Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 6 Juli 2014

diposkan pada tanggal 4 Jul 2014 02.40 oleh Admin Situs
Rendah Hati, Mau Berubah dan Setia Mengasihi

Kejadian 24:34-38, 42-49, 58-67, Mazmur 45:11-18, Roma 7:15-25, Matius 11:16-19, 25-30

“Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga”. Sebagai ciptaan Allah, walaupun kita dikaruniakan begitu banyak kekuatan dan kemampuan, kita tetap memiliki keterbatasan dan kelemahan. Kita bisa salah mengambil pilihan. Kita bisa salah menetapkan falsafah hidup kita. Bisa saja apa yang kita anggap benar selama ini, justru adalah kekeliruan terbesar yang harus kita tinggalkan demi kebaikan hidup kita dan orang lain. Oleh sebab itu kerendahan hati, kemauan untuk berubah dan kesediaan untuk setia menghidupi kasih kepada Allah dan kepada sesama ciptaan Allah, harus selalu menjadi sikap yang kita perjuangkan dalam hidup ini.

Apa saja sikap yang buruk saat kita harus memilih? Pertama, sikap “potong kompas”. Sikap ini buruk sebab terburu-buru dalam mengambil pilihan. Sering kali sikap seperti ini tidak memikirkan sebab akibat dengan matang. Kedua, mengambil keputusan untuk memilih dengan mendengarkan pilihan solusi yang salah. Mirip dengan “potong kompas”, sikap ini adalah sikap yang menggampangkan semua hal. Misalnya, hutang diselesaikan dengan hutang lagi. Disakiti diselesaikan dengan menyakiti lagi. Sungguh bukan merupakan solusi yang matang dan benar. Ketiga, tidak berbuat apa-apa karena takut mengambil risiko demi perubahan hidup. Sikap ini sebenarnya sikap yang akan memperparah masalah. Orang yang keras kepala dan pendendam acap kali tidak mudah mengambil alternatif-alternatif pilihan yang terpampang dengan begitu jelas di depan mata.

Allah berjanji menjadikan Abraham bangsa yang besar. Keturunannya akan diberkati dan menjadi berkat bagi banyak bangsa. Dalam proses “menjadikan” apa-apa yang baik itu, Abraham mau diajar dan dibimbing Allah. Abraham tetap menjaga kesetiaan hati dan pikiran kepada Allah. Kesetiaan Abraham itu tampak sewaktu ia mengalami masalah. Ishak anaknya belum memiliki istri. Dapat saja Ishak beristrikan perempuan Kanaan. Tetapi pilihan itu mengandung risiko, sebab Ishak bisa saja mengikuti kepercayaan orang-orang Kanaan sebagai penyembah berhala. Dalam pergumulan memilih itu, Abraham ditolong dan dituntun oleh Allah.

Allah menghadirkan rekan dan sahabat yang baik bagi Abraham, yaitu hambanya. Apa yang Abraham pesankan, dilakukan oleh hambanya itu dengan setia. Bukan hanya itu, hamba Abraham itu juga berdoa kepada Allah dan Allah menjawab doa hamba Abraham karena hamba Abraham itu menggunakan kriteria/syarat-syarat yang sesuai dengan kehendak Allah terkait pemilihan istri bagi Ishak. Allah menyediakan kesempatan-kesempatan bagi hamba Abraham dalam upayanya. Usahanya itu diberkati Allah, karena hati dan pikirannya takut kepada Allah.

Hamba Abraham itu pada akhirnya bersyukur kepada Allah karena tuntunan-Nya. Ia mengalami jalan yang benar karena pertolongan Allah. Kesempatan-kesempatan yang ia alami untuk berjumpa Ribka adalah bukti pertolongan Allah. Hamba Abraham mendapatkan solusi terbaik dari usahanya karena kasihnya kepada Abraham dan kepada Allah.

Sepanjang hidup ini, kita akan berhadapan dengan pilihan antara ikut Tuhan atau ikut setan. Mengikuti Tuhan, berarti percaya kepada janji Tuhan dan mau memberlakukan apa yang Tuhan ajarkan dengan ketulusan dan cinta kasih. Sedangkan mengikuti setan, berarti kita membiarkan diri kita dibodohi dengan beranggapan bahwa kita dapat melakukan semuanya dengan kekuatan dan hikmat diri kita sendiri saja. Tuhan Yesus berjanji bahwa Dia akan memberikan kelegaan kepada setiap orang yang datang kepada-Nya. Ini bukti kasih-Nya. Seiring dengan kasih-Nya itu, tanggapan kita adalah “memikul kuk” yang dipasang Kristus. Artinya, kita memberlakukan ajaran Kristus dengan serius. Namun jangan salah duga. Kita melakukan ajaran Kristus bukan supaya kita dikasihi Allah, tetapi karena kita sudah dikasihi oleh Allah, maka kita memberlakukan apa yang diajarkan Kristus. Roh Kudus yang dikaruniakan Allah di dalam pikiran dan hati kita, akan memampukan kita meninggalkan kebodohan dosa. Kita harus waspada, supaya tidak mengulangi kebodohan orang-orang Farisi dan ahli taurat yang enggan menempuh perubahan hidup.

Apa yang Abraham dan hambanya tempuh saat harus mengambil pilihan dalam hidup dapat menjadi inspirasi bagi kita. Apa saja? Pertama, kesadaran bahwa diri kita terbatas dan memiliki kelemahan sehingga kita harus senantiasa berpijak pada apa yang Allah perintahkan. Kedua, kita mau menetapkan kriteria pilihan yang sesuai dengan kebenaran yang Allah tegaskan. Ketiga, kita mau menempuh proses yang Allah berikan dengan setia di jalan yang benar dan tidak kehilangan pengharapan untuk menerima apa yang dijanjikan Allah.

Saat kita diperhadapkan dengan pilihan-pilihan yang penting dalam hidup, apakah kita mau mengakui kelemahan-kelemahan diri kita? Apakah perintah kasih Allah tetap menjadi yang terutama saat kita menentukan kriteria-kriteria dalam pilihan hidup? Apakah kita mau berproses dalam kesetiaan cinta kasih kepada Allah dan sesama, di jalan yang benar, dalam menantikan jawaban terhadap pergumulan hidup kita?

(Pdt. Essy Eisen)
Comments