Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Di dalam kekuatan kuasa Allah

diposting pada tanggal 16 Jan 2016 05.34 oleh Essy Eisen
Efesus 6:10-17

Tidak perlu kecil hati atau merasa pesimis jika Gereja mengalami rupa-rupa permasalahan. Sedari awal Gereja, yang dihimpunkan Allah Tritunggal memang ada dalam ziarah, berproses dan belajar. Jika Gereja sudah sempurna maka kita tidak akan pernah menjumpai surat-surat Pastoral dari para Rasul yang dengan telaten memberikan bimbingan, arahan, nasihat, teguran dalam segenap lingkup kekayaan hikmat Roh-Nya.

Tetapi meski demikian, Gereja tidak pernah boleh tenggelam di dalam kekerdilan sikap determinisme, sehingga tenggelam dalam keengganan untuk melalukan banyak hal yang dapat dilakukan sebagai umat yang sudah mendapat begitu banyak kelengkapan hidup untuk menyatakan kabar baik bagi konteksnya.

Di penghujung suratnya ini, Paulus, yang walaupun berada dalam belenggu rantai penjara, tetap mengarahkan pandangannya kepada kekuatan yang Allah berikan bagi Gereja. Karena perjumpaannya dengan Kristus yang bangkit, Paulus sangat yakin bahwa akhir perjuangan dari Gereja Tuhan bukanlah salib di bukit tengkorak, tetapi pada kekuatan kehidupan yang bahkan menghasilkan kehidupan di mana kuasa maut tidak lagi menakutkan.

Akan ada konflik di dalam perubahan hidup. Tentu konflik yang sehat. Konflik yang dalam bahasa Paulus dipertegas antara kuasa Allah dan kuasa Iblis. Antara kuasa yang memberikan kehidupan dan kuasa yang tujuan akhirnya membinasakan. Perjumpaan yang hidup dengan Kristus, relasi yang akrab dengan Kristus, akan memampukan Gereja mengenali kuasa-kuasa yang membawa kepada kehidupan. Bukan hanya itu, dengan kuasa Allah itu, Gereja senantiasa dikuatkan entah dalam keadaan “bertahan atau menyerang”.

Menjadi amat miris, jika Gereja Tuhan Yesus Kristus tidak mengenali kekuatan yang membinasakan kehidupan umat manusia. Belum lagi jika menurut bahasa Paulus “perlengkapan rohani” tidak dimiliki. Atau kalaupun sudah dimiliki, tidak pernah diajarkan betapa pentingnya untuk menggunakan perlengkapan-perlengkapan itu. Bahkan menjadi amat celaka, jika Gereja kemudian bermain dalam zona aman, menghindari konflik dan berkompromi dengan kuasa yang membinasakan.

Musuh yang tidak terlihat memang lebih sulit ketimbang yang terlihat. Bagi kita yang membaca surat Paulus pada zaman ini, kita juga boleh memahami bahwa Paulus juga berbicara mengenai kecenderungan-kecenderungan, motif-motif yang berdaya kuasa entah untuk melahirkan sesuatu yang berguna dan menjadi berkat, atau yang membawa bencana dan maut.

Dengan menggunakan gambaran seseorang serdadu yang sigap berperang, imajinasi kita dibawa oleh Paulus untuk mengedepankan nilai-nilai luhur kehidupan beriman berangkat dari hikmat Firman Allah yang melingkupi kebenaran, keadilan, dengan segenap kerelaan melanjutkan Injil sebagai kabar solutif bagi dunia. Ini yang harus menjadi pilihan Jemaat Efesus. Ini menjadi kekuatan Gereja Tuhan.

Pertanyaannya: apa yang menjadi sumber kekuatan kita sebagai Gereja? Apa yang kita gunakan sebagai “senjata” sebagai Gereja-Nya? Apakah kita mengenali apa-apa yang sedang kita lawan?

Pdt. Essy Eisen
Comments