Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

“Tidak ada”

diposting pada tanggal 23 Jul 2011 09.56 oleh Essy Eisen
Roma 8: 26-39

Melisa menderita down syndrome. Tingkat kecerdasannya hanya setengah dari tingkat kecerdasan rata-rata remaja lainnya. Minggu pagi itu Melisa beserta beberapa remaja lainnya akan mengikuti peneguhan sidi. Dalam tradisi gerejanya, pendeta yang memimpin ibadah akan bertanya kepada setiap orang yang akan diteguhkan, “Apa yang akan memisahkan kamu dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita?” Satu persatu akan menjawab, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikan, maupun pemeritah-pemerintah, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

Jemaat sangat senang memperhatikan satu persatu remaja yang akan menerima sidi dengan baik dapat mengucapkan kalimat dari Roma 8: 37-39 dengan sempurna tanpa perlu membaca teks. Namun, mereka jadi kuatir ketika giliran Melisa menjawab pertanyaan Pendeta. Dapatkah Melisa menghafal dengan tepat kalimat Paulus yang panjang itu? Pendeta bertanya kepada Melisa, “Apa yang akan memisahkan kamu dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita?” Dengan senyum lebar Melisa menjawab, “Tidak ada.”

Rasul Paulus berbicara dengan panjang lebar dalam Roma 8 tentang kasih Allah yang melampaui segala keterbatasan akal pikiran manusia. Ia menjelaskan bahwa doa kita pun sebetulnya adalah karya Roh Allah. Bahkan kejadian-kejadian apapun yang menimpa kita, sebetulnya tidak lepas dari upaya Allah untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang dipanggil dan dipilihNya. Di puncak perenungannya, sang Rasul menuliskan keyakinan imannya, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikan, maupun pemeritah-pemerintah, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Ia ingin membuat jelas bagi jemaat di Roma bahwa maut, hidup, malaikat, pemeritah, makhluk apapun, tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Namun, Melisa yang menderita down syndrome itu meringkas sekian panjang penjelasan Paulus dengan dua kata saja, “Tidak ada.” Dan Melisa sangat tepat.

Tidak ada apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Tidak ada apapun yang dapat menggagalkan rencana baik Allah bagi kehidupan anak-anakNya. Sekali lagi, tidak ada. Bahkan, Roh Allah sendiri berdoa untuk kita. Apakah yang kurang lagi? Untuk meyakini hal ini tidak diperlukan kecerdasan tingkat tinggi ataupun kemampuan menghafalkan ayat Alkitab yang panjang. Untuk meyakininya kita membutuhkan iman yang sederhana kepada Allah, bukan keyakinan pada kekuatan dan kesanggupan kita sendiri. Bukankah Dia sendiri yang menentukan dari semula, memanggil kita, membenarkan kita, dan pada akhirnya memuliakan kita? (bndk Rm 8: 30).

(Agustian N. Sutrisno)
Comments