Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Allah nimbrung

diposting pada tanggal 22 Des 2015 22.18 oleh Admin Situs
Natal bukan sekadar tradisi. Bukan sekadar juga hari raya besar umat Kristen. Sebab bisa jadi kita terjebak dalam kebiasaan dan suasana belaka. Padahal perayaan setiap hari besar keagamaan sejatinya harus menjadi sarana untuk introspeksi diri dalam melahirkan tindakan-tindakan nyata yang berangkat dari iman terkait makna yang ada dalam hari raya itu. Ada apa di hari Natal? Melalui Injil-Injil khususnya Injil Lukas dan Matius kita menjumpai Allah yang nimbrung. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan nimbrung seperti ini: nimbrung/nim·brung/ v cak 1 datang dan turut serta (makan, minum, bercakap-cakap, dan sebagainya); 2 mencampuri urusan orang lain.

Allah nimbrung. Itulah Natal. Allah, karena cinta kasih-Nya selalu sama dahulu sekarang dan selama-lamanya mengambil langkah jitu untuk memperbarui dunia ini. Ia memilih hadir menjadi seorang anak manusia. Mengapa langkah ini dikatakan jitu? Sebab, jika dahulu dunia ini menjadi rusak karena manusia begitu mudahnya terseret dan terpikat oleh godaan dosa, maka untuk memperbaikinya, Allah nimbrung, mencampuri, mengintervensi dunia ini, melalui kehadiran anak manusia yang Kasih-Nya luar biasa dan menjadi Teladan yang patut diikuti, disembah, diagungkan, didengarkan di dalam Yesus Kristus. Kalau melalui Adam, sosok yang mewakili anak manusia perdana, banyak orang mengenal dosa, maka melalui Yesus Kristus, banyak orang mengenal Allah yang menyapa, menolong, menguatkan, membimbing kepada keselamatan, kehidupan, kepada jalan yang terang menuju rahmat Allah.

Keilahian yang memulihkan
Dalam Yesus Kristus kita menjumpai keilahian dan keinsanian. Kesucian sekaligus kemanusiaan yang tak terpisahkan. Kehadiran para malaikat dalam mimpi Yusuf dan Maria, kesesuaian dengan nubuat para nabi, kelahiran dari seorang anak dara, adalah tanda-tanda yang jelas menunjukkan keilahian Yesus. Namun secara bersamaan juga kita menemukan bahwa keilahian itu bukanlah keilahian yang dihadirkan jauh dari kenyataan manusia pada umumnya. Apa buktinya?

Pilihan Allah untuk mengutus malaikat kepada para gembala, kelahiran Yesus di dalam palungan, dibesarkan di dalam didikan seorang tukang kayu/bangunan, memulai karya pemuridan di kalangan para nelayan di Galilea, menjadi petunjuk yang kentara bahwa keilahian Kristus adalah keilahian yang memulihkan. Kristus peduli kepada yang lemah, yang tersisih, yang berada di dalam tekanan hidup. Pada zaman itu Kaisar Romawi memproklamirkan diri sebagai Tuhan, sosok ilahi yang harus ditakuti dan disembah. Pada zaman itu juga para pemuka agama mengklaim diri bahwa pemberlakuan kitab suci menjadi satu-satunya jalan untuk lepas dari dosa, tetapi diiringi dengan serangkaian tuntutan yang membebani dibalut dengan rupa-rupa kemunafikan dan ketidakpedulian kasih kepada sesama. Keadaan yang buruk ini tidak didiamkan Allah!

Allah nimbrung melalui kehadiran Yesus Kristus. Natal Kristus dengan demikian menjadi jalan yang sungguh sangat melegakan dan membahagiakan bagi dunia ini, karena berita besarnya kini bukan lagi manusia mencari-cari Allah yang jauh dan hampir tidak bisa didekati dengan rupa-rupa syarat keagamaan, tetapi Allah yang justru mencampuri keadaan manusia yang sangat butuh pertolongan segera, yang sangat butuh kasih yang nyata, hidup yang baru, perjanjian yang baru. Seolah-olah melalui Natal Kristus, Allah mau mengatakan kepada semua manusia: “Aku tahu apa yang kamu alami. Aku mengerti kesusahan kamu. Aku turut merasakan apa yang kamu rasakan. Lihat, Aku ada bersama-sama kamu. Aku mengasihi kamu!”

Jika demikian, saat merayakan Natal, seharusnya tidak lagi kita membeberkan rupa-rupa alasan bahwa kita ini tidak berharga, tidak cukup suci, tidak mengerti kitab suci, penuh dengan dosa dan alasan-alasan lain yang berangkat dari pementingan diri, yang hanya akan menjauhkan diri dari kabar baik untuk hidup enak-enakan di dalam dosa. Sebab pada Natal Kristus, Allah sudah nimbrung dalam kehidupan manusia dan turut serta merasakan keterbatasan, kesusahan, ketersisihan, kemiskinan, kegelisahan manusia.

Namun tidak seperti Adam, Kristus tidak berakhir dalam kebinasaan. Kelak bayi kecil di palungan Betlehem itu menjadi dewasa, berkarya, mengajarkan jalan yang membawa kepada kehidupan, mencelikkan kebutaan hati nurani, melenyapkan ketulian manusia dalam mendengar perintah Allah, membuat orang yang lumpuh untuk kembali berkarya memuliakan Allah, membangkitkan orang yang mati asa dan menghadirkan pengharapan yang tidak dapat dimatikan oleh kuasa dosa. Semua menunjukkan bahwa kasih Allah sungguh nyata-senyata-nyatanya. Sungguh sebuah pembaruan hidup bagi manusia bukan? Dengan mengimani Kristus, mengikuti Kristus, manusia lepas dari kebobrokan dosa, untuk beroleh keselamatan yang penuh kedamaian!

Menjadi sederhana
Lalu jika Allah nimbrung, apa tanggapan kita di Natal 2015 ini? Sekarang ini kita tidak lagi menjumpai kaisar, gembala, malaikat. Tetapi bukankah sosok kaisar tetap dapat kita temukan dalam diri orang-orang yang menganggap diri serba kuat dan bahkan hampir sama seperti Tuhan? Orang-orang yang menindas dan mengeksploitasi yang lain karena haus harta dan kuasa? Bukankah kita pun acap kali masih menjumpai sosok buruk keagamaan saat agama justru menjadi alat untuk menambah beban ketika diikuti dengan kebencian, permusuhan, kekerasan, manipulasi dan keangkuhan? Dan tentu juga ada sosok para gembala. Orang-orang yang sederhana, yang merindukan pertolongan Allah, yang cukup rendah hati untuk mendengar berita Natal, bergegas menjumpai Kristus dan mengalami pembaruan hidup karena kehadiran Kristus.

Orang-orang yang sederhana seperti para gembala memang akan lebih mudah membiarkan Allah nimbrung. Sebab pada zaman sekarang ini dengan kemudahan sarana informasi, komunikasi, transportasi, seseorang dapat menjadi begitu rumit dengan banyaknya pernak-pernik pemikiran yang berujung pada kekhawatiran, pesimisme, kebimbangan, sehingga kehilangan tenaga dan cinta untuk menjadi orang-orang yang sederhana, yang mengasihi melalui hal-hal yang sederhana, yang membiarkan Allah nimbrung di dalam hidupnya.

Selamat Natal.

Pdt. Essy Eisen
Comments