Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Pengikut Kristus Yang Berpuasa, Berdoa, Berderma (Paska 2015)

diposting pada tanggal 13 Feb 2015 08.34 oleh Essy Eisen
Apa itu berpuasa?

Puasa adalah memilih dengan sadar, tulus, rendah hati dan sukacita untuk tidak melakukan apa-apa yang biasanya dilakukan terkait pemenuhan kebutuhan nafsu lahiriah (Mat. 6:16-18). Puasa bagi pengikut Kristus selalu dilatarbelakangi oleh motivasi yang sifatnya rohani/ spiritual dan jauh dari pementingan diri sendiri. Saat berpuasa, pengikut Kristus melatih diri untuk menerapkan kasih, kerendahan hati, pertobatan dan pengosongan diri dengan mengikuti cara hidup Kristus yang memuliakan Allah (Flp. 2:1-8).

Mengapa berpuasa?
Dalam kehidupan umat Perjanjian Lama (PL) puasa adalah perintah yang wajib dilakukan terkait peringatan akan masa-masa hidup umat yang sulit, seperti: puasa pada Hari Pendamaian (Im. 16:29, 31; 23:27-32; Bil. 29:7), puasa setelah masa pembuangan (Zak. 8:19), juga puasa hari Purim (Est.9:31). Selain itu dicatat juga puasa tak berkala yaitu yang dilakukan: pribadi maupun bersama-sama (Hak.20:26, Yl.1:14), saat sedang sedih (1 Sam.31:13; 2 Sam.1:12; 3:35; Neh.1:4; Est 4:3; Mzm.35:13-14), dan sebagai tanda bertobat (1 Sam.7:6; 1 Raj.21:27; Neh.9:1-2; Dan.9:3-4; Yun.3:5-8). Puasa dalam PL juga dipahami sebagai tindakan merendahkan diri (Ezr.8:21; Mzm.69:10), tanda memohon pertolongan Allah (Kel.34:28; Ul.9:9; 2 Sam.12:16-23; 2 Taw.20:3-4; Ezr.8:21-23) dan dapat dilakukan untuk orang lain (Ezr.10:6; Est.4:15-17). Pada masa PL, ada yang memahami bahwa dengan puasa umat dapat melunakkan hati Allah (Yes.58:3-4). Mengenai pemahaman yang keliru ini, para Nabi mengingatkan makna puasa yang benar (Yes.58:5-12; Yer.14:11-12; Zak.7).

Dalam Perjanjian Baru (PB) rupanya masih ada yang melanjutkan tradisi puasa pada Hari Pendamaian (Kis.27:9). Selain itu, dicatat juga bahwa orang-orang Farisi (pegiat pemberlakuan Taurat), berpuasa dua kali seminggu (Luk.18:12) yang menurut tradisi dilakukan pada hari Senin dan Kamis. Ada juga yang berpuasa sangat sering, seperti misalnya Hana (Luk.2:37).

Pada kitab Kisah Para Rasul, kita menjumpai para pemimpin Jemaat berpuasa saat menentukan pekabar-pekabar Injil (Kis.13:2-3) dan menentukan para Penatua (Kis.14:23). Rasul Paulus sempat menyinggung puasa yang dilakukannya (2 Kor.6:5; 11:27), baik puasa sebagai bentuk ibadah, maupun puasa karena menahan lapar sebagai bentuk kesetiaannya berjalan dalam anugerah Allah dalam pekabaran Injil Kristus.

Bagaimana dengan Tuhan Yesus? Satu-satunya kejadian yang dicatat tentang puasa yang dilakukan Yesus ialah pada saat Ia dicobai di padang gurun. Melalui pencobaan pertama kepada Yesus, kita mengetahui bahwa memang tidak ada makanan di tempat yang dipilih Yesus dalam masa persiapan-Nya menjelang pelayanan-Nya di muka umum (Mat.4:1-4). Puasa selama 40 hari yang dilakukan Yesus ini mengingatkan kita akan puasa Musa (Kel.34:28) dan Elia (1 Raj.19:8). Tuhan Yesus berpuasa saat mempersiapkan diri untuk menjalankan karya pengutusan-Nya di tengah dunia yang memang penuh dengan cobaan ini.

Yesus tidak melarang murid-murid-Nya berpuasa. Yesus mengingatkan jika mereka berpuasa, mereka harus mengarahkan pikiran dan hati kepada Allah Bapa dan bukan untuk dilihat manusia (Mat. 6:16-18). Saat ditanya mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa seperti murid-murid Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi (puasa-puasa dalam PL), Yesus tidak menjegal praktek puasa, tetapi Ia mengatakan bahwa saatnya akan tiba kala murid-murid berduka karena terpisah sesaat dari Kristus, dan saat itulah mereka berpuasa (Mat. 9:14-17; Mrk. 2:18-22; Luk. 5:33-39).

Dengan mengatakan hal ini, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk mengingat akan perjanjian baru yang hadir karena karya kasih-Nya. Puasa murid-murid Kristus adalah puasa dalam perjanjian yang baru, yang senantiasa harus dilakukan dengan menghayati masa peralihan dari hidup lama menuju hidup yang baru. Ada sukacita tetapi juga kerendahan hati untuk mengarahkan diri kepada kasih anugerah Allah melalui kehadiran Kristus. Ada kesanggupan untuk menjalani hidup yang bertobat. Ada kesanggupan untuk menyangkal diri dalam memberlakukan kasih sebagaimana Kristus tunjukkan melalui salib-Nya.

