Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Persembahan Sebagai Ekspresi Cinta Kasih

diposkan pada tanggal 21 Mar 2014 03.34 oleh Admin Situs   [ diperbarui9 Apr 2016 01.31 ]
(dalam rangka khotbah pengajaran tentang “Persepuluhan”, Minggu 9 Februari 2014 di GKI Taman Aries, Jakarta Barat) 

oleh: Pdt. Essy Eisen 



Motivasi dan dasar yang sehat dalam persembahan

Di dalam nyanyian Pujian Daud (1 Taw. 29:10-19) kita menjumpai pemaknaan yang rendah hati dan jujur dari Daud tentang makna memberikan persembahan. Bagi Daud, segala kebesaran, kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan yang ada di langit dan segala yang ada di bumi diperuntukkan bagi Allah. Jika umat Allah waktu itu mampu memberikan persembahan yang diperuntukkan bagi pembangunan bait suci Yerusalem, apa yang mereka berikan semuanya bersumber dari kasih dan rahmat Allah semata. Kecenderungan hati yang sadar untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah seperti ini, bagi Daud harus terus menerus dipelihara dalam kehidupan umat Allah dengan pertolongan-Nya.

Dalam surat Kolose 3:15, disinggung bahwa sebagai manusia baru, yaitu manusia yang sudah ditebus dari kebodohan dosa oleh Kristus, orang Kristiani harus senantiasa menjadikan pola pikir, sikap hati dan perilaku Kristus menguasai diri. Dalam hati yang demikian, belas kasih kepada sesama, sikap yang adil, menjadi pemacu utama untuk terus terikat dalam persekutuan yang berlandaskan kasih sebagai satu “tubuh”. Di dalam persekutuan kasih itu, ungkapan syukur sepatutnya hadir tanpa paksaan. Jadi dalam kesadaran akan persatuan/persekutuan dengan sesama sebagai “satu tubuh” ungkapan syukur itu menjadi sebuah ungkapan yang mengarah kepada komitmen untuk saling mendukung satu sama lain.

Dua bagian ini, setidaknya menolong kita untuk dapat memaknakan setiap persembahan yang kita berikan bagi Tuhan yaitu: kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain berangkat dari kasih. Inilah yang seharusnya menjadi dasar yang sehat saat kita memberikan rupa-rupa persembahan dalam hidup kita. 
 

Rupa-rupa persembahan di Gereja Kristen Indonesia (GKI)

Di GKI persembahan dipahami secara utuh meliputi persembahan diri (baptisan dan hidup baru setia ikut Kristus sampai mati), persembahan waktu (kehadiran, keterlibatan dalam persekutuan), persembahan tenaga (pelayanan nyata di gereja dan masyarakat) dan persembahan uang. Persembahan dalam bentuk uang diberikan dalam persembahan di kebaktian-kebaktian, persembahan bulanan, persembahan syukur tahunan, persembahan terkait perayaan hari raya gerejawi, persembahan perjamuan kudus, persembahan sulung, serta persembahan khusus lainnya seperti untuk pembangunan gedung gereja, bantuan untuk korban bencana alam, dana kemanusiaan, dana anak asuh serta persembahan lainnya berangkat dari kebijakan Majelis Jemaat.

Walaupun terdapat rupa-rupa persembahan, sifat persembahan itu sama. Tidak diwajibkan karena berangkat dari kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain karena kasih.

Namun pertanyaannya ialah, mengapa seseorang dapat memiliki kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain karena kasih? Jawabnya ialah: karena Allah telah “menjumpai”nya! Allah di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus telah menunjukkan kasih-Nya yang besar. Dengan pertolongan kuasa Roh Kudus, orang akan dimampukan untuk merasakan karya Allah yang menyelamatkan ini.

Allah pertama sekali menjumpai manusia melalui Yesus Kristus, Firman yang hidup, juga Firman yang diberitakan gereja, sakramen, dan hal-hal lain yang dikerjakan gereja manakala gereja dengan benar menjadi rekan kerja Allah memfasilitasi perjumpaan itu dengan turut serta memberlakukan karya pembaruan-Nya. Impresi karya kasih Allah ini kemudian ditanggapi, dijawab, diekspresikan dengan kesediaan untuk berjalan mengikuti Kristus dan menyatakan kasih untuk Allah dan untuk sesama dengan utuh, melalui persembahan hidup. 
 

Persembahan persepuluhan di GKI

Di GKI persembahan persepuluhan tidak ditegaskan secara spesifik sebagai bagian dari rupa-rupa persembahan yang biasanya ada di GKI. Mengapa? Mari kita simak sedikit ulasan mengenai persembahan persepuluhan dalam Alkitab dan sejarah praktek persepuluhan dalam tradisi perjanjian lama dan perjanjian baru.

Di dalam Alkitab, persembahan persepuluhan sebagai sebuah sistem wajib terkait kehidupan bakti umat kepada Allah dan sesama, diperintahkan kepada Harun dan Musa oleh Allah dalam perjanjian-Nya yang pertama untuk mendukung pembiayaan kebutuhan hidup imam dan bani Lewi berserta keluarganya masing-masing, juga kepada perhatian kepada orang-orang miskin. Pengaturan tentang persepuluhan dicatat utamanya dalam Bilangan 18:21-32, Ulangan 14:22-29, Ulangan 26:12

1. Bilangan 18:21-32
  • Persembahan persepuluhan umat diberikan kepada TUHAN untuk kemudian disalurkan kepada Bani Lewi. Persembahan persepuluhan itu sebagai milik pusaka bagi Bani Lewi, sebagai balas atas pekerjaan mereka di kemah pertemuan. 
  • Persembahan persepuluhan yang diterima Bani Lewi harus dipersembahkan sepersepuluh lagi yang terbaik kepada TUHAN untuk disalurkan kepada imam Harun. Sisa dari persembahan itu baru untuk upah mereka. 
2. Ulangan 14:22-27
  • Setiap tahun menyisihkan sepersepuluh dari hasil tanah. 
  • Lalu sepersepuluh dari gandum, air anggur, minyak zaitun serta anak sapi dan kambing dombamu yang pertama lahir, di makan di tempat yang dipilih TUHAN untuk beribadah (kemah pertemuan, bait Yerusalem) sebagai tanda hormat dan kesetiaan kepada TUHAN. 
  • Kalau terlalu jauh, jual hasil bumi itu untuk diuangkan lalu membelanjakan uang itu untuk apa saja yang diinginkan--sapi atau kambing domba, air anggur atau minuman keras- lalu ke tempat yang dipilih Tuhan untuk beribadah (kemah pertemuan, bait Yerusalem) dan makan bersama keluarga dengan sukacita. 
  • Jangan biarkan bani Lewi terlantar. 
3. Ulangan 14:28-29
  • Tiga tahun sekali, sepersepuluh hasil bumi dikumpulkan sekota. 
  • Persepuluhan tiga tahun sekali sekota ini untuk: 
    • Bani Lewi 
    • Orang asing 
    • Yatim piatu 
    • Janda 

Penjelasan Rabi Louis Jacobs (spiritualitas Perjanjian Lama) mengenai Persepuluhan (http://goo.gl/1sFPpR)

Rabbi Louis Jacobs, pemuka agama Yahudi yang tinggal dan berkarya di Perancis pada abad sekarang ini menjelaskan tentang tradisi persembahan persepuluhan mulai dari kebiasaan kuno sampai yang modern demikian:

