Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Mau Jadi Jemaat Terkenal?

diposkan pada tanggal 17 Okt 2011 12.00 oleh Essy Eisen
I Tes 1:1-10

Seberapa terkenalkah GKI Halimun? Berapa sering ketika kita ditanya, “Gerejanya di mana?” Lalu kita jawab, “Di GKI Halimun,” kemudian orang-orang langsung mengenalinya,”Oh, gereja itu.” Ataukah jawabannya, “Yang mana yah?” Rasul Paulus, Silwanus dan Timotius menulis surat kepada Jemaat Tesalonika, jemaat yang menurut mereka, “…di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu.” Jemaat ini tidak hanya dikenal di wilayah Makedonia dan Akhaya (yaitu Negara Yunani saat ini), tetapi juga di semua tempat.

Apa yang membuat Jemaat Tesalonika begitu terkenal? Apakah karena paduan suaranya? Pendetanya? Program-program pembinaannya? Gedungnya? Dalam I Tes 1: 1-10 disebutkan beberapa hal: pekerjaan iman, usaha kasih, ketekunan pengharapan, menjadi penurut para rasul dan Tuhan, menerima firman dengan sukacita di tengah penindasan, dan iman mereka. Kelihatannya yang membuat Jemaat Tesalonika begitu tersohor tidak sama dengan hal-hal yang sekarang dianggap penting oleh gereja-gereja. Jemaat Tesalonika menjadi terkemuka karena iman mereka kepada Allah dalam Kristus Yesus.

Dibandingkan dengan karya Paulus di jemaat-jemaat lain, Jemaat Tesalonika relatif singkat menerima pelayanan Paulus. Akan tetapi, mereka dengan cepat beralih dari mengikuti penyembahan berhala dan mereka tetap tekun dalam iman biarpun di tengah penganiayaan. Pada masa itu, menjadi Kristen penuh dengan banyak tantangan dari masyarakat sekitar yang beragama lain. Tidak jarang pula jemaat menghadapi penganiayaan dari pemerintah setempat yang menganggap Kaisar sebagai dewa yang layak disembah, dan orang-orang Kristen yang tidak mau tunduk menyembah Kaisar dianggap pengkhianat negara. Di tengah keadaan seperti itu, Jemaat Tesalonika tetap mewujudnyatakan iman mereka melalui berbagai perbuatan kasih yang ditujukan baik kepada para Rasul maupun juga kepada masyarakat Tesalonika pada umumnya. Iman, perbuatan nyata, dan keteguhan mengikut Tuhan di tengah penderitaan agaknya adalah aspek-aspek kehidupan gerejawi yang paling penting dalam kehidupan gereja mula-mula. Hal-hal inilah yang membuat para Rasul bersukacita atas keadaan jemaat di Tesalonika. Keteguhan Jemaat Tesalonika mengikut Tuhan menjadi teladan yang menguatkan kehidupan iman jemaat-jemaat lain di Makedonia, Akhaya bahkan di provinsi-provinsi lain.

Kita tidak hidup dalam konteks Jemaat Tesalonika. Kita tidak menghadapi penganiayaan dan kebanyakan di antara kita sudah menjadi Kristen cukup lama dan bahkan turun temurun. Akan tetapi, baiklah kita juga berkaca dari aspek-aspek penting kehidupan gerejawi dari abad pertama di Tesalonika. Apakah kita menata kehidupan bergereja yang mengutamakan pembangunan iman anggota jemaat ? Apakah kita memampukan jemaat untuk mewujudnyatakan iman dalam berbagai perbuatan kasih? Apakah kita juga menghidupi iman kita sedemikian rupa sehingga menguatkan iman jemaat-jemaat lain di luar batas wilayah kita? Sekilas, ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting untuk dijawab oleh para pejabat gereja kita. Akan tetapi, setiap anggota jemaat pun patut memikirkan jawabannya. Jemaat hanya bisa berkembang dan menjadi teladan bagi jemaat-jemaat lainnya jika seluruh komponen jemaat bekerjasama aktif dan berpikir aktif untuk mewujudkan teladan iman yang dicatat dalam Surat I Tesalonika. Namun, bukan dengan kekuatan manusia saja kita membangun dan mengembangkan jemaat. Rasul-rasul penulis I Tesalonika tidak melupakan peranan penting Roh Kudus yang menopang kehidupan jemaat Tesalonika. Baiklah kita masing-masing menyumbangkan tenaga, pikiran dan doa kita dengan membuka diri kita untuk dipakai oleh Roh Kudus untuk perkembangan jemaat.

Sebaiknya setiap dari kita mengambil satu pelayanan gerejawi yang sesuai dengan talenta yang Tuhan telah karuniakan untuk bersama-sama mengembangkan jemaat GKI Halimun. Ada banyak pelayanan yang bisa dilakukan atau bisa dirintis asalkan kita terbuka pada tuntunan Roh Kudus. Pelayanan itu tidak perlu dimulai dari suatu rencana yang rumit. Misalnya, kita bisa menyediakan diri untuk menjadi lektor (pembaca Alkitab) di kebaktian. Kalau saudara bisa membaca renungan ini, saya yakin pasti juga bisa melayani sebagai lektor. Mungkin juga, kita bisa menjadi penyambut jemaat di awal kebaktian. Tugas-tugas semacam ini tidak hanya dikhususkan bagi para penatua. Siapa saja boleh ambil bagian aktif dalam pelayanan. Dari hal-hal yang sederhana, mungkin Roh Kudus bisa menggerakkan hati kita untuk mengambil bagian-bagian lain yang lebih besar untuk perkembangan jemaat selama kita mau menjadi alatNya. Apakah ini akan membuat GKI Halimun terkenal? Bukan menjadi terkenal yang penting. Menjadi jemaat yang sesuai dengan kehendak Tuhan, itu yang lebih penting.

(Agustian N. Sutrisno)

Comments