Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 8 Juli 2012

diposkan pada tanggal 14 Jul 2012 10.16 oleh Essy Eisen
Terus Berbuat Baik Walau Susah

Yehezkiel 2:1-5, Mazmur 123, 2 Korintus 12:2-10, Markus 6:1-13

“Terima kasih pak. Atas kejujuran dan kemauan bapak untuk susah-susah mengembalikan barang-barang saya yang tertinggal ini.” Demikian kata seorang ibu kepada sopir taksi yang mendapatkan kembali barangnya yang tertinggal pada sebuah taksi. Ibu itu senang sekali. Ia kagum, sebab masih ada orang yang jujur dan baik hati di Jakarta ini.

Dalam kehidupan bersama, kebaikan-kebaikan kecil yang ditunjukkan oleh orang yang tetap berpegang pada apa yang benar dan luhur akan memberikan pengaruh yang besar. Apalagi jika dalam komunitas bersama itu acapkali sebagian besar terdiri dari orang-orang yang tidak peduli, maka kebaikan itu seperti mata air di tengah gurun yang terik dan gersang. Ia akan memberikan kesegaran, kekuatan baru bagi banyak orang yang merindukannya.

Yehezkiel dipanggil dan diutus Alah menjadi nabi yang berkarya di tengah-tengah bangsa yang bangsa pemberontak, pelawan Allah. Mereka begitu pongahnya mengulang kedurhakaan seperti yang dilakukan nenek moyang mereka. Sungguh keras kepala dan tegar hati. Tetapi kebaikan Allah nyata. Kepedulian-Nya untuk membarui tatanan komunitas tegas. Allah berkata: “baik mereka mendengarkan atau tidak--sebab mereka adalah kaum pemberontak--mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka.” (Yeh. 2:5).

Orang-orang di kampung Nazaret, tempat Yesus menghabiskan masa kecilnya, menerima karya Yesus yang mengaggumkan. Tetapi sungguh sayang, mereka menolak pribadi Yesus. Yesus ditolak sebagai yang dipilih Allah karena ia dianggap sebagai tukang kayu, keluarganya tidak kesohor. Di tempat asal-Nya, di antara kaum keluarga-Nya dan dirumah-Nya. Karya kenabian Yesus ditolak. Yesus heran atas ketidakpercayaan mereka.

Tetapi Yesus tidak berhenti. Walau mengalami kesusahan, Ia tetap berkarya. Selain berkarya sendiri, Yesus juga mengutus murid-murid-Nya berdua-berdua. Mereka diberi kuasa untuk mengalahkan roh jahat. Mereka diberikan nasihat untuk melatih spiritualitas yang berangkat dari rasa cukup dan iman akan pemeliharaan Allah yang setia. Cukup membawa tongkat dan alas kaki saja. Mereka tidak membawa cadangan sandang. Ini adalah latihan penyangkalan diri dalam bentuk yang nyata dan sederhana.

Murid-murid melakukan karya pembaruan kehidupan dengan mengajak orang untuk bertobat. Mereka mengajak orang-orang untuk memilih Allah ketimbang setan. Mereka dipanggil dan diutus Kristus untuk menghasilkan karya-karya yang memulihkan hidup. Di tengah penolakan-penolakan yang ada, kasih Allah tidak boleh dibatasi dan dikalahkan oleh kebencian manusia. Kasih-Nya harus terus mengalir. (Mrk. 6:1-13).

Orang percaya bermegah bukan saja pada saat Allah memberikan berkat-berkat yang baik dan menyenangkan. Seperti Rasul Paulus, kita terus belajar menjalankan hidup beriman yang sanggup bermegah atas kelemahan (2 Kor. 12:2-10). Kebahagiaan orang Kristen ialah jika orang-orang yang mengalami kesusahan dalam hidup dapat menemukan kelegaan karena kebaikan yang dilakukan walaupun dalam mewujudkannya ia sendiri mengalami kesusahan. Dalam kesusahan itu kuasa Kristus turun menaungi. Sukacita iman ialah pada saat pengikut Kristus senang dan rela berada di dalam kelemahan, siksaan, kesukaran, penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab di dalam kelemahannya, kasih Kristus akan menguatkannya dan kasih Kristus membarui komunitasnya.

Pertanyaan Aplikasi
  • Apa yang mengakibatkan orang kapok untuk berbuat baik? Mengapa? 
  • Lingkungan seperti apa yang ada pada zaman Yehezkiel, Yesus dan Paulus? Apakah ada kesamaan dengan lingkungan kita sekarang ini? 
  • Apa yang akan Saudara lakukan kala kebaikan Saudara ditolak?
Comments