  • Terumah: setahun sekali, petani/peternak memisahkan hasil (1/60, 1/50, 1/40 atau sesuai kebijakan) untuk persembahan unjukkan, diberikan kepada imam (Kohen) dan persembahan itu tidak boleh dimakan oleh imam yang najis, atau jika terumah-nya buruk, atau oleh yang bukan imam. 
  • Sisa terumah itu disisihkan lagi (Ma`aser): 
    1. Ma`aser rishon : sepersepuluh pertama. Untuk bani Lewi. Lalu bani Lewi ini menyisihkan sepersepuluh dari persepuluhan itu sebagai terumat ma`aser dan diberikan kepada imam (kohen). Sifatnya kudus sama seperti terumah. Sisa terumat ma`aser itu untuk bani Lewi dan boleh dimakan bahkan oleh orang Israel biasa. 
    2. Sisa Ma`aser rishon disisihkan sepersepuluh lagi, yang disebut dengan Ma`asher sheni. Ini dibawa/dimakan di Yerusalem. 
    3. Setiap tiga tahun sekali, Ma`asher sheni ini diberikan kepada orang-orang miskin. Ini disebut sebagai Ma`asher ani. 
    4. Sisa Ma`asher sheni/Ma`asher ani, baru untuk dikelola kembali oleh petani/peternak. 
[Catatan tambahan: Tahun ketujuh adalah tahun Sabat. Hasil bumi pada Ma`aser rishon bisa diuangkan tetapi ditambah 1/5. Ternak tidak bisa diuangkan. Persembahan persepuluhan, wajib hukumnya.]
  • Setelah bait Yerusalem hancur, (70 M) Ma`asher sheni ini tidak dimutlakan dan bebas dimakan di tempat petani/peternak tinggal. 
  • Menurut para rabi, hukum persepuluhan hanya berlaku untuk tanah Israel, dan petani/peternak di diaspora/luar tanah Israel tidak memiliki kewajiban untuk memberikan persepuluhan, meskipun ada beberapa bukti dari masyarakat di luar Israel, di Mesir misalnya, memiliki sistem persepuluhan. Selain itu, sekarang ini mayoritas orang Yahudi tidak lagi tinggal di Israel, dan tujuan persepuluhan untuk pemeliharaan para imam dan orang Lewi, tidak memiliki arti saat ini. 
  • Beberapa sumber rabinik membuat referensi tentang pembaruan sistem memberi persepuluhan dengan menggunakan uang, meskipun tidak terlalu jelas apakah ini dilihat sebagai kontribusi sukarela atau kewajiban. Namun demikian, banyak orang Yahudi yang taat saat yang menyumbangkan sepersepuluh dari pendapatan tahunan mereka untuk amal. Hal ini dikenal sebagai maaser kesafim, pajak pendapatan. 
Dari ulasan singkat Rabbi Louis Jacobs ini jelas terlihat bahwa praktek persembahan persepuluhan telah mengalami dinamika perubahan yang signifikan dalam kehidupan umat perjanjian lama, terlebih lagi sejak bait suci di Yerusalem hancur sekitar tahun 70 M yang mengakibatkan pekerjaan imam-imam tidak ada lagi serta kehadiran bani Lewi sulit dilacak lagi keotentikannya. 
 

Kritik beberapa nabi terkait persepuluhan yang kehilangan makna

Dalam prakteknya sejak peraturan persembahan persepuluhan ditetapkan pada zaman Musa dan Harun, ada beberapa kesempatan kala umat Allah sekaligus para imam dan bani Lewi kehilangan makna kasih, keadilan dan kerendahan hati kepada Allah dalam pemberlakuan penatalayanan melalui persembahan. Beberapa nabi diutus Allah untuk mengingatkan keculasan hati umat-Nya, seperti nabi Nehemia (10, 12, 13), Amos (Am. 4:4) dan Maleakhi (Mal.3). Para nabi itu bukan semata-mata mengingatkan umat Allah untuk memberikan persembahan persepuluhan belaka, tetapi lebih penting lagi, menukik kepada makna terdalam persembahan terkait kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain karena kasih!


Praktek persembahan persepuluhan dalam spiritualitas Perjanjian Baru

Pada masa Tuhan Yesus berkarya secara fisik di bumi, (sekitar 2 SM – 30anM) bait Yerusalem masih ada dan praktek persembahan persepuluhan masih dijalankan. Namun rupanya, mirip dengan keadaan pada masa-masa keculasan umat Allah sebelumnya, Tuhan Yesus mencermati bahwa pemberian persembahan persepuluhan itu tidak diikuti dengan keadilan, belas kasih dan kesetiaan (Mat 23:23; Luk. 11:42, Luk. 18:12).

