Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

“Jiwaku memuliakan Tuhan”

diposting pada tanggal 10 Des 2011 15.56 oleh Essy Eisen
Luk 1: 46b-55

Bayangkanlah kalau anak dalam kandungan Anda diramalkan akan menjadi presiden. Apa yang akan Anda lakukan? Mungkin sebagian dari kita akan bersyukur kepada Tuhan. Wah, alangkah baiknya Tuhan sehingga ia akan memberikan anak yang begitu hebat. Sebagian lagi akan mulai berpikir, anak ini sebaiknya disekolahkan di mana dan harus ikut partai politik apa. Mungkin ada lagi yang berpikir tentang segala kemasyuran, kekayaan dan kesenangan yang akan datang di masa depan. Ada juga yang barangkali mulai berpikir tentang hal-hal apa yang harus dilakukan sang anak nanti untuk membawa negara ke arah yang lebih baik.

Maria agaknya jatuh ke kategori terakhir. Malaikat Gabriel sudah mengatakan, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurnya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan KerajaanNya tidak akan berkesudahan” (Luk 1: 32-33). Namun dalam puji-pujianNya kepada Allah, apa yang disebutkan Maria? Ia berbicara tentang kuasa Allah yang menceraiberaikan orang-orang yang congkak hatinya, tentang Allah yang meninggikan orang-orang rendah, tentang Allah yang melimpahkan segala yang baik kepada orang lapar.

Bukankah ini suatu hal yang mengagumkan? Maria tidak berpikir tentang kekuasaan dan kekayaan. Ia malah berpikir tentang orang-orang yang kesusahan yang akan dipulihkan Allah. Perhatikan pula berapa sering kata Allah atau kata ganti untuk Allah muncul dalam bacaan kita. Maria sangat terfokus pada apa yang Allah akan lakukan, bukan apa yang akan dia sendiri lakukan atau apa yang anaknya nanti akan lakukan.

Maria menjadi model bagi kita semua yang sungguh ingin mengikuti Allah dan ambil bagian dalam karyaNya. Ia menempatkan diri sebagai hambaNya, bukan sebagai calon Ibu Suri. Ia menginginkan terwujudnya cita-cita Allah di dunia, bukan cita-cita pribadi. Ia prihatin akan kesusahan umat, bukan kesenangan diri sendiri. Kiranya lagu pujian Maria juga menjadi lagu pujian kita melalui sikap hidup dan tindakan nyata dalam masa Advent ini.

(Agustian N. Sutrisno)
Comments