Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 19 Februari 2012

diposkan pada tanggal 24 Feb 2012 07.38 oleh Essy Eisen   [ diperbarui24 Feb 2012 07.38 ]
Dengarkanlah Yesus Kristus!

2 Raja-Raja 2:1-15, Mazmur 50:1-6, 2 Korintus 4:3-6, Markus 9:2-9

Pernahkah anda melihat sesuatu yang mengejutkan, yang indah, yang menyenangkan sehingga anda sendiri ragu akan apa yang anda lihat? Tentu ada banyak keindahan di alam raya ciptaan Allah ini. Pelangi, matahari pagi, kicauan burung, embun yang menerpa rumput, senyuman di wajah orang yang kita kasihi dan masih banyak lagi. Keindahan itu bahkan acapkali diabadikan dengan menggunakan lensa kamera, supaya lebih banyak lagi orang dapat menikmatinya.

Saat Yesus berkarya di bumi, Ia mengajak tiga orang murid-Nya ke gunung untuk sementara waktu meninggalkan keramaian. Saat Ia berada di atas gunung, Yesus berubah rupa. Pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Murid-murid-Nya ketakutan. Mereka hampir tidak mempercayai apa yang mereka lihat. Lalu datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Itu adalah suara Allah sendiri. Apa yang mereka lihat sungguh mengejutkan, sungguh indah, bahkan ditegaskan oleh Allah sendiri: “Ini Anak-Ku. Dengarkanlah Dia!” Ini adalah nasihat yang jelas bagi kita juga saat ini. Inilah Yesus. Dengarkanlah Dia!

Sebagaimana dalam peristiwa berubah rupa (transfigurasi), Allah berkenan menyatakan kemuliaan-Nya di dalam Yesus Kristus, Allah juga akan menyatakan kemuliaan-Nya melalui kehadiran murid-murid Kristus yang bersedia hidup berpadanan dengan kehendak Allah.

Di atas gunung itu, tampak di samping Yesus: Musa dan Elia. Dua tokoh besar dalam sejarah Israel ini menunjukkan bahwa karya Yesus adalah karya yang berdampak bagi umat Allah. Musa menjadi alat penyampai hukum Allah. Elia, adalah nabi yang terkenal kritis, peduli dan tekun memperjuangkan kebenaran dan keadilan sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Jika demikian, karya Yesus bagi dunia ini mirip, bahkan jauh lebih besar dari kedua tokoh yang dikenal itu. Murid-murid yang menyaksikan kemuliaan Allah dalam Yesus Kristus saat itu, belajar untuk menyadari bahwa kemuliaan Allah nyata saat kehendak Allah diberlakukan dalam karya hidup yang nyata. Kasih kepada sesama harus nyata sebagaimana yang sudah Allah ajarkan melalui kehadiran Yesus Kristus, Anak-Nya yang dikasihi-Nya.

Kristus tidak hanya naik ke gunung yang tinggi itu, tetapi Ia juga naik ke atas bukit Kalvari, untuk menunjukkan betapa besar kasih Allah bagi dunia. Kasih yang berkorban ialah kekuatan yang telah terbukti untuk memperbarui tatanan kehidupan yang buruk. Tidak akan ada perubahan yang abadi kalau orang menggunakan kekerasan, amarah dan benci. Walaupun melakukan pembaruan dunia melalui jalan sengsara dan derita, kebangkitan Kristus telah membuktikan bahwa, orang yang tekun, setia berproses dalam suka dan duka kehidupan dengan menunjukkan kasih-Nya akan beroleh kemenangan dari Allah pada waktu yang ditentukan-Nya.

Setelah murid-murid Kristus menyaksikan kemuliaan Yesus Kristus di atas gunung itu, kelak sesudah kebangkitan Kristus, mereka melihat dengan utuh, bahwa sungguhlah benar Yesus berkuasa memberikan hidup yang sejati dan abadi. Mereka melanjutkan karya Kristus bagi dunia ini. Sebagaimana Elia memberikan kepada Elisa kepercayaan untuk melanjutkan tugasnya, saat ini, kitapun sebagai murid Kristus juga telah diberikan kuasa untuk berjalan dalam kehendak Allah. Allah berkenan menyatakan kemuliaan-Nya melalui kehadiran dan karya kita yang sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam kuasa-Nya, kita dimampukan memancarkan kemuliaan Allah kepada sesama. Apa yang harus kita lakukan untuk tetap dapat mewujudkannya? Dengarkanlah Yesus Kristus! (Pdt. Essy Eisen)
Comments