Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 9 Juni 2013

diposting pada tanggal 8 Jun 2013 07.23 oleh Essy Eisen
Kasih Membangkitkan dan Menghidupkan Harapan

1 Raja-Raja 17: 17-24; Mazmur 30; Galatia 1: 11-24; Lukas 7: 11-17

Di Nain, sebuah kota kecil di Galilea, hiduplah seorang janda. Ia mempunyai seorang anak laki-laki. Dan kita semua tahu, betapa pentingnya seorang anak laki-laki bagi keluarga Yahudi kala itu. Selain sebagai penerus silsilah, anak laki-laki juga berperan sebagai tulang punggung keluarga. Terlebih lagi karena ibunya telah menjadi janda. Si anak lelaki tentu merupakan tumpuan harapan si ibu kelak di masa tuanya.

Tapi kemudian si anak laki-laki itu mendadak mati. Dapat dibayangkan betapa hancurnya hati si ibu. Seluruh harapannya tentang hidup tenang di hari tua sirna seiring kepergian anak tunggalnya. Kini tak akan ada lagi yang akan merawatnya jika ia sakit. Tak ada lagi yang membantu mencari nafkah. Sambil berjalan menuju tempat pemakaman, janda itu tak putus-putusnya menangis meratapi nasibnya dan kepergian anaknya yang begitu tiba-tiba.

Yesus yang baru saja tiba dari Kapernaum merasa iba melihat keadaan si ibu. “Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan.” (Luk.7:13). Yesus menghibur si janda. “Jangan menangis”, kata-Nya. Ia lalu menghampiri usungan mayat dan berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Maka si anak muda yang sudah mati itu pun bangkit dan Yesus mengantarkannya kepada ibunya.

Injil Lukas hanya mencatat bahwa orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu lalu memuliakan Allah sebab “Allah telah melawat umat-Nya” (Luk.7:16). Orang banyak itu mengakui bahwa tindakan Yesus merupakan bukti kepedulian Allah, bukti kasih Allah, kepada umat-Nya. Kasih Allah yang dinyatakan melalui Yesus adalah kasih yang membangkitkan dan menghidupkan kembali harapan semua orang. walaupun Injil Lukas tidak mencatat reaksi janda itu, kita semua dapat menduga betapa bahagianya si ibu melihat anaknya hidup kembali. Seiring dengan kebangkitan putra tunggalnya, harapannya yang semula padam pun bangkit kembali.

Kasih Allah yang memulihkan itu juga disaksikan Galatia 1: 11-24. Allah memulihkan harapan jemaat yang pernah hilang. Jemaat yang dahulu takut karena tindakan Paulus, kini dapat dengan penuh sukacita memuliakan Allah karena pertobatan Paulus. Selain itu, dalam Mazmur 30 digambarkan bagaimana pemazmur yang putus asa karena penyakit, kematian, bahkan kemarahan Tuhan, mengalami pemulihan oleh kasih Tuhan. Harapannya yang nyaris habis dibangkitkan kembali.

Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita semua diajak meneladani sikap dan tindakan Yesus dalam hal kepedulian kepada penderitaan sesama di sekitar kita. Kita selayaknya membuka diri terhadap keadaan tetangga kita, teman sekantor, teman sekolah, saudara sepersekutuan. Kita semua merupakan utusan Yesus Kristus untuk ikut membangkitkan semangat orang-orang yang kehilangan harapan. Kita selayaknya mengikut teladan Yesus, yaitu bertindak memberi jalan keluar kepada orang-orang yang putus asa agar harapan mereka hidup kembali.

Tidak ada alasan untuk menolak membagikan kasih Allah yang membangkitkan harapan tersebut. Setiap kita dapat melakukannya. Bahkan orang yang hidup sederhana pun Tuhan mampukan untuk melakukannya. Dalam 1 Raja-Raja 17:1-17 dikisahkan seorang janda miskin di Sarfat membuka pintu rumahnya untuk Elia dan memberi nabi itu makan. Keadaan ekonomi yang serba terbatas tidak menghalangi janda ini menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong Elia. Lalu, di lain kesempatan, giliran Elia yang Tuhan pakai untuk menyatakan kasih-Nya kepada si janda. Saat anak gadis si janda mati, Tuhan memakai Elia membangkitkannya.

Pertanyaan reflektif:
  1. Apakah kesibukan atau kesulitan pribadi dalam berbagai bidang membuat saya selama ini tidak peduli terhadap sesama di sekitar saya?

  2. Setelah membaca kisah Yesus di Nain, apakah saya merasakan dorongan untuk bertindak membangkitkan harapan bagi yang membutuhkan?
(Mathyas Simanungkalit, S.Si (Teol.))
Comments