Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

“…aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan…”

diposting pada tanggal 2 Sep 2011 20.52 oleh Essy Eisen
Roma 12: 1-8

Kadang-kadang saya bingung melihat penekanan yang berlebihan dari beberapa gereja dan aliran Kristen tentang pentingnya memberikan persembahan uang dan perpuluhan kepada gereja. Agaknya, mereka lupa membaca Roma 12: 1-2.

Dalam Roma 12: 1-2, Rasul Paulus mengingatkan bahwa persembahan kita haruslah persembahan yang hidup dan kudus, yaitu seluruh tubuh kita. Tubuh di sini menunjuk pada keseluruhan keberadaan fisik seorang manusia. Itu adalah ibadah yang sejati, menurut terjemahan LAI. Dalam salah satu terjemahan Bahasa Inggris, dikatakan “which is your spiritual worship.” Mempersembahkan tubuh itu juga adalah ibadah yang bersifat rohani. Ketika kita mempersembahkan tenaga kita untuk pekerjaan Tuhan di jemaat, kita juga sedang melakukan ibadah yang bersifat rohani.

Di banyak jemaat di Australia, tidak ada ada koster atau pekerja gereja yang mengurus kebersihan gereja. Tugas itu seluruhnya dikerjakan secara bergantian dan sukarela oleh para anggota gereja. Tiap Sabtu, akan datang sekelompok bapak-bapak yang mendapat giliran membersihkan gereja sebelum kebaktian keesokan harinya. Tugas pelayanan itu kelihatannya bersifat fisik semata: menyapu halaman gereja, memotong rumput, membersihkan bangku dan lantai, menyikat kamar mandi. Namun, inipun sesungguhnya bersifat rohani. Tindakan mereka yang mengorbankan tenaga dan waktu untuk membersihkan gedung gereja tiap Sabtu tidak kalah pentingnya dengan kehadiran mereka di kebaktian hari Minggu.

Paulus melanjutkan bahwa dalam mempersembahkan tubuh dan melakukan ibadah rohani, kita juga perlu senantiasa berubah mengalami perubahan budi mengikuti kehendak Allah. Pembaharuan budi mungkin terdengar agak aneh di telinga kita sekarang. Jarang sekali kita membicarakan apa makna budi. Tidak ada sekolah yang sekarang dengan terang mengajarkan budi pekerti, tidak seperti 40-50 tahun yang lalu. Budi di sini bisa diartikan sebagai pikiran, tetapi juga sebagai moralitas. Yang dituntut berubah dari orang-orang Kristen bukan sekedar pikiran atau akal budi yang mengerti isi Alkitab dan dogma-dogma gereja, tetapi juga moralitas—budi pekerti, penilaian tentang apa yang baik, apa yang salah, dan apa yang berkenan kepada Allah. Bagi Paulus, persembahan yang sejati menyangkut keseluruhan hidup manusia: tubuh, roh, jiwa, akal budi, tindakan dan moralitas.

Alangkah sedihnya jika pemahaman kita tentang persembahan dan ibadah Kristen seringkali dipersempit menjadi memasukan lembaran uang ke kantong persembahan atau sekedar bernyanyi dengan antusias di kebaktian. Ibadah dan persembahan Kristen yang sejati menyangkut perubahan dan pengorbanan. Kita semua perlu mengorbankan tenaga, waktu, dan pikiran untuk melayani Tuhan melalui gerejaNya. Kita semua juga perlu berubah. Apa yang dulu kita anggap benar sebelum mengenal Tuhan, tidak bisa lagi kita ikuti. Apa yang dahulu kita sukai, perlu kita lepaskan untuk mengikuti kehendak Tuhan. Apa yang dunia tawarkan, perlu kita tampik demi perkenanan Allah.

Seorang Kristen seharusnya, seperti yang dikutip oleh seorang Penatua GKI Halimun di Facebooknya, memiliki ciri berikut, “His intellect, his will, his affections, his fancy, memory, judgment, his desires should be all brought under the influence of the Gospel, and every power of the body and mind be consecrated unto God.” Akal budinya, kehendaknya, kasihnya, imajinasinya, pikiran, penilaian, keinginannya harus seluruhnya tunduk kepada pengaruh Injil, dan setiap kekuatan tubuh dan pikiran disucikan untuk Allah.” Kalau begitu, apakah kita tak perlu membawa persembahan uang ke gereja? Cobalah teliti kembali ciri-ciri yang dikutip di atas, dan lihatlah apakah mungkin tidak mempersembahkan harta kita kepada Allah?

(Agustian N. Sutrisno)
Comments