Sejak Tuhan Yesus Kristus dibangkitkan Allah, naik ke Sorga dan Gereja-Nya hadir, pengikut-Nya menyadari bahwa melalui kehadiran-Nya Allah menyatakan perjanjian-Nya yang kedua, perjanjian yang baru bagi umat-Nya. Melalui karya Kristus sebagaimana penulis kitab Ibrani menegaskan, rupa-rupa cara bakti umat perjanjian lama diperbarui (Ibr. 10:8-10).

Sistem persembahan pada masa itu pun mengalami pembaruan. Jika kita melihat salah satu surat Paulus, Rasul Kristus yang berkarya pada masa gereja mula-mula yang menyinggung soal persembahan, ada model baru dalam pengumpulan persembahan yaitu persembahan sukarela yang disisihkan tanpa menyebutkan presentasi seperti model persepuluhan (1 Korintus 16:1-2, 2 Korintus 8:19, 2 Korintus 9:12). Sejak itu, Gereja berangsur-angsur tidak lagi secara spesifik menegaskan persembahan persepuluhan sebagai sebuah sistem legal dan wajib sebagaimana ada pada zaman perjanjian lama.

Oleh sebab itu kita dapat memahami mengapa di GKI, persembahan persepuluhan tidak secara spesifik ditegaskan sebab:

  • Sejak bait suci Yerusalem hancur, sistem persembahan persepuluhan pun tidak cocok lagi, khususnya persembahan yang diperuntukkan bagi imam dan bani Lewi. 
  • Lalu alasan berikutnya, sebagaimana Tuhan Yesus ajarkan, yang paling penting dari persembahan itu bukan sekadar nominalnya tetapi motivasi yang benar dengan hati yang rela. Kita memberikan persembahan sebagai ekspresi cinta kasih kepada Allah dan sesama dan bukan untuk “memancing” Allah memberkati kita. Persembahan harus disertai kerendahan hati, ketulusan, keadilan, belas kasih dan kesetiaan. 
  • Alasan terakhir, sebagaimana Rasul Paulus menasihatkan dalam surat Roma 12:1, sejatinya Allah menginginkan keseluruhan hidup kita. Bukan sekadar uang atau materi kita belaka. 
Ulasan yang cukup komprehensif tentang persembahan persepuluhan dapat dilihat juga dalam tulisan Pdt. Joas Adiprasetya di http://goo.gl/vhzrRI Beberapa bagian dari tulisan ini diambil dari ulasan pada tautan itu.


Tanya Jawab dalam kebaktian

Pertanyaan bpk. S: Apakah praktek persembahan persepuluhan di GKI berbeda dengan gereja-gereja karismatik yang menekankan dan mewajibkan persepuluhan?

Jawab: Ya, berbeda. Di GKI, bagi yang ingin memberikan persembahan persepuluhan tetap diwadahi namun bukan merupakan kewajiban. Selain itu, persembahan persepuluhan yang dipersembahkan, sebagaimana pada umumnya persembahan-persembahan lainnya, akan masuk ke dalam kas gereja untuk kemudian dikelola bagi pembiayaan kegiatan persekutuan, kesaksian, pelayanan, pembangunan iman jemaat dan pengadaan serta pengelolaan sarana penunjang gereja yang bersangkutan. Jadi bukan untuk pendeta. GKI memiliki sistem yang ditetapkan Majelis Sinode GKI terkait pembiayaan kebutuhan hidup para Pendetanya.

Pertanyaan bpk. S: Apakah saya boleh memberikan persembahan persepuluhan bukan untuk gereja, tetapi untuk hal-hal di luar gereja seperti untuk dana anak asuh, bantuan kesehatan dll?

Jawab: Sejatinya semua persembahan ialah untuk Allah. Persembahan yang diberikan kepada Gereja pun kita hayati untuk Allah. Sebab dalam penghayatan kita, sebagai Gereja-Nya kita diajak Allah untuk menjadi rekan kerja-Nya, ikut serta mengerjakan misi Allah bagi dunia. Namun, misi Allah itu tidak hanya dilakukan oleh Gereja semata bukan? Setiap orang percaya dalam dan melalui karya hidupnya terpanggil juga untuk ikut mengerjakan misi Allah bagi dunia. Oleh sebab itu, memberikan persembahan persepuluhan di luar gereja, selagi itu adalah sebagai tanda kita ikut serta mengerjakan misi Allah, adalah kebijakan yang sehat juga. 
 
