Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 9 Februari 2014

diposkan pada tanggal 28 Feb 2014 00.13 oleh Essy Eisen
"Menjadi Agen Perubahan"

Yesaya 58: 1-9a (9b-12); Mazmur 112: 1-9 (10); 1 Korintus 2:1-12 (13-16); Matius 5: 13-20.

Dalam Matius 5:13-16 Yesus mengatakan kepada kepada para murid bahwa mereka adalah garam dan terang dunia. Pernahkah terpikir oleh kita mengapa Yesus tidak mengatakan bahwa para murid adalah emas dunia atau berlian dunia? Padahal, dari segi harga dan prestise, emas dan berlian jauh lebih mahal dibanding garam. Mengapa Yesus tidak menggambarkan identitas atau keberadaan para murid dengan sesuatu yang mahal seperti perhiasan, misalnya?

Bila Yesus menggambarkan keberadaan murid-murid-Nya seperti perhiasan mahal, maka dapat kita bayangkan akan banyak orang mengagumi dan memuji-muji serta berebut mendapatkannya. Bukankah dengan demikian kehadiran para murid akan selalu dinanti-nantikan oleh dunia? Setiap kehadiran murid-murid Yesus (gereja) akan selalu gemerlap dan menjadi bahan perbincangan banyak orang. Bukankah dengan demikian kehadiran gereja selalu dinanti-nantikan orang? Namun dalam bacaan kita, Yesus dengan sengaja menegaskan keberadaan murid-murid-Nya sebagai garam dan terang.

Jika kita amati, memang ada perbedaan yang besar antara garam dan perhiasan. Bukan dari segi harga saja, tapi terutama dari segi fungsi dan cara hadir. Perhiasan biasanya berfungsi untuk meninggikan derajat si pemiliknya. Barangkali itu sebabnya perhiasan selalu hadir dengan cara sengaja diperlihatkan atau bahkan dipamerkan. Sedangkan garam setidaknya punya dua fungsi utama, yaitu menyedapkan dan mengawetkan makanan. Dua fungsi ini dijalani garam dengan cara hadirnya yang tersembunyi. Kita tidak pernah melihat wujud garam saat menikmati kuah sop ayam yang lezat, misalnya. Tapi kita tahu bahwa ada garam dalam kuah sop tersebut yang membuatnya sedap. Apa jadinya bila di dunia ini tidak ada garam? Semua makanan akan terasa hambar dan banyak makanan akan busuk sebab tidak bisa diawetkan. Demikian juga dengan terang, bukan? Bayangkan apa jadinya bila di dunia ini tidak ada terang. Kita semua tentu tidak bisa melihat apapun dan sulit melakukan apapun.

Saat Yesus mengatakan bahwa para murid adalah garam dan terang, Yesus ingin menegaskan bahwa, sebagaimana garam dan terang yang perannya begitu penting dan tidak tergantikan, setiap orang yang mengaku murid Yesus punya peran yang sedemikian penting dan tak tergantikan oleh apapun di dunia ini. Peran itu adalah menggarami agar dunia tidak membusuk dan menerangi agar semua orang dapat melihat kebenaran. Peran itu dijalankan dengan cara berbaur dengan masyarakat dimana pun murid itu berada. Dan itu berarti bahwa kehadiran gereja di tengah masyarakat bukanlah sekedar hadir untuk menyenangkan banyak orang dengan berbagai sajian, dengan berbagai undangan ibadah yang meriah. Keberadaan gereja di sebuah tempat tertentu bukan juga semata-mata untuk menarik sebanyak mungkin orang untuk menjadi anggotanya. Singkatnya, kehadiran gereja bukan sekedar soal ritual, melainkan juga mendemontrasikan suatu cara hidup yang benar. Kegiatan keagamaan yang tidak disertai kepedulian sosial merupakan sebentuk kesalehan palsu (Yes.58:1-12). 

Dengan lain perkataan, menurut Yesaya, gereja yang hanya berpuas diri dengan kegiatan ibadah tanpa disertai keterlibatan dalam menegakkan dan memberlakukan nilai-nilai kebenaran di tengah masyarakat tidak saja disebut sebagai gereja yang tidak sejati, tapi juga melakukan pelanggaran terhadap kehendak Allah. Gereja sejati adalah gereja yang tekun menjalankan ritual, namun sekaligus aktif menjalankan peran sebagai garam dan terang di tengah masyarakat: “supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!“ (Yes.58:6-7)

Rasanya tidak keliru jika Yesus menggambarkan para murid-Nya sebagai garam dan terang. Di tengah situasi dimana hukum tidak berdaya dan banyak orang secara terbuka berlomba-lomba melakukan kejahatan, kehadiran garam dan terang sangat diperlukan agar orang banyak dapat melihat kebenaran dan agar kehidupan tidak menjadi busuk.

"Kamu adalah garam dunia... Kamu adalah terang dunia.”


(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments