Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 5 Oktober 2014

diposkan pada tanggal 4 Okt 2014 08.53 oleh Admin Situs
Aku mau dibentuk

Yesaya 42:6-7

"Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.”


“Hamba” yang dimaksudkan dalam paparan mengenai hamba Tuhan dalam Yesaya 42:6-7 ini, boleh dimengerti ditujukan kepada empat pihak, yaitu: bangsa Israel, nabi Yesaya, Mesias dan setiap orang yang membaca bagian ini, yang percaya kepada janji Allah. Entah dari sudut pandang yang manapun kita mengertinya, dengan jelas kita menangkap pesannya, yaitu bahwa: Tuhan Allah, menginginkan apa yang baik bagi banyak orang dan mempercayakan orang yang dipanggilnya untuk dikuatkan, dibentuk, sehingga memberikan pengaruh yang baik bagi sekitarnya. Bukan hanya itu, orang yang dipercaya oleh Allah ini juga akan menjadi pelenyap kegelapan hidup orang-orang di dalam komunitasnya.

Minggu ini, kita memasuki bulan keluarga. Tema tahun ini ialah “Kekuatan Cinta”. Sungguh nyata di dalam kehidupan kita, bahwa hanya dengan kekuatan cinta saja, kita dapat mengalami segala yang baik dalam hidup ini. Minggu ini, kita berproses dalam kebenaran Firman Allah, sekaligus merayakan Perjamuan Kudus sedunia. Kita bertumbuh untuk menjadi pribadi yang mau dibentuk oleh Tuhan, dalam menjalankan peran kita di tengah keluarga dengan baik. Dengan sedikit imajinasi yang tetap bertanggungjawab, kita bisa membaca kembali Yesaya 42:6-7 dalam kaitan kerinduan diri yang mau dibentuk oleh Tuhan, menjadi seperti ini:

"Aku ini, TUHAN, telah memanggil (nama anda di sini) untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah      membentuk (nama anda di sini) dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi (keluarga-keluarga), menjadi terang untuk (tetangga-tetangga), untuk (melenyapkan kebencian), untuk (melakukan apa yang menjadi kebaikan bagi orang-orang yang sedang kesusahan).”

Tentu apa yang dituliskan bukan untuk mengganti Alkitab kita, atau menafsirkan seenaknya, tetapi hanya sebagai metode bagi kita untuk lebih mengenali betapa Tuhan berkenan memberikan yang baik bagi keluarga kita, dan Ia memanggil dan mempercayakan kita, untuk berada di dalam peran yang kita jalani sekarang ini (sebagai ayah, ibu, suami, istri, anak, sahabat, kakak, adik) dalam bentukan-Nya yang penuh cinta kasih.

“Padi semakin berisi, semakin menunduk”. “Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar”. “Belajar membutuhkan pengorbanan.” “Sebelum membentuk, kita harus mau dibentuk”. Mungkin sudah lebih dari sekali kita mendengar jargon-jargon itu. Semuanya baik. Jika kita serius menjalankannya, sebagai seorang pribadi yang mau dibentuk kita menjadi pribadi yang menjadi teladan dalam menghasilkan kebaikan dan bukan menuntut kebaikan melulu.

Pada satu malam seorang ayah pulang dengan keadaan letih luar biasa. Istrinya menyambutnya dengan muka muram karena perseteruan beberapa hari dengan si suami belum menemui solusi. Mereka tidak berbicara, dan istrinya beranjak pergi meninggalkannya sendirian. Anak-anak tidak ada di rumah. Ada yang sibuk mengerjakan tugas sekolah. Ada yang pergi asyik bermain dengan kawan-kawannya sejak pagi. Dengan lunglai ia merebahkan diri di kursi kesayangannya. Ia menerawangi seisi rumahnya, begitu banyak hasil jerih lelahnya berbuahkan banyak materi. Tetapi malam itu hatinya sepi dan pedih sekali.

Sayup-sayup terdengar alunan radio kristen mengalunkan lagu “Jadilah Tuhan.. kehendak-Mu, Kaulah penjunan, `ku tanah-Nya. Bentuklah aku sesuka-Mu.. `kan kunantikan dan berserah...” “Bentuklah aku sesuka-Mu..” kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga, hati dan pikirannya. Sambil merebahkan badannya, ia memejamkan matanya. Air matanya mengalir deras. Sudah bertahun-tahun ia lupa akan satu hal penting. Ia lupa apa yang menjadi kesukaan Tuhan! Perlahan-lahan ia sadar. Konflik berkepanjangan dengan istrinya, pengabaian anak-anaknya terhadap wibawanya, musnahnya canda tawa di ruang keluarga, semua terjadi karena ia terlalu memaksakan apa yang ia sukai saja, dan jarang sekali membiarkan apa-apa yang disukai Tuhan ia kerjakan. Dalam keheningan malam itu ia berdoa lirih: “Bentuklah aku sesuka-Mu, ya Tuhan..”

Kekuatan cinta terbukti mengubahkan dunia. Apakah kita pun mau dibentuk untuk melakukan apa yang menjadi kesukaan Tuhan, dalam menjalankan peran kita di tengah-tengah keluarga kita?

(Pdt. Essy Eisen)
Comments