Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

"Salam sejahtera bagimu."

diposkan pada tanggal 28 Apr 2011 11.30 oleh Essy Eisen   [ diperbarui7 Jul 2011 11.37 ]
Kisah Para Rasul 2:14a, 22-32; Mazmur 16; 1 Petrus 1:3-9; Yohanes 20:19-31

Setiap kebaktian dimulai, setelah mengucapkan “Votum” (pengesahan, dukungan suara, seperti kata vote), Pengkotbah mengucapkan “Salam” kepada Jemaat. Ungkapan salam ini merupakan pernyataan bahwa persekutuan yang terjadi dalam kebaktian itu dibuka dengan kedamaian yang dari Allah, untuk jemaat dan di antara jemaat sekalian. Kata salam berarti “damai”. Dalam bahasa Ibrani “Shalom”, bahasa Yunani “eirene”. Bukan hanya itu, setelah berita anugerah, jemaat juga bersalam-salaman, dan mengucapkan “salam damai”. Maknanya, karena anugerah pengampunan Allah, kita diterima oleh Allah untuk mewujudnyatakan perdamaian dengan orang lain.

Orang Yahudi, sebagaimana pada setiap budaya pada umumnya, mengucapkan salam saat mereka bertemu. Mereka mengucapkan “Shalom Alekheim!” dan dibalas dengan “Alekheim Shalom!”, artinya “Salam sejahtera bagimu”, dibalas “Salam sejahtera bagimu juga”. Selain tanda kekerabatan, ucapan dan ungkapan salam menandakan bahwa begitulah hidup sepatutnya. Damai satu sama lain, akrab dan perhatian satu sama lain. Saat kita memberi salam kepada orang lain, kita mengungkapkan syukur atas pendamaian yang Allah berikan dan kita dimampukannya untuk menjadi alat pendamaian bagi orang lain yang menerima salam kita.


Yesuspun bertindak serupa saat menjumpai murid-murid-Nya "Damai sejahtera bagi kamu!" (Yoh 20:19), kata Yesus. Tetapi tindakan “biasa” ini sebenarnya luar biasa. Sebab yang mengucapkan Salam adalah Yesus yang bangkit! Yesus yang menang! Yesus yang pernah merasakan kepahitan dan penderitaan hidup dan kini menampakkan kuasa-Nya yang membebaskan dengan hadir di tengah ketakutan manusia dan memberikan kekuatan yang melenyapkan ketakutan.

Tentu, kedamaian yang dibawa oleh Yesus bukan kedamaian semu atau untuk disimpan sendiri saja. Kedamaian Yesus ialah kedamaian yang memampukan murid-murid-Nya untuk berkarya menjadi saksi kuasa paska, kuasa kebangkitan hidup. Perhatikan nasihat Yesus selanjutnya (Yoh 20:21). Dalam pengutusan itu, Roh Kudus memampukan murid-murid untuk memberitakan tentang pengampunan dosa oleh Allah melalui Kristus (Yoh 20:23). Lembaran baru kehidupan selalu tersedia di dalam Tuhan Yesus. Murid-murid Yesus mentaati nasihat Yesus. Dalam pembacaan kita selengkapnya kita menjumpai Petrus (Kis. 2:14a, 22-32).

Jelas bahwa kedamaian yang dihadirkan oleh kebangkitan Yesus memberikan manusia pengharapan yang baru (1 Ptr 3:3-9). Sehingga bersama dengan pemazmur kita dapat memuji Allah dan mengatakan “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” (Mzm 16:11). Seminggu sudah kita mengingat dan merasakan kuasa paska. Adakah kita mau melanjutkan kedamaian yang sudah diberikan Yesus kepada orang lain, dengan menjadi alat damai-Nya?

(Pdt. Essy Eisen)
Comments