Pertanyaan bpk. P: Bagaimana caranya supaya ada totalitas dalam memberikan persembahan?

Jawab: Totalitas lahir dari ketulusan dan bukan paksaan. Dalam pemahaman saya, orang yang memberikan secara total dalam hidupnya adalah orang yang berkenan untuk menerima dan menyambut karya kasih Allah yang datang dalam kehidupannya. Kisah Zakheus (Lukas 19:1-10) memperlihatkan dengan jelas proses ini.

Pertanyaan ibu L: Maleakhi 3:10 (Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.) sering kali ini dipakai sebagai arahan untuk memberikan persepuluhan. Bagaimana kita memahami ayat ini?

Jawab: Ada baiknya dalam memahami ayat ini, kita membaca seluruh kitab Maleakhi dan bukan hanya ayat itu saja. Dalam pembacaan yang utuh, kita akan menjumpai bahwa umat dikritik bukan karena tidak memberikan persepuluhan belaka, atau untuk memperlihatkan Allah yang “akan memberi dengan berlimpah kalau diberi persepuluhan”. Itu merupakan penafsiran yang sempal dan dapat terjatuh dalam pola pikir penyembahan berhala (pesugihan). Apakah Allah begitu “perhitungan” sekali? Apakah bedanya Allah dengan dewa dewi gunung kawi misalnya? Tentu bukan demikian maksudnya.

Penafsiran yang sehat ialah: Maleakhi sedang menyampaikan kritik ilahi kepada umat karena umat tidak setia kepada Allah dalam menunjukkan kasih dan keadilan, baik kepada Allah maupun sesama. Itulah pesan utama Maleakhi. Allah selalu setia dan memberkati umat-Nya (perhatikan Mal.1:2). Namun kasih setia Allah ini mendapatkan respons yang buruk dari umat Allah. Mereka tidak setia dalam mengasihi Allah dan sesamanya. Ketidaksetiaan itu antara lain terlihat dari ketidaktulusan mereka dalam menjalankan ibadah ritual dan sosial (Mal. 2:1-16) Pada zaman Maleakhi, (dan zaman PL pada umumnya) persepuluhan adalah salah satu cara/sistem yang menolong umat untuk menyatakan kesetiaan dan keadilan (demi pembiayaan hidup para Imam dan bani Lewi, serta orang miskin). Dalam salah satu “latihan kesetiaan” itu, yaitu praktek persepuluhan, didapati bahwa umat memiliki motif yang cemar dan tidak tulus (Mal. 3:1-5). Jadi, penekanannya bukan sesempit kepada pemberian persembahan persepuluhannya, tetapi lebih kepada hati dan pikiran umat. Apakah umat telah menyambut kasih setia Allah dengan memberlakukan kasih, kebenaran, keadilan dengan setia baik dalam ritus ibadah maupun perilaku sosial dengan sesamanya? Ini adalah pertanyaan suci yang tegas dari Allah yang sudah menyatakan kasih-Nya kepada umat-Nya.

Pertanyaan ibu D: Apakah persepuluhan relevan saat ini?


Jawab: Sebagai sebuah sistem seperti yang dihayati oleh umat perjanjian lama, menurut saya sudah tidak relevan lagi. Sebab kini sudah tidak ada imam-imam dan bani Lewi. Para penganut agama Yahudi (spiritualitas perjanjian lama) sendiri saat ini, tidak mempraktekkan persepuluhan persis sama seperti yang diamanatkan Allah melalui Musa dan Harun. Namun, jika umat perjanjian baru saat ini, dalam hal ini Gereja, ingin meniru praktek persepuluhan dalam pengertian menyisihkan yang terbaik dengan tegas dan jelas penghasilannya dalam setiap persembahan-persembahan yang diberikannya, itu adalah kebijakan pribadi dan “latihan komitmen” yang tidak dilarang.

Pertanyaan bpk. N: Apakah boleh kita memaknai persekutuan bukan sebatas persekutuan iman belaka, tetapi sebagai sebuah persekutuan umat manusia?

