Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Mau jalan singkat?

diposting pada tanggal 11 Mar 2011 05.29 oleh Essy Eisen
Matius 4: 1-11

Saya suka jalan singkat. Siapa yang tidak suka? Semua senang jika tak perlu bersusah-susah, tapi bisa dapat hasil yang baik. Tidak ada yang senang bersakit-sakit dahulu untuk bersenang-senang kemudian, jika bersenang-senang itu bisa terjadi sekarang juga. Semua suka jalan yang mudah dan senang.

Tapi, hati-hati! Ini bisa jadi alat pencobaan si Jahat. Ini yang terjadi di ujung 40 hari puasa Yesus, Tuhan kita, di awal pelayananNya. Iblis mencobai Yesus dengan tiga godaan: memenuhi keinginan manusiawi, menyalahgunakan kekuasaan, dan mendapatkan kekuasaan dan kemuliaan dengan jalan singkat.

Dalam menjawab godaan pertama, untuk membuat batu menjadi roti, Yesus menunjukkan bahwa Dia bukan seorang tukang sihir yang akan mengabulkan keajaiban berdasarkan keinginan manusiawi, bahkan keinginan manusiawiNya sendiri untuk makan roti. Dia tunduk kepada kehendak Allah BapaNya. Aneh juga kalau kita sekarang demi keinginan manusiawi kita memperlakukan Yesus ibarat tukang sihir yang akan memberikan mukjizat kepada kita melalui ritus ibadah, doa atau puasa.

Dalam godaan kedua, Yesus mencontohkan kepada kita bahwa Ia datang untuk melayani Allah, bukan sebaliknya. Si Iblis berpikir bahwa karena Yesus adalah Anak Allah, maka Yesus bisa menyuruh Allah untuk menyelamatkan diriNya kalau Ia menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah. Logika ini terbalik. Allah-lah yang perlu kita layani, bukan kebalikannya. Kita, walaupun disebut anak-anak Allah, juga tidak bisa menempatkan Allah sebagai pelayan kita untuk memenuhi keinginan-keinginan kita. Sebaliknya, kehendak Allah perlu kita ikuti dan jalankan dalam kehidupan kita.

Dalam godaan ketiga, Iblis menunjukkan segala kekayaan dan kekuasaan duniawi yang bisa dimiliki Yesus dengan sebuah jalan singkat: menyembah dirinya. Dengan menolak godaan Iblis, Yesus mencontohkan bahwa tidak ada jalan singkat kepada kekuasaan dan kemuliaan. Jalan untuk kemuliaan itu harus dilewati dengan memikul salib dan menyangkali diri untuk melayani Allah. Demi jalan singkat untuk kemuliaan, kekayaan dan kekuasaan, tak sedikit yang jatuh ke dalam pencobaan si Iblis. Agaknya manusia memang sering lupa bahwa Juruselamat-Nya memilih jalan penderitaan dan kematian sebelum menjumpai terang kemuliaan kebangkitan.

Di Masa Pra-paskah sepanjang 40 hari ini, baiklah kitapun berpuasa, mengikuti teladan Yesus. Barangkali bukan sekedar puasa makan dan minum, tetapi puasa dari keinginan-keinginan manusiawi kita yang berupaya menempatkan Allah sebagai pelayan kita, sebagai tukang pembuat mukjizat untuk membuat jalan singkat yang berujung pada kesenangan diri. Sebaliknya, kita menyangkali keinginan-keinginan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kita berjuang mengikuti panggilan Allah dengan berpegang pada FirmanNya.

Agustian N. Sutrisno

Comments