Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Berapa lama lagi, TUHAN, Kau lupakan aku terus-menerus?

diposting pada tanggal 7 Jul 2011 13.16 oleh Essy Eisen
Mazmur 13

Pernahkah Anda berada dalam keadaan itu? Keadaan yang begitu sulit untuk diterima sehingga kita bertanya-tanya, apakah Allah sungguh mengindahkan kita? Apakah Allah sungguh mengingat umatNya?

Beberapa waktu yang lalu saya bekerja di kantor yang kelihatannya menyenangkan. Awalnya semua kelihatan baik dan tim stafnya bekerja dengan kompak. Namun, karena satu dan lain hal, satu-persatu staf mulai meninggalkan kantor itu karena tidak tahan dengan keadaannya. Kantor itu seumpama kapal yang sedang tenggelam. Setiap ada perpisahan untuk staf yang mendapatkan pekerjaan baru, kami yang masih tertinggal merasa sedih karena sudah ada “sekoci” yang membawa mereka pergi ke tempat yang (kelihatannya) lebih baik. Satu-persatu, rekan-rekan saya itu mendapat sekoci untuk menyelamatkan diri. Pada akhirnya, tinggal satu rekan saya yang belum mendapatkan pekerjaan baru dan kemarin saya mendengar kabar bahwa dia sudah mendapat pekerjaan baru. E-mailnya bertopik, “Aku sudah dapat sekoci.” Saya sangat senang mendengar kabar itu, karena akhirnya dia keluar dari keadaan yang tidak menentu dan tidak menyenangkan setelah menanti beberapa tahun lamanya.

Tentunya ketidaknyamanan bekerja di kantor yang hanya berlangsung delapan jam sehari tidak sebanding dengan penderitaan yang berlangsung lama dalam kehidupan keseharian seseorang. Bagi mereka yang sakit menahun, mereka yang berada dalam pernikahan yang sulit, mereka yang dirongrong oleh orang yang seharusnya mengasihi mereka, mereka yang hak-hak asasinya dihalangi dan bahkan dicabut. Penderitaan semacam ini benar-benar butuh sekoci. Namun, sekoci itu tidak tidak datang-datang juga dan kapalnya terus tenggelam.

Pemazmur agaknya mengalami keadaan yang begitu buruk. Katanya, “Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati.” Keadaan hidupnya begitu menyusahkan sehingga dia merasa hampir mati dan tidak kuat lagi. Dia berseru kepada Tuhan di tengah keputusasaannya. Akan tetapi, pemazmur tidak berhenti hanya pada seruan keputusasaan saja. Pemazmur tetap percaya pada Allah. Ia berseru, “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatanMu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.”

Hidup mungkin melemparkan begitu banyak tantangan dan kesusahan, namun kiranya kita tetap memimiliki iman kepada Allah. Kita boleh percaya bahwa Allah tetap berbuat baik kepada umatNya. Ia tidak berlambat-lambat untuk menyelamatkan dan menolong umatNya. Ini tidak berarti kita diam saja menunggu saat penyelamatan Allah. Teman saya yang kemarin mendapatkan pekerjaan baru tidak diam saja menangisi pekerjaan yang tidak menyenangkan. Ia berupaya mencari pekerjaan baru dengan sabar sampai mendapatkannya. Demikian juga dengan setiap kita. Di tengah keadaan yang sulit, kita percaya bahwa Allah tidak dengan kejam memperpanjang kesulitan kita. Ia bukan Allah yang bersukacita atas penderitaan umatNya. Ia mau menolong kita dan kita juga perlu terus berupaya. Bersama dengan orang-orang beriman lainnya di gereja, kita bersama-sama terus menguatkan iman satu sama lain dan membangun iman kita kepada Allah yang senantiasa baik, bahkan jika keadaan di sekitar kita seolah-olah mengatakan Allah tidak baik.

Dietrich Bonhoeffer mengatakan, “God does not give us everything we want, but He does fulfil His promises leading us along the best and straightest path to Himself.” Tuhan tidak memberikan segala sesuatu yang kita inginkan, tetapi Ia sungguh menepati janjiNya, memimpin kita dalam jalan yang paling baik dan paling langsung menuju DiriNya. Kiranya oleh pertolongan Allah, kita ditemukan senantiasa beriman bahkan ketika kehidupan terasa begitu berat. Kiranya oleh pertolongan itu kita sampai kepada DiriNya, tepat pada waktuNya.

(Agustian N. Sutrisno)

Comments