Jawab: Boleh dan bagus. Dalam pengelolaan persembahannya pun gereja-gereja Tuhan pasti memperuntukan persembahan itu bukan semata-mata bagi diri sendiri, tetapi demi terwujudnya damai dan sejahtera bagi banyak orang melalui kehadiran dan karya gereja.

Pertanyaan ibu M: Jika saya ingin mempraktekkan persembahan persepuluhan, itu dihitungnya dari hasil bulanan atau penghasilan bersih atau bagaimana?

Jawab: Dalam tradisi perjanjian lama, praktek persepuluhan dihitung dari hasil bumi/ternak tahunan yang terbaik. Tetapi seperti saya katakan tadi, praktek persepuluhan model perjanjian lama telah mengalami dinamika saat ini, terlebih lagi bagi umat perjanjian baru/gereja. Tetapi kalau ibu ingin memberlakukan praktek persepuluhan sebagai “latihan komitmen” pribadi, ibu dapat memberikan yang terbaik dari setiap hasil karya ibu dalam hidup. Mengenai bulanan, tahunan, mingguan atau harian, hasil bersih, hasil kotor, semua dikembalikan kepada ibu secara pribadi. Yang penting itu semua harus berangkat dari kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain berangkat dari kasih.

Pertanyaan bpk. A: Apakah di gereja ada Badan yang secara khusus mengurus dan mengelola penerimaan persepuluhan?

Jawab: Di GKI semua persembahan yang masuk dikelola oleh Majelis Jemaat dalam tanggung jawab yang penuh dan utuh kepada Allah dan sesama ciptaan-Nya untuk dikelola demi terwujudnya kasih, keadilan, kebenaran dan damai sejahtera bagi segenap ciptaan.

Pertanyaan ibu. N: Dalam peraturan persepuluhan di PL, dikatakan imam yang terkontaminasi tidak boleh menerima persepuluhan apa maksudnya? Lalu siapakah Rabi Louis Jacobs?

Jawab: Imam yang terkontaminasi maksudnya imam yang menurut peraturan keimaman menjadi najis karena misalnya: menyentuh mayat, melakukan pelanggaran dosa dsb. Rabi Louis Jacobs itu adalah Rabi (pemuka agama Yahudi) yang tinggal di Prancis. Pendapat dia saya pilih secara acak melalui internet dan karena penjelasannya cukup populer dan mewakili kelompok orang-orang yang masih menjalankan tradisi spiritualitas perjanjian lama.

Pertanyaan Sdr. Y: Apakah imam-imam digaji? Apakah Pendeta digaji? Bolehkah umat memberikan persembahan kepada pendeta secara langsung?

Jawab: Imam-iman dalam tradisi perjanjian lama pada zaman Musa dan Harun tidak digaji. Sistem persepuluhan adalah sarana bagi mereka untuk mendapatkan pembiayaan hidup mereka.

Pendeta GKI tidak digaji. Sebab pemahaman gaji pada umumnya ialah upah yang diberikan diakhir bulan saat selesai melakukan pekerjaan. Pendeta GKI lebih tepatnya dikatakan mendapatkan jaminan pembiayaan hidup yang diberikan oleh gereja tempat ia bekerja. Pembiayaan itu disebut “jaminan kebutuhan hidup” dan diberikan di awal bulan. Pendeta GKI tidak boleh memiliki pekerjaan di luar pekerjaannya sebagai pendeta. Ia bekerja, melayani di gereja penuh waktu. Oleh sebab itu, kebutuhan hidupnya dijamin oleh Allah melalui Gereja-Nya.

Pemberian persembahan langsung kepada pendeta tidak dilarang dan tidak diwajibkan. Pendeta biasanya memiliki kesadaran kode etik dengan meneruskan persembahan yang diterimanya untuk dimasukkan dalam kas gereja. Ini dilakukan untuk tetap menjaga agar persembahan kepada pendeta secara langsung tidak menjadi sebuah kebiasaan yang umum (lazim).

Sebagaimana persembahan pada umumnya, persembahan langsung kepada pendeta itu pun harus berangkat dari kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain berangkat dari kasih, tanpa ada maksud-maksud lain yang tidak sehat dan bertentangan dengan Firman Allah.

Comments