Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 9 Oktober 2011

diposting pada tanggal 7 Okt 2011 04.20 oleh Essy Eisen
Menanggapi Panggilan Penuh Rahmat

Yesaya 25: 1-9, Mazmur 23, Filipi 4: 1-9, Matius 22: 1-14


“Mengapa Tuhan? Untuk apa ini terjadi?” Pertanyaan ini acapkali terucap saat hidup dikelilingi seteru. Kalaupun iman masih ada, pertanyaannya masih berlanjut dengan: “Lalu apa bentuk pertolongan-Mu ya Tuhan?” Pikiran kemudian dipenuhi dengan kekuatiran. Tidak jarang perkara kecil mengakibatkan amarah memuncak. Perseteruan terjadi, pertama dengan Tuhan dan yang paling sering dengan sesama. Masalah-masalah seolah-olah mengelilingi hidup bak benteng yang kokoh. Hempasannya datang dengan kencang seperti angin ribut.

Setidaknya suasana hati itu besar kemungkinan terjadi dalam kehidupan umat Allah pada zaman nabi Yesaya. Sebab sebagai sesama saudara, mereka terpecah menjadi dua bagian, Israel Utara dan Israel Selatan. Belum lagi himpitan negara-negara yang serakah dan tinggi hati datang merangsek masuk wilayah mereka untuk mengeksploitasi segalanya. Apakah ada harapan? Yesaya menjawab Ya! Bahkan bukan sekadar pengharapan, tetapi ungkapan syukur akan kesetiaan Allah harus selalu naik dalam keadaan susah sekalipun, sebab pada saat-Nya nanti orang yang tinggi hati akan dididik oleh Tuhan. Sebaliknya orang yang lemah akan dilindungi-Nya (Yes 25:1-5). Kelak, suasana di mana Allah memerintah akan nyata bak perjamuan makan dengan segala hidangan yang baik dan membawa sukacita yang melenyapkan duka dan susah hati untuk segala bangsa (Yes 25:6-9). Tuhan adalah pemimpin yang tidak pernah mengecewakan dan sahabat yang akrab menjamu dengan perlindungan yang kokoh (Mzm 23). Oleh sebab itu umat diajak untuk tidak tinggi hati dan tetap percaya akan pemeliharaan-Nya.

Suasana di mana Allah memerintah, di mana nilai-nilai kebenaran-Nya membarui nilai-nilai kehidupan manusia itu, selalu tersedia dengan berlimpah. Tuhan Yesus mengumpamakannya dengan hidangan yang baik dalam pesta perjamuan kawin seorang raja. Bagi Yesus, Allah mengundang orang-orang untuk datang dan menikmati kebaikan-Nya (Mat 22:1-4). Tetapi tidak semua orang bersedia menanggapi. Mengapa? Ada yang lebih memilih mengurusi kepentingan sendiri, ada juga bahkan yang dikuasai oleh amarah dan dengan tegas menolak ajakan Allah untuk menghidupi kebenaran-Nya (Mat 22:5-6). Tetapi kepada orang yang bersedia menanggapi, Allah juga mengajak mereka untuk menghidupi kebenaran-Nya dengan serius, dengan segenap kepatutan hidup. Ini antara lain dikemukakan dalam cerita itu berupa kecaman raja atas orang yang tidak menggunakan pakaian pesta (Mat 22:11-12).

Apa yang mengakibatkan orang-orang itu tidak mau menanggapi panggilan Allah yang penuh rahmat itu? Jelas, mereka telah keliru dalam menempatkan prioritas apa yang “penting” dalam hidup mereka. Pengabaian mereka akan ajakan Allah bahkan amarah yang keji atas kebaikan Allah terjadi karena mereka tinggi hati dan tidak mau membuka pintu hati mereka atas sapaan Allah. Bagi mereka yang paling “penting” itu diri mereka sendiri! Paulus menasihati, pengikuti Kristus sepatutnya mau memiliki pikiran Kristus. Pikiran yang berujung pada tindakan kepedulian dan kesediaan untuk berbagi kehidupan. Pikiran yang mau menjawab panggilan Allah agar hidup dilihat semata bergantung pada kasih karunia-Nya dan juga kesediaan untuk memiliki kesehatian dan kesediaan berkorban bagi sesama untuk menuju hasil akhir yang baik bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kebaikan bersama (Flp 4:1-9).

Kepada kita semua, ajakan untuk menikmati “jamuan pesta perkawinan sang raja” selalu terbuka. Kesediaan untuk “mengenakan pakaian pesta”, berupa hidup beriman yang patut dan selaras dengan ajaran Firman-Nya harus menjadi yang paling penting mengatasi segalanya. Di dalamnya ada kesediaan untuk selalu bersyukur, memilih sukacita ketimbang kuatir, kecewa atau dipenuhi amarah yang keliru. Dan sejak sekarang mau untuk terus berproses memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, dan juga mau melakukan apa yang menjadi nasihat Firman Tuhan sebagaimana telah disampaikan dalam kotbah minggu ini tentunya.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments