Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 26 Mei 2013

diposting pada tanggal 30 Mei 2013 15.54 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.49 oleh Admin Situs ]
Kristus Sang Hikmat Allah

Amsal 8:1-14, 22-31, Mazmur 8, Roma 5:1-5, Yohanes 16:12-15 

Kebenaran Allah pada dasarnya menunjuk kepada hikmat Allah. Ams 8:22-31 menyaksikan hikmat Allah yang dinyatakan dalam bentuk pribadi. Itu sebabnya sang hikmat Allah tersebut menyebut dirinya dengan kata orang pertama, yaitu: “aku”. Sang Hikmat Allah tersebut ikut berkarya dalam penciptaan semesta, dan Dia menjadi “anak kesayangan Allah”. Atas dasar itu iman Kristen mengimani bahwa Hikmat Allah yang telah ada sebelum semesta dan dunia tercipta tersebut pada prinsipnya menunjuk kepada diri Kristus. Jadi hubungan teologis antara Yohanes 16:13-15 dengan Amsal. 8:22-31, yakni Kristus adalah manifestasi seluruh kebenaran Allah; yang mana seluruh kebenaran Allah tersebut adalah Sang Hikmat Ilahi yang telah ada sejak kekal bersama dengan Allah dan berkarya dalam penciptaan dunia serta seisinya. Firman dari sang Hikmat Allah tersebut sangat berkuasa dan mampu menjadikan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). SabdaNya memiliki daya cipta dan daya kuasa untuk menaklukkan kegelapan menjadi terang, sehingga Dia menjadi sumber dari kehidupan. 

Namun sang Hikmat Allah yang di dalamNya mengandung seluruh kebenaran Allah tersebut tersembunyi di dalam kemanusiaan Kristus. Walaupun Kristus telah menyatakan perbuatan dan kuasa Allah yang besar, tidaklah mudah bagi umat manusia untuk percaya kepadaNya. Karena itu Allah mengaruniakan Roh Kudus agar menyatakan kuasa anugerahNya kepada manusia, sehingga mereka dapat percaya bahwa Yesus itu adalah Tuhan (I Kor. 12:3). Roma. 5:1 rasul Paulus berkata: “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai-sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus”. Iman kepada Kristus menjadi dasar kita dibenarkan oleh Allah dan memampukan kita untuk hidup dalam damai-sejahtera dengan Allah. Sehingga hidup dalam seluruh kebenaran Allah tidak bisa tidak merupakan hidup di dalam iman kepada Kristus. Sikap iman yang demikian menjadi jalan masuk bagi kita untuk mengenal seluruh kebenaran Allah dan hikmatNya. Ini berarti makna tindakan iman menjadi daya dorong bagi orang percaya untuk hidup berdasarkan kebenaran dan hikmat Allah. Manakala orang percaya dalam praktek hidupnya ternyata sangat jauh dari kebenaran Allah dan dia tidak mencerminkan hikmat Allah, sesungguhnya dia belum percaya kepada Kristus. Hidup beriman adalah hidup yang dilandasi oleh pola pikir dan spiritualitas hikmat Allah, karena itu dia mampu untuk mengatakan kebenaran. 


Melalui iman kepada Allah Trinitas, kita bukan hanya diajak untuk memahami misteri hubungan Allah sebagai Bapa-Anak-Roh Kudus. Tetapi lebih dari pada itu kita dipanggil untuk memahami kekayaan kasih ilahi yang tanpa syarat dan yang dicurahkan kepada umat percaya. Karena kita telah memperoleh kekayaan kasih Allah yang dicurahkan dengan penuh kelimpahan, maka kita juga akan menyalurkan secara berlimpah kasih Allah tersebut kepada orang-orang di sekitar kita. Demikian pula karena kita telah memperoleh kasih Allah secara cuma-cuma, maka kita juga menyalurkan kasih Allah tersebut dengan sikap yang sama. Sehingga dengan roh hikmat Kristus, kita senantiasa menyalurkan kasih Allah tanpa pernah memandang latar-belakang seseorang seperti etnis, agama dan status sosialnya. Namun pada pihak lain melalui Roh Kudus, kita dimampukan untuk menyatakan kebenaran Allah tanpa membedakan orang. Kebenaran tidak pernah pilih kasih. Sebab kebenaran selalu tampil seperti sinar matahari yang tidak pernah menyembunyikan diri. Mungkin sementara waktu dapat diselimuti oleh awan yang gelap, tetapi cahayanya tetap bersinar setiap hari untuk menerangi dan memberi daya hidup kepada setiap mahluk. 

Jika demikian, untuk mengetahui apakah kita telah bertindak dan berkata-kata dalam kebenaran serta hikmat Allah dapat kita lihat hasil (buah) dari apa yang telah kita lakukan. Sudahkah yang kita hasilkan dalam kehidupan kita adalah kasih Allah yang memiliki daya cipta yang membangun dan memulihkan apa yang rusak?

(Noerman Sasono, S.Si. (Teol.))
Comments