Sebagai kesimpulan, mengapa pengikut Kristus berpuasa? Jelas, dalam Alkitab baik PL maupun PB, praktek puasa dilakukan sebagai tanda keberserahan dan kebergantungan diri pada anugerah Allah. Puasa bagi pengikut Kristus dilakukan seiring dengan penantian dan perjuangan penggenapan Kerajaan Allah yang dilakukan dengan syukur dan sikap hidup yang baru karena anugerah Allah di dalam Kristus. Orang yang berpuasa, dengan sukacita menerima supaya Allah: membentuk, menerangi dan memperbarui hidupnya dengan Firman dan Roh-Nya, sehingga terang kasih dan kerendahan hati Kristus, Anak-Nya, makin nyata dalam hidup, baik bagi hidup pribadi, terlebih bagi sesama ciptaan Allah yang lain.

Bagaimana berpuasa?
Segala tindakan-tindakan yang: memikirkan diri sendiri (egoisme), mementingkan diri sendiri (egosentrisme), mencintai diri sendiri (egofilia), membeda-bedakan orang dalam mengasihi (kompartementalisme), picik, angkuh, tinggi hati, dan sombong secara rohani dilatih untuk ditanggalkan sepenuh-penuhnya dan senyata-nyatanya dalam berpuasa.

Patut diingat bahwa puasa bukanlah upaya pemaksaan keinginan diri kepada Allah. Puasa juga bukanlah bentuk protes kepada Allah dengan menyiksa diri, tetapi puasa adalah tindakan penyerahan dan penyangkalan diri. Puasa harus dilakukan dengan sukacita mengingat kasih Allah melalui Kristus yang begitu besar bagi dunia ini.

Umumnya, ada tiga bentuk puasa, yaitu: puasa makan (minum saja tanpa makan), puasa pantang (minum dan membatasi makanan tertentu), puasa total (tidak minum dan makan). Puasa biasanya dilakukan mulai pagi hari (pk.6.00) sampai malam (pk.18.00) (Hak. 20:26, 1 Sam.14:24; 2 Sam 1:12). Puasa senantiasa harus diikuti dengan doa (Luk. 2:37, 5:33) dan derma (Yes. 58:5-12).

Kapan berpuasa?
Dalam tradisi Gereja-Gereja Reformasi, berpuasa secara berkala atau berpuasa dalam lingkup komunitas yang dilakukan bersama-sama pada waktu-waktu tertentu belum menjadi kebiasaan yang umum. Apakah ini terkait dengan penghayatan akan kata-kata Tuhan Yesus tentang berpuasa pada Matius 6:16-18, bahwa puasa sepatutnya dilakukan secara pribadi dan tersembunyi? Tentu perlu ada penelitian khusus mengenai kebenaran pernyataan ini. Tetapi sebenarnya, sikap Gereja Tuhan Yesus Kristus sejak zaman gereja mula-mula, tidak anti puasa. Perhatikan bahasan di atas tentang puasa dalam Perjanjian Baru. Sampai saat ini pun, secara ekumenis, baik Gereja Timur (gereja ortodoks) dan Gereja Barat (Katolik Roma) menghidupi tradisi berpuasa baik secara pribadi maupun kolektif.

Secara ekumenis, praktek puasa yang umum dilakukan oleh Gereja Tuhan di seluruh dunia secara bersama-sama ialah saat masa pra-paska, yaitu 40 hari sebelum hari Minggu Paska (tanpa dihitungnya hari Minggu, sebab hari Minggu adalah hari kemenangan, hari Paska kecil). Dengan demikian masa pra-paska dimulai pada hari Rabu, yang biasa disebut juga dengan Rabu Abu. Selama 40 hari itu, umat berpuasa. Biasanya puasa dimulai pada pagi hari sampai senja. Masa puasa itu diisi dengan ketekunan doa, perenungan dan pemberlakuan Firman Tuhan dan tindakan berderma bagi sesama.

GKI menghayati keberadaan dirinya yang tidak lepas dari tradisi Gereja-Gereja Reformasi, tanpa mengabaikan semangat untuk tetap terlibat dalam gerakan ekumenis. Oleh sebab itu, tanpa mewajibkan Anggota Jemaat dan Simpatisannya untuk berpuasa pada masa pra-paska, GKI juga menghargai dan membagi ruang bagi kesediaan umatnya yang hendak melakukan praktek puasa pada masa pra-paska sebagai bagian keterlibatan dalam gerakan ekumenis untuk bersama-sama menghayati masa pra-paska dengan sikap hidup yang bertobat, bersyukur, menyangkal diri dan memberlakukan cinta kasih Kristus yang rendah hati dalam latihan rohani: berpuasa, berdoa dan berderma.

Terkait dengan hal ini, maka pada masa pra-paska tahun ini, khususnya pada masa Minggu Suci (Satu Minggu sebelum Minggu Paska yaitu pada tanggal 29 Maret 2015 – 4 April 2015) mulai hari Senin, 30 Maret 2015 – Sabtu, 4 April 2015 akan diadakan buka puasa dan berbagi kesaksian iman bersama di gereja pada pk. 18.00, untuk Anggota-anggota Jemaat dan Simpatisan yang berpuasa, berdoa, berderma pada masa pra-paska tahun ini.

(Pdt. Essy Eisen)

Referensi tentang puasa dalam Alkitab diambil dari:
- Elwell, W. A., & Beitzel, B. J. (1988). Baker encyclopedia of the Bible. Map on lining papers. (780). Grand Rapids, Mich.: Baker Book House.
-Wood, D. R. W. (1996, c1982, c1962). New Bible Dictionary (364). InterVarsity Press.
Comments