Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus

diposkan pada tanggal 29 Jul 2011 17.35 oleh Essy Eisen
Roma 9: 1-5

Di Brisbane tidak ada banyak orang Yahudi. Hanya ada satu Sinagoge yang pernah saya jumpai di pusat kota. Sinagoge itu pun cukup kecil. Ini berbeda dengan Grand Synagogue di Elizabeth Street, Sydney yang besar dan menyolok. Di Bondi, dekat Pantai Bondi yang terkenal di Sydney, kita bisa menemukan banyak orang Yahudi. Jika berkunjung ke daerah Bondi sekitar jam pulang sekolah, kita bisa bertemu dengan banyak anak –anak Yahudi pulang dari sekolah khusus Yahudi dengan seragam uniknya.

Akan tetapi, penelitian tentang agama dan masyarakat di Amerika menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi adalah bagian dari masyarakat yang paling sekuler. Mereka, karena pendidikan tingginya, kebanyakan tidak percaya Tuhan lagi. Entah seorang ateis atau agnostik. Sinagoge-sinagoge mereka juga banyak yang kosong dan kebanyakan keluarga Yahudi tidak lagi mengikuti ajaran agama Yahudi dan tradisi keagamaan mereka.

Jauh dari bayangan banyak orang di Indonesia bahwa banyak orang Yahudi di negara –negara Barat rajin menjalankan ajaran agama dan mendukung gerakan Zionisme, pada kenyataannya rata-rata orang Yahudi tidak terlalu mementingkan hal-hal tersebut. Mereka lebih sibuk mengurus hidup pribadi, karir atau usaha, dan pendidikan mereka. Ini juga berbeda dari zaman Rasul Paulus.

Pada masa itu, orang-orang Yahudi kebanyakan teguh memegang Taurat dan tidak mau mendengarkan Injil yang diberitakan Paulus. Sebagai seorang Yahudi, Paulus merasa kecewa akan saudara-saudara sebangsanya. Bukan hanya kecewa, ia merasa sangat sedih karena menurutnya penolakan mereka akan Injil yang diberitakan bisa membawa mereka pada keterpisahan total dari Allah. Mereka kehilangan kesempatan untuk membangun persekutuan dengan Kristus yang diimaninya sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia.

Oleh karena kesedihan dan keprihatinan yang mendalam itu, Paulus menyatakan bahwa dia “mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.” Betapa menakjubkannya pernyataan itu. Rasul Paulus, pelayan Kristus, amat mengasihi Tuhan Yesus. Dia sendiri rela mati martir demi imannya kepada Tuhan Yesus. Namun, di dalam Surat Roma, dia rela menukar segala kasih Kristus dan jaminan keselamatan yang diterimanya demi kemungkinan agar saudara-saudara Yahudinya boleh menerima Injil.

Beberapa waktu yang lalu ketika membaca ayat-ayat ini, saya mendapat gambaran bahwa Rasul Paulus adalah seorang fundamentalis Kristen yang tidak bisa membiarkan dan menerima orang-orang Yahudi memilih agama dan keyakinan mereka sendiri. Akan tetapi, ketika saya membaca ayat-ayat ini kembali dan mengingat pengorbanan Tuhan Yesus, saya mendapat gambaran yang lain. Menurut saya di sini Rasul Paulus meneladani sikap Tuhan Yesus. Tuhan Yesus rela terkutuk dan terpisah dari Allah Bapa demi kita manusia yang berdosa. Demi orang-orang seperti saya, saudara dan Paulus, Dia rela terlepas dari persekutuan kekal dengan Allah di atas kayu salib. Adakah kasih yang lebih besar dari itu? Kasih yang sampai rela terpisah dari persekutuan dengan Tuhan demi orang-orang yang sesungguhnya tidak layak mendapatkan kasih Allah.

Relakah Rasul Paulus terpisah dari Kristus demi orang-orang Yahudi yang hidup sekarang, mereka yang telah memilih hidup sekuler dan melupakan iman kepada Allah? Saya yakin jawabannya tetaplah ya. Ia tetap akan rela terpisah dari kasih Allah selama ia boleh melihat saudara-saudara sebangsanya menerima Injil. Relakah Kristus terpisah dari kasih Allah demi orang-orang agnostik dan ateis, mereka yang telah menghapus Allah dari kosa kata mereka? Saya yakin Dia tetap rela. Demi mereka ini, Ia telah kehilangan nyawanya. Demi kita yang tidak layak, Dia menanggung kutuk dan keterpisahan dari Allah. Demi saya dan saudara-saudara.

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh 15: 12-13).

(Agustian N. Sutrisno)
Comments