Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Ada apa di Malam Natal?

diposkan pada tanggal 27 Des 2010 10.26 oleh Essy Eisen   [ diperbarui27 Des 2010 10.51 ]
Dan kini kita ada di malam natal. Ada apa di malam natal? Ada kebaktian yang khusus. Ada hiasan. Ada apa lagi? Apa yang akan kita ceritakan saat orang bertanya, "Ada apa di malam Natal?"

1. Penginjil Lukas menceritakan ada beberapa hal yang terjadi pada malam natal.

Pertama sekali ada sensus. Ada perintah dari yang berkuasa pada zaman itu. Perintah itu bernuansa otoritatif tetapi juga sedikit manipulatif. Sebab saat jati diri mereka tercatat, mereka diwajibkan untuk membayar pajak kepada pemerintah romawi untuk pembiayaan sebuah idealisme besar kekaisaran romawi untuk memerintah dunia dengan damai – Usaha yang kemudian dikenal dengan istilah “Pax Romana”. Saat itu Kaisar dianggap sebagai Tuhan. Ya! Tuhan. Sebab adakah yang lebih berkuasa ketimbang orang Roma yang pada saat itu memiliki banyak dewa dengan sistem pemerintahan dan persenjataan yang mutakhir? Di tengah kedigdayaan kuasa yang dibangun oleh orang yang menyamakan diri dengan Tuhan itu, keluarga Yusuf pergi ke Betlehem, ke kampung halamannya.

2. Kedua, pada malam natal ada keluarga yang tersisih. Keluarga siapa? Keluarga Yusuf. Walaupun pulang ke kampung halaman, rasanya pintu rumah saudara-saudara mereka tertutup untuk saudara yang dianggap sudah membawa "aib" keluarga besar itu. Yusuf dan Maria tidak mendapat tempat untuk menginap. Entah apa yang ada di benak Yusuf dan Maria. Mereka mendengar tentang betapa kuasa Allah dinyatakan dengan ajaib pada bulan-bulan sebelumnya melalui mimpi, melalui berita malaikat dan mereka mengimaninya tetapi beriman ternyata tidak semudah mengaminkannya. Kenyataan yang dihadapi pada waktu itu jauh dari bayangan indah mereka. Taat akan janji Tuhan memang tidak mudah.

Tentu, akhirnya anak laki-laki mereka lahir. Lahir di ruangan ternak. Terbungkus kain, diletakan dalam tempat makan ternak berbentuk palung.


3. Ketiga, pada malam natal ada rutinitas yang dijalani sekelompok orang yang biasa. Mereka tidak begitu fasih akan hukum-hukum agama, mereka tidak terlalu giat dalam beragama. Yang mereka mampu lakukan adalah bekerja-bekerja dan bekerja. Mungkin sesekali mengeluh, sebab hari ke hari, pemerintahan menjadi tidak jelas. Para agamawan, para farisi, orang terpelajar, seolah-olah tidak berpihak pada kesederhaan mereka. Raja Herodes berkoalisi dengan pemerintahan romawi menjadi raja boneka yang haus kuasa. Yerusalem dengan tempat ibadah besarnya tidak membawa kesegaran bagi hidup kerohanian mereka. Ya. pada malam natal ada orang-orang yang seperti mereka ini. Mereka adalah para gembala di padang efrata.



4. Jadi pada malam Natal kita mendapati ada: pemerintah yang mengganggap diri serba bisa, bahkan seperti Tuhan. Ada keluarga yang tersisih, berjuang dalam ketaatan iman. Ada rutinitas dari orang jelata yang haus akan pembebasan jasmani dan rohani. Itulah yang terjadi pada malam natal.

5. Entah kebetulan atau tidak, suasana ini juga mungkin hadir saat ini? Pemerintah rasanya menutup mata dan telinga terhadap tindakan diskriminasi. Orang sulit untuk beribadah. Hidup mengikut Tuhan menjadi tidak mudah, karena seolah-olah apa yang dijanjikan Tuhan tidak seperti yang kita hadapi dalam kenyataannya. Sebuah malam natal yang menakutkan bukan?

6. Tetapi justru di dalam ketakutan itu ada seruan sorgawi. "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." (Luk 2:10-12)

7. Rupanya di malam natal masih ada yang lain. Dan yang lain ini tidak dilihat oleh banyak orang pada waktu itu. Apa itu? Ada Raja Penyelamat, Yang diurapi Allah, dialah Tuhan yang sesungguhnya, Dia lahir di kota Daud, dibungkus lampin, terbaring di palungan. Dialah Yesus.

8. Rupanya Allah berkarya dengan cara yang berbeda dari kebiasaan pada umumnya. Cara Allah ialah masuk ke tengah-tengah ketakutan-ketakutan manusia untuk memulihkannya. Seperti obat yang berproses mencari sumber rasa sakit untuk melenyapkan bibit penyakit. Allah memilih jalan kerendahan untuk menyelamatkan manusia segala bangsa. Dan itulah yang paling utama di malam natal. Allah menjelma menjadi daging, menjadi manusia, di dalam diri Yesus, Tuhan dan Juruselamat sesungguhnya.

9. Gembala dengan rutinitas yang sama melihat pekerjaannya menjadi bermakna, sebab mereka dipilih Allah untuk mendengar berita sukacita. Ternyata yang berkuasa bukan kaisar. Karena rahmat Allah, kini mereka tidak perlu malu untuk menjadi orang jelata yang tidak tahu agama, sebab Allah memedulikan mereka. Di hati Allah selalu ada tempat bagi ketulusan mereka. Allah berkenan memulihkan dan memperbarui mereka.

10. Dan tentu, Yusuf dan Maria, tidak perlu merasa bimbang lagi sebab berita malaikat ternyata bukan hanya di dengar oleh mereka, tetapi juga oleh para gembala. Ini menjadi penegasan bahwa sungguh Anak yang dilahirkan itu bukti dari kepedulian Allah bagi umat-Nya dan banyak orang.

11. Mengenang natal Yesus Kristus berarti menyadari Allah sedang melakukan transformasi. Di tengah diskriminasi, Allah menguatkan. Di tengah kehausan rohani Allah memperlihatkan tanda untuk datang kepada karya-Nya di dalam Yesus. Di tengah perjalanan iman yang berat Allah menguatkan dengan cara-Nya, melalui kehadiran orang-orang yang ada di sekitar kita.

12. Dan tentu, Allah mengajak setiap orang untuk terlibat di dalam transformasi itu. Bukankah itu yang kita lihat dalam perisitiwa kelahiran? Sebuah transformasi. Jadi merayakan natal berarti juga "menatalkan" Kristus. Di malam natal itu kita dapat meneladani cara Allah melakukan transformasi: Harus ada yang berbeda. Lihatlah cara Allah yang merendah untuk masuk ke dalam kesulitan penderitaan manusia. Ada yang mendapatkan kebaikan Allah. Lihatlah cara Allah peduli kepada yang lemah untuk memberikan pengharapan bahwa di dalam kelemahan, manusia sangat dekat dengan kuasa Allah yang menguatkan. Dan ada yang melangkah. Lihatlah para gembala yang bersaksi setelah menjumpai Yesus. Natal sungguh bermakna, saat pengikut Kristus mau terlibat bersama Allah, meniru cara-Nya mentransformasi dunia.
Comments