Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!

diposkan pada tanggal 2 Des 2011 07.13 oleh Essy Eisen
Mrk 1: 1-8

Bayangkanlah suatu hari di depan GKI Halimun berdiri seseorang yang berpakaian lusuh, kurus kering, dengan potongan rambut acak-acakan mulai berteriak-teriak setelah kebaktian minggu selesai: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!” Tidakkah kita bersama-sama akan mengusirnya?

Demikianlah kira-kira penampilan Yohanes Pembaptis jika ia hidup di zaman kita. Memang mungkin dia tidak akan muncul di depan gereja. Dia anti kemapanan dan anti hirarki rohaniwan. Dia barangkali akan menelusuri jalan-jalan Jakarta dan mengajak orang banyak, kaum papa dan mereka yang dianggap gereja terlalu berdosa untuk bertobat dan mengalami kasih Allah.

Terus terang kalau saya mendengar seruan Yohanes Pembaptis yang dikutip di atas, saya akan mulai mengkritiknya. Itu berita yang terlalu sederhana. Hidup Kristen tidak bisa cuma sekedar mengaku bertobat dan minta dibaptis. Harus ada buah-buah pertobatan. Sebelum dibaptis, orang harus ikut katekisasi. Setelah itu ia perlu ikut pembinaan, malah kalau perlu sekolah teologi. Khotbah saya pun tidak terlalu banyak mengajak orang bertobat dan dibaptis. Itu khotbah gereja aliran lain, bukan GKI.

Namun, berita Yohanes Pembaptis yang begitu pendek menurut catatan Markus agaknya lebih mengena daripada khotbah panjang saya. Berita pertobatan yang dibawanya bukan sekedar ucapan belaka. Berita itu dipertegas oleh gaya hidupnya yang begitu merakyat. Dengan berjubah bulu unta, berikat pinggang kulit, makan belalang dan madu hutan, ia menolak semua kemapanan palsu para imam di Yerusalem dan otoritas pemerintah Herodes dan Kekaisaran Roma yang menyengsarakan rakyat. Ia solider dengan orang-orang papa dan “berdosa” yang dibuang oleh para penguasa karena tidak cukup kelihatan saleh dan tidak cukup mampu membayar pajak kepada penguasa. Tak heran ada banyak orang yang mau mengikuti seruannya. Yohanes Pembaptis menawarkan penerimaan dan kasih tulus Allah yang terbuka bagi siapa saja selama mereka sungguh mau bertobat dan mengakui pertobatan itu di depan khalayak ramai melalui baptisan di Sungai Yordan.

Mengapa pertobatan yang bersifat pribadi itu perlu diakui di depan banyak orang? Ini ada sangkut pautnya dengan sebuah istilah modern: akuntabilitas alias pertanggungjawaban. Apakah gunanya mengakui diri bertobat tetapi tidak ada sesama kita yang bisa mengingatkan kita tentang kesalahan-kesalahan kita? Apalah artinya mengakui di dalam hati bahwa kita mau bertobat dan meninggalkan dosa tetapi tidak diikuti dengan kehidupan yang betul-betul bertobat? Terlalu sering retret dan KKR yang diisi dengan dedication service atau altar call menjadi tak bermanfaat karena pertobatan itu tidak diikuti dengan akuntabilitas dan pertanggungan jawab kita kepada orang-orang lain. Dengan mengundang para pemungut cukai dan pelacur untuk menerima baptisan, Yohanes mendorong orang-orang banyak yang menyaksikannya untuk berani memeriksa kehidupan mereka yang mengaku bertobat. Apakah mereka terus memungut cukai? Apakah mereka melanjutkan lacurnya?

Bukankah berita Yohanes Pembaptis juga merupakan berita Tuhan Yesus? Bukankah berita Yohanes Pembaptis juga seharusnya merupakan berita gereja pada masa ini? Dalam masa Advent ini marilah kita berseru, “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!” Terlebih lagi, marilah kita nyatakan pengakuan pertobatan itu dalam tindakan nyata dan bertanggung jawab untuk kemuliaan nama Tuhan dan Penebus kita Yesus Kristus.

(Agustian N. Sutrisno)
Comments