Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 6 Pebruari 2011

diposting pada tanggal 3 Feb 2011 21.22 oleh Essy Eisen
Ritual Keagamaan dan Pikiran Kristus


Yesaya 58:1-12
Nabi Yesaya menyuarakan dengan keras seruan pertobatan. Sebab kehidupan umat Allah saat itu tidak jujur. Pada satu sisi mereka melakukan ritual keagamaan untuk mencari kehendak Allah dan menyembah-Nya, tetapi pada sisi lain mereka tidak peduli dengan penindasan dan ketidakadilan yang dialami oleh orang lain.

Melalui Yesaya, Allah mengajar umat-Nya: ritual keagamaan harus berujung pada tindakan kebenaran dan kasih. Dengan begitu, mereka akan “membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan.” (ay.12)


Mazmur 112:1-10
Pemazmur memuji Allah sekaligus memberikan pengajaran hikmat. Baginya orang yang takut kepada Allah ialah orang yang bukan saja mengetahui dan sangat suka kepada segala perintah-Nya, tetapi juga yang menaruh belas kasihan kepada orang yang susah dan lemah. Hidup dalam kasih yang menyeluruh kepada Allah dan sesama itu adalah hidup yang berada di dalam jalan yang menerima segala janji baik Allah.


1 Korintus 2:13-16
Pertanyaan nabi Yesaya (Yes 40:13) sudah terjawab. Kristus tahu. Kristus bukan saja mengetahui pikiran Tuhan, tetapi ia membuahkan pikiran itu dalam karya penyelamatan-Nya. Paulus menyadari bahwa kini iapun memiliki pikiran Kristus itu.

Pikiran yang memampukan ia dan pengikut Kristus lainnya menyatakan kasih dalam tindakan yang nyata karena kebenaran Allah, sehingga berdampak bagi dunia yang selalu membutuhkan kebenaran dan kasih.


Matius 5:13-20

Melalui pengajaran dan karya penyelamatan-Nya, Tuhan Yesus menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi (ay.17-19). Dalam upaya menggenapi, Yesus mengingatkan pengikut-Nya untuk melampaui hidup keagamaan orang-orang Farisi (ay.20). Bagi Yesus, orang-orang Farisi sudah melakukan yang benar, tapi sepertinya hanya kulitnya saja.

Yesus menantang pengikut-Nya untuk memberikan isi dalam kehidupan keagamaan itu, dengan jalan melakukan kasih secara utuh kepada Allah dan sesama, tidak eksklusif, tidak dibuat-buat, tulus, berdampak bukan hanya di tempat ibadah tetapi juga membarui karakter keseharian hidup tanpa menjadi sombong rohani.

Menjadi lebih benar dalam soal hidup keagamaan sebagaimana Yesus dengan gamblang menggambarkan ialah menjadi garam, yang memberikan rasa sedap tetapi melebur dan tidak menonjol, mencegah kebusukan, serta menjadi terang yang menjadikan orang lain mampu melihat warna-warni indah kasih Allah dalam kehidupan ini dengan memberikan pencerahan kedamaian karena karakter, diri, yang sudah diperbaharui oleh pikiran Kristus.


Perenungan
  • Apa inti dan maksud seruan pertobatan Yesaya? Apa yang ingin Allah sampaikan kepada umat yang dikasihi-Nya (Yes 58:1-12)?
  • Janji apa yang akan diterima oleh orang yang takut kepada Allah (Mzm 112:1-10)?
  • Apa yang dimaksudkan oleh Paulus sebagai “pikiran Kristus” (1 Kor 2:13-16)?
  • Bagaimana anda akan menjalankan kehidupan keagamaan anda, sehingga hidup keagamaan anda menjadi lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, dalam konteks Jakarta dengan segala tantangannya saat ini (Mat 5:13-20)?
(Gambar dari: http://www.servicioskoinonia.org/cerezo/dibujosA/12OrdinarioA5.jpg)
Comments