Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Pikullah Kuk yang Kupasang

diposting pada tanggal 7 Jul 2011 13.21 oleh Essy Eisen
Mat 11: 16-19, 25-30

Marahkah Saudara jika Yesus disebut tukang pesta, tukang hura-hura, atau tukang makan? Dalam Mat 11: 19, dicatat bahwa orang-orang pada zaman hidup Yesus menganggapnya “seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.” Jika kita baca Injil dengan seksama, dapat kita temukan kisah-kisah Yesus datang ke pesta dan jamuan makan. Bukankah mukjizat pertamaNya terjadi di tengah sebuah pesta perkawinan di Kana? Tidakkah kita ingat Dia datang ke jamuan makan di rumah Zakeus? Lagipula, hari terakhirnya bersama dengan murid-murid dihabiskan di sebuah ruangan atas untuk sebuah perjamuan makan malam? Jadi agaknya cukup wajar jika ada pihak-pihak yang mengkritik perilaku Yesus.

Akan tetapi, jika kita baca Mat 11:18, kritik juga dialamatkan kepada Yohanes Pembaptis. Berkebalikan dari Yesus, Yohanes Pembaptis dianggap kerasukan setan karena ia tidak makan dan minum seperti orang kebanyakan. Yohanes sangat saleh, melakukan puasa yang panjang. Entah berpuasa atau bersosialisasi, hamba-hamba Allah ini tetap menanggung beban yang tidak mudah. Mereka dikritik oleh para pimpinan Agama Yahudi saat itu karena menjalani kehidupan yang tidak persis sama seperti yang diatur oleh peraturan-peraturan buatan mereka. Bukan hanya dikritik, keduanya bahkan mati martir karena dianggap tidak sesuai dengan kebijakan pihak yang berkuasa, baik secara politik maupun keagamaan. Ada harga yang perlu dibayar oleh mereka yang sungguh ingin mengikuti panggilan dan jalan Tuhan dan berani melawan struktur kekuasaan para imam dan pemerintah penjajah Roma.

Tuhan Yesus menyadari hal ini. Dia tahu murid-muridNya dan semua orang yang bersedia mengikuti Dia akan menghadapi berbagai tantangan. Oleh karena itu, Ia menghibur kita semua: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang kupasang itu enakdan bebanKupun ringan.”

Kata-kata ini kelihatannya saling bertentangan. Tuhan Yesus berbicara tentang kelegaan, tetapi Ia juga menyuruh kita memikul kuk. Ia berbicara tentang beban dan kuk, tetapi kataNya itupun enak dan ringan. Bagaimanakah orang yang letih lesu dan berbeban berat diminta memikul kuk lagi?

Agaknya kata-kata Yesus ini berkaitan dengan ketidaksetujuannya dengan praktik keagamaan Yahudi saat itu. Para pemimpin agama menyuruh umat melakukan begitu banyak peraturan keagamaan dan peribadahan, seperti suatu kuk dan beban berat, padahal Tuhan tidak menginginkan kehidupan keagamaan yang legalistis. Ia menginginkan hubungan pribadi yang akrab dengan umatnya dan lebih senang umatnya berupaya menegakkan keadilan dan kebenaran daripada sekedar menghitung adas, jintan dan selasih untuk persembahan. Tuhan menginginkan umatNya seperti Yesus dan Yohanes Pembaptis yang tidak membuta memenuhi aturan buatan pimpinan agama, melainkan berani berjuang mengikuti panggilan Allah untuk menyuarakan dan mengupayakan kebenaran. Yesus meminta kita semua memikul kuknya, seperti yang diajarkannya kepada kita melalui Hukum Kasih dalam Mat 22: 37-40. Kuk dan beban itu tidak berat. Kuk Kristus bukanlah deretan peraturan yang membelenggu manusia. Kuk Kristus adalah kemerdekaan (atau kelegaan) untuk mengasihi Allah dan manusia dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi. Inilah kehidupan yang sejati, yang mendapat ketenangan penuh, bukan yang dibebani oleh beban-beban hukum buatan manusia. Namun, ada harga yang harus dibayar untuk menjalankannya, seperti kritikan dan bahkan kemartiran yang dipikul Yesus dan Yohanes Pembaptis. Harga itu adalah beban yang memang tak dapat disingkirkan. Namun, kita diundang untuk belajar kepada Yesus yang lemah lembut dan rendah hati tentang kehidupan yang secara total mengikuti Allah itu. Jika kita sungguh belajar padaNya dan sedia memikul kuk itu dengan pertolonganNya, bukan dengan kekuatan kita sendiri, Tuhan Yesus katakan, ada ketenangan bagi jiwa kita.

Mudahkah ini dilakukan? Ataukah perintah Tuhan memang terlalu sulit untuk dijalankan? Diberkatilah mereka yang berjuang untuk menjalankannya biarpun jalannya sulit.

(Agustian N. Sutrisno)
Comments