Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 9 Nopember 2014

diposting pada tanggal 11 Nov 2014 09.48 oleh Admin Situs
Mengapa Melayani?

Yosua 24:1-3, 14-25, Mazmur 78:1-7; 1 Tesalonika 4:13-18; Matius 25:1-13

Seorang ibu baru saja melahirkan anak. Setiap malam ibu tersebut harus berkali-kali bangun dari tidurnya untuk menenangkan atau menyusui bayinya yang terbangun. Hal tersebut berlangsung beratus-ratus malam. Apakah si ibu melakukan hal tersebut sebagai kewajiban? Agaknya bukan! Si ibu melakukan itu bukan sebagai kewajiban, tapi atas dasar kesadaran dan cinta. Kesadaran bahwa si bayi adalah bagian dari dirinya, yang sekaligus dicintainya. Pendasaran seperti ini juga kiranya berlaku bagi pelayanan.

Sebagai warga gereja kita semua tentu tidak asing dengan istilah pelayanan. Semua warga gereja mengaku hidup untuk melayani Tuhan dan sesama. Dan kalau ditanya alasan melakukan pelayanan, tentu jawabannya bisa banyak: mulai dari mengembangkan talenta, sebagai ucapan syukur, untuk menyatakan kasih Tuhan kepada orang lain, dan seterusnya. Semua jawaban itu tentu saja benar adanya.

Namun demikian, tidak ada salahnya sejenak kita merenungkan kembali apa sebenarnya yang melandasi pelayanan kita masing-masing. Mengapa? Sebab tidak mustahil tanpa sadar kita menjalani pelayanan sebagai suatu kewajiban. Dan karena sifatnya merupakan kewajiban, tidak mustahil pelayanan itu kita rasakan sebagai beban. Lalu, karena menjadi rutin, pelayanan juga bisa terasa membosankan. Atau jangan-jangan sebenarnya kita melakukan pelayanan dengan tujuan untuk mendapat pujian atau pengakuan dari orang lain, atau untuk menyalurkan hasrat kita untuk selalu berkuasa. Bila itu yang terjadi, yaitu bahwa yang menjadi pusat pelayanan adalah diri kita sendiri, maka apabila kita tidak mendapat yang kita maksud, kita mundur dari pelayanan.

Kalau begitu, apa dasar bagi pelayanan kita sebagai umat Tuhan?

Dalam Yosua 24 dikisahkan Yosua mengumpulkan orang Israel untuk mengingatkan kembali bahwa selama umat Israel hidup dalam perjanjian dengan Allah dan bagaimana selama itu pula Allah dengan setia memelihara mereka. Karena itulah Yosua meminta bangsa Israel untuk sejenak mempertimbangkan kembali: apakah mereka akan tetap setia terhadap perjanjian itu, atau akan memutuskan ikatan perjanjian. Yosua sungguh menegaskan bahwa Allah adalah TUHAN yang setia terhadap perjanjian-Nya.

Dari Yosua 24 ini kita belajar bahwa kita pun adalah umat yang terikat perjanjian dengan Allah. Dengan mengikatkan diri dalam perjanjian, maka dalam arti tertentu kedua pihak saling memiliki satu dengan yang lain: Allah memiliki kita sebagai umat, dan kita memiliki TUHAN sebagai Allah kita. Dalam kasih dan kuasa-Nya Allah memberi kita pengampunan. Kita menerima pengampunan bukan karena Allah wajib mengampuni kita, tapi karena kasih setia Allah.

Dalam semangat yang sama pelayanan kepada Tuhan dan sesama kita lakukan bukan lagi berdasar kewajiban, tapi merupakan buah kesadaran dan cinta. Kita sadar bahwa kita adalah umat Allah, umat yang telah mengalami pengampunan dan menerima anugerah untuk ikut mengambil bagian dalam melakukan pekerjaan Allah di dunia ini. Dengan dasar seperti ini pelayanan tidak terasa membebani, tapi merupakan bagian yang wajar dari hidup kita. Pelayanan itu menjadi sesuatu yang melekat, yang tidak bisa tidak dilakukan. Kita melakukannya sebagaimana kita bernafas. Kita tidak bisa berhenti melayani sebagaimana kita tidak bisa berhenti bernafas, karena dengan bernafaslah kehidupan menjadi berjalan.

Karena itu, sambil menantikan janji akan kedatangan-Nya kembali, kita menjalani hidup sebagai teman sekerja Allah. Kita hidup dalam pelayanan yang dilandasi cinta, yaitu cinta yang semula kita terima dari Allah. Hal itu digambarkan dengan indah dalam Matius 25:1-13. Dalam cinta lima gadis bijaksana berjaga dan tetap setia menunggu mempelai laki-laki dengan lampu terus menyala.

(Bpk. Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments