disampaikan. Di dalam Alkitab alat peraga sering dipakai dalam berbagai bentuk, dengan tujuan agar berita yang hendak disampaikan menjadi jelas, dimengerti lebih baik dan dapat diingat dengan mudah. Beberapa contoh misalnya: Suatu ketika Yesus menuliskan kata-kata di pasir, Orang memakai simbol ikan sebagai identitas orang Kristen pada waktu itu, Orang melukiskan perasaannya melalui musik atau puisi atau nyanyian yang lalu diulangi bersama berkali-kali untuk memahami artinya.

            Alat peraga akan menjadi sangat berguna dan efektif bila dengan alat itu guru dapat membuat anak-anak menjadi aktif-partisipatif dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Anak dapat belajar dengan efektif jika mereka tidak hanya mendengar tetapi juga melihat, dan juga akan semakin efektif lagi jika mereka turut aktif ambil  bagian di dalamnya. Yang paling efektif bila anak juga diberi waktu untuk melakukan kegiatan yang sedang berjalan di kelas.

 

Contoh kegiatan yang verbal:

-          Membaca, ceramah, cerita sambil membaca, dll. Pada bagian ini anak hanya mendengar dan tidak sepenuhnya mengerti apa yang ia dengar. Agar dapat lebih efektif sebaiknya seorang guru tidak hanya bercerita biasa saja tetapi mencari cara lain yang menarik yang membuat anak lebih mengerti dan mengingat apa yang didengarnya.

 

Contoh kegiatan yang terlihat

-          Bercerita dengan gambar, dengan peta, dengan video, dengan kliping surat kabar, memakai simbol, dll. Pada umumnya anak akan belajar lebih baik bila ia melihat sesuatu daripada mendengar saja. Bila kondisi mendengar dan melihat disatukan, maka anak akan belajar lebih efektif.

 

Contoh kegiatan yang melibatkan anak

-          Bermain peran, menuliskan cerita yang ia dengar, drama, permainan, perkunjungan, menulis puisi, memainkan musik sambil bernyanyi, membuat berbagai kegiatan keterampilan, dll. Berbagai kegiatan yang langsung menghubungkan cerita dengan kehidupan sebenarnya. Misalnya ketika bercerita tentang orang samaria yang murah hati, maka kegiatannya adalah mengajak anak berkunjung pada tetangga yang miskin atau memerlukan sesuatu. Jadi guru memakai alat peraga dalam mengajar karena ia sedang mengupayakan agar anak-anak dapat belajar dengan lebih efektif dan mengerti konsep yang didengar dengan baik.

 

3.5.1.         Kriteria memilih alat peraga

1.     Alat peraga harus dipilih untuk menjelaskan inti cerita yang mau disampaikan.

2.     Alat peraga yang dipilih akan menolong anak mencapai tujuan khusus.

3.     Alat peraga yang dipilih tepat bagi golongan usia yang diajar.

4.     Alat peraga yang dipilih akan dapat membangkitkan rasa semakin ingin tahu, berimajinasi, makin kreatif atau makin berani mengungkapkan ekspresinya.

5.     Alat peraga yang dikehendaki mudah didapat, terjangkau secara ekonomi.

6.     Guru yakin menguasai alat peraga itu, sehingga penyampaian pelajaran dapat terjadi dengan baik.

 

 

3.5.2.         Macam-macam alat peraga

Beberapa alat/barang yang dapat digunakan sebagai alat peraga yaitu: Gambar/foto, peta, tape-recorder, OHP, LCD Proyektor, plastik bening/transparansi, papan tulis, video, diorama, kotak televisi, papan flanel, bagan, panggung boneka, berbagai simbol, demonstrasi, karyawisata/perkunjungan, drama.

 

3.6.      Aktivitas

Aktivitas adalah “alat” atau media guru agar mencapai tujuan pelajaran. Selain itu, tujuan yang diinginkan untuk dicapai itu diharapkan juga terjadi melalui kesan penghayatan yang dapat dirasakan oleh anak. Aktivitas akan dihayati dan dinikmati dengan baik oleh nara didik, jika tiga aspek/domain dalam pengajaran yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik terwakilkan sesuai dengan kemampuan nara didik. Oleh karena itu penting untuk menggali dan menciptakan aktivitas dengan memperhatikan kemampuan anak, sekaligus juga dengan kreatif menciptakan aktivitas yang baru dan menarik yang melibatkan ketiga aspek/domain dalam mengajar. Aktivitas tidak harus selalu dilakukan selesai bercerita, namun bisa juga sebelum cerita, atau bahkan dilakukan di sepanjang kegiatan Sekolah Minggu. Aktivitas dapat diterapkan di setiap kegiatan inti Sekolah minggu. Mis: Aktivitas dalam cerita, nyanyi, doa, menghafal ayat. dsb)

  

Bahan ini disusun oleh: Penatua Essy Eisen

Juli, 2006

 

Buku-buku yang harus dibaca

 

Hawadi, Reni Akbar. Psikologi Perkembangan Anak:Mengenal sifat, bakat dan kemampuan anak.    Jakarta:Grasindo. 2001

Kadarmanto, Ruth S. Tuntunlah ke Jalan yang Benar: Panduan Mengajar Anak diJemaat.     Jakarta:STTJ    dan       BPK-GM. 2004

Lie, Paulus. Mereformasi Sekolah Minggu. Yogyakarta:Andi Offset. 2003

Lie, Paulus. Teknik Kreatif dan terpadu dalam mengajar Sekolah Minggu. Yogyakarta: AndiOffset.    2003

Lie, Paulus. Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif. Yogyakarta:Andi Offset. 1997

Läufer, Ruth dan Dyck Anni. Pedoman Pelayanan Anak 1-2. Malang:YPII. 1997

Price, Sue. 100 Ide Kreatif untuk mengajarkan Alkitab kepada Anak-anak. Yogyakartra:Andi. 2003

Shelly, Judith Allen. Kebutuhan Rohani Anak: Pedoman untuk para orang tua, guru dan perawat.      Bandung:Kalam Hidup. 1992

Tim Pelayanan Efata. Kumpulan Ilustrasi untuk Sekolah Minggu. Yogyakarta:Andi. 2003

Wijayani, Agustina. 50 Tips Mengajar Sekolah Minggu. Yogyakarta:Kairos. 2003



[1] Peraturan-peraturan khusus Gereja Kristen Indonesia untuk Lingkup Sinode Wilayah, Bagian satu, Bab VI “Tata laksana Guru Sekolah Minggu”, hlm. 24

[2] Disarikan dari Ibid., hlm. 24-28.

[3] Paulus Lie, Mereformasi Sekolah Minggu, (Yogyakarta:Andi Offset, 2003), hlm. 2-4.

Comments