Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Hidup dengan hati seorang hamba

diposting pada tanggal 21 Apr 2011 00.49 oleh Essy Eisen   [ diperbarui24 Mei 2011 09.22 ]
Mzm 118: 19-29; Mat 21: 1-11; Fil 2: 5-11


Apakah Saudara pernah menjumpai keledai? Bagaimana kesan Saudara akan hewan itu? Saya tidak yakin apakah saya pernah menjumpai seekor keledai atau tidak. Mungkin saya pernah melihatnya di kebon binatang sewaktu kanak-kanak, tetapi saya lupa. Hewan ini memang tidak berhabitat di Indonesia. Jadi tidak heran kalau kita tidak pernah atau sangat jarang menjumpainya. Namun, ada peribahasa Indonesia yang berbunyi, “Hanya keledai yang terperosok dua kali di lubang yang sama.” Anak-anak sekolah juga sering menggunakan jembatan keledai untuk menghafal urutan warna pelangi menjadi mejikuhibiniu. Agaknya dari peribahasa dan istilah dalam bahasa kita ini, kita diberikan kesan bahwa keledai bukanlah hewan yang pandai, melainkan bodoh dan kikuk.

Akan tetapi, Yesus Kristus masuk ke ibukota, Yerusalem, menunggangi seekor keledai. Bahkan, ada kerumunan besar penduduk Yerusalem yang menyambutnya laksana seorang raja. Mereka menghamparkan pakaian dan ranting-ranting pohon di jalan sambil berseru,”Hosana!” Ini mungkin terlihat aneh bagi kita yang biasa mendengar keledai bukanlah hewan yang gagah berani. Demikian juga para pembaca awal Injil yang berasal dari latar belakang bukan Yahudi. Raja-raja Yunani dan Romawi mengendarai kuda yang gagah ketika memasuki ibukota mereka. Akan tetapi, raja-raja Israel rupanya memang mengendarai keledai, demikianlah dicatat dalam Za 9:9, misalnya. Penginjil rupanya memang ingin menunjukkan bahwa Yesus adalah raja, namun bukan raja seperti layaknya kebanyakan raja dunia ini.

Rasul Paulus mempertegas pesan yang hendak disampaikan dalam Matius. Menurut Paulus, Yesus telah mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang hamba. Ia yang setara dengan Allah telah menjadi sama seperti manusia dan bahkan mati di kayu salib (Fil 2: 5-11). Yesus memang adalah raja yang sejati, tetapi sang raja rela menjadi hamba yang paling rendah dari semua sampai mati di atas kayu salib yang hina demi “rakyatnya”, demi kita semua. Namun justru melalui kehinaan yang begitu rupa, Allah mengaruniakanNya nama di atas segala nama.

Ini sulit sekali dipahami oleh orang-orang Yerusalem yang menyambutnya sebagai raja di Injil Matius. Mereka barangkali membayangkan seorang raja yang akan membawa pembebasan dari penjajahan Romawi, yang akan mengembalikan kejayaan Israel seperti pada zaman Daud. Namun, Ia malah mati tragis di atas kayu salib. Sayangnya, bagi kebanyakan orang Yerusalem, kisah Yesus berhenti di situ. Mereka tidak melihat dan tidak mempercayai bahwa pada Minggu Paska, Ia bangkit dari antara orang mati.

Sepanjang minggu ini, kita akan menjumpai hari-hari paling suci dalam kalender Kristiani dan mengenang bagaimana sang raja sejati sungguh mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib. Setelah ikut arakan bersama penduduk Yerusalem dalam penyambutan Yesus sebagai raja di Minggu Palmarum hari ini, pada Kamis Putih kita akan bersama mengenang Dia yang membasuh kaki murid-muridNya sendiri, menjadi hamba bagi mereka. Kita ikut mengenang malam itu ketika Kristus memecahkan roti dan mencurahkan anggur di hadapan para murid, sebelum dikhianati Yudas Iskariot. Pada Jumat Agung kita mengingat kembali betapa cepatnya euforia “Hosana” diganti oleh oleh “Salibkan Dia!” Kita teringat akan ejekan Serdadu Romawi dengan menuliskan, “Inilah Raja Orang Yahudi” di atas salib. Hati kita remuk bersama Maria, BundaNya, ketika sang Raja tanpa perlawanan “menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan.” Keesokan harinya, di Sabtu Suci kita dibawa ke gelapnya kubur sang raja, yang ternyata tak bisa mengurungNya dalam Kerajaan Maut.

Dalam minggu yang sangat sarat makna ini kita diundang untuk menghayati kehidupan Yesus Kristus, raja alam raya yang menjalani kehidupan sebagai hamba yang paling hina selama 33 tahun kehidupanNya di dunia. Hidup itu berujung pada pengorbanan diri di atas kayu salib demi orang-orang yang memusuhi diriNya. Selama enam minggu masa Pra-Paska, kita dipanggil untuk menyatakan pertobatan. Dalam minggu Pra-Paska terakhir ini, menjadi jelas bagi kita bahwa pertobatan yang sejati menuntut pengorbanan diri dan kerelaan untuk menjadi hamba bagi orang-orang lain, bahkan mereka yang memusuhi kita.

Agustian N. Sutrisno

Comments