Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Memandang dengan kasih

diposting pada tanggal 9 Feb 2011 00.44 oleh Essy Eisen   [ diperbarui9 Mar 2011 15.39 ]
Suatu ketika diadakan pengadilan terhadap orang-orang yang telah meninggal. Setelah hakim menyelesaikan penyaringan, maka yang berhak masuk surga: disitu ada yang dulunya penjahat, ada yang bekas koruptor dan ada orang yang benar-benar seumur hidupnya suci dan taat dari kecil. Maka golongan yang terakhir ini datang memprotes pada hakim: kalau begini pengadilan ini tidak adil, percuma saja saya menjaga hidup saya suci sejak kecil, kalau tahu begitu .......saya juga mau kaya mereka.. dari kekecewaan orang yg hidup suci..
Dari cerita diatas maka ada 3 jenis orang mengapa mau mengerjakan ibadah agama.

Golongan pertama adalah ibadah karena takut. Orang tersebut mau ke gereja karena takut masuk neraka, atau takut tidak dapat selamat. Apabila berbuat baik: takut tidak diakui oleh kelompoknya, tidak korupsi karena takut ketahuan. Tidak selingkuh karena takut kena penyakit. Coba bayangkan orang seperti ini bila korupsi dan tidak ketahuan???, atau selingkuh dan ada obat penyembuh penyakit???.

Golongan Kedua adalah melakukan ibadah dengan dasar untung rugi. Orang seperti ini mau mengerjakan sesuatu bila menguntungkan, misalnya memberi persembahan agar diberi berkat, atau melakukan ibadah agar dapat berkat. Melakukan pelayanan agar diberi berkat, ini lebih nyata pada orang yang melakukan ibadah puasa agar mendapat pahala. Orang seperti ini selalu menghitung untung ruginya didalam melakukan ibadahnya. Mau melakukan pelayanan karena memperoleh berkat. Coba kita bayangkan apabila orang seperti ini setelah cape melayani tidak mendapat berkat malahan kritikan????

Golongan ketiga adalah orang yang mencintai Tuhan. Orang ini melakukan ibadahnya bukan supaya mendapat pahala, atau mendapat kebahagiaan, justru orang seperti ini sudah mendapatkan pahala pada saat dia dengan sungguh-sungguh mau beribadah, pertemuannya dengan Tuhan sudah merupakan kebahagiaan, jadi kebahagiaan sudah menyatu dengan dirinya ketika melangkahkan kaki. Sama seperti orang pacaran, kedatangan itu saja sudah membawa bahagia. Orang seperti ini persis sama yang disebutkan dalam kitab suci: "aku rindu berada dalam barisan orang-orang yang menuju Yerusalem. Orang seperti ini mengamini bahwa mengikut Tuhan adalah jalan yang membawa kebahagiaan.

Dari penggolongan ini tentu kita rindu untuk menjadi golongan yang ketiga yaitu orang yang menyadari bahwa Tuhan itu ada disekitar kita. Bahkan Dia tahu keberadaan kita (setiap helai rambut terhitung jumlahnya). Sehingga kita tahu siapa kita ini dan kemana kita menuju. Dengan kesadaran ini kita akan merasa Tuhan hadir dekat dengan kita, karena kita tahu Tuhan beserta kita dan menyayangi kita. Coba kita bayangkan kalau sebagian besar anggota jemaat Halimun termasuk golongan yg ketiga ini, tentu kebaktian di gereja akan disikapi dgn penuh arti, dengan memandang orang-orang di dalamnya dengan kasih, seperti Allah memandang umat-Nya.

Paulus Trisaputra
Comments