Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 5 Januari 2014

diposting pada tanggal 3 Jan 2014 20.20 oleh Admin Situs
Campur Tangan Allah

Yeremia 31:7-14, Mazmur 147:12-20, Efesus 1:3-14, Yohanes 1:1-18

Campur tangan pihak lain dalam kehidupan seorang pribadi acap kali tidak begitu diterima. Sebab pada umumnya, orang merasa ia berhak untuk menjalankan hidupnya berdasarkan keputusannya sendiri. Sebagai pribadi yang bebas, campur tangan atau intervensi dari pihak lain dianggap mengecilkan peranannya sebagai pribadi yang mandiri. Jika ada pihak lain yang turut campur tangan, biasanya dianggap meremehkan dan mengecilkan kemampuannya.

Tetapi kita harus jujur bahwa dalam kehidupan ini, tidak semua hal dapat kita kerjakan dan lakukan seorang diri saja. Kita selalu membutuhkan pihak lain dalam kehidupan kita. Manusia adalah makhluk sosial. Tidak semua hal dapat dikerjakan seorang diri saja atau mengandalkan kekuatan dirinya semata-mata.

Dalam kehidupan beriman, campur tangan Allah dalam hidup adalah sebuah keniscayaan yang harus diterima dengan lapang dada. Sebagai manusia yang mudah tergoda untuk melakukan perbuatan keji dan jahat, kita membutuhkan campur tangan Allah dalam kehidupan kita. Ini tidak sama dengan sikap manja yang sebentar-sebentar minta pertolongan Allah, atau melimpahkan tugas dan tanggung jawab yang seharusnya kita kerjakan kepada Allah, tetapi campur tangan Allah ini dapat diumpamakan seperti seorang anak yang senantiasa menghargai dan menghormati arahan, didikan, nasihat, teguran, ajaran orang tua yang mengasihi dan selalu berkenan mengharapkan apa yang baik dalam kehidupan anak-anaknya.

Perhatikan Yeremia 31:9, ungkapan yang ditunjukkan Allah kepada umat-Nya yang dituntun keluar dari pembuangan Babel, kembali ke kampung halaman mereka. Allah mengumpamakan diri-Nya sebagai seorang bapa kepada Efraim (Israel) anak sulungnya. Semuanya demi kebaikan umat-Nya (Yer. 31:14).

Membiarkan Allah turut campur dalam kehidupan kita, berarti kita mau rendah hati dan mengakui kekuasaan kuasa kasih-Nya memperlengkapi dan menolong kita untuk mengarahkan kita terhindar dari kebodohan kuasa dosa yang mematikan hidup kita. Allah tidak menghendaki kebinasaan kita. Allah menghendaki kita mengalami damai sejahtera-Nya. Oleh sebab itu, campur tangan Allah dalam kehidupan kita adalah selalu untuk kebaikan kita.

Mazmur 147:12-20, adalah syair pujian yang mengagungkan pertolongan Allah saat umat Israel membangun kembali tembok-tembok Yerusalem saat mereka kembali dari pembuangan. Mereka yakin bahwa upaya mereka memulai kembali apa yang sudah rusak, tidak dijalankan seorang diri. Allah yang baik itu turut campur membimbing dan menopang.

Sebagai bagian dari umat perjanjian yang baru, kita merasakan dengan sangat kentara campur tangan Allah yang membebaskan kita dari belenggu kebodohan dosa, melalui tuntunan dan karya Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 1:1-18).

Surat Efesus 1:3-14 menjelaskan juga peristiwa campur tangan Allah itu seperti seorang tahanan atau budak yang sudah ditebus dari belenggu perbudakan dan hukuman kepada kebebasan hidup. Campur tangan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus itu juga hadir dalam hikmat dan pengertian yang dikaruniakan Roh Kudus dalam hidup orang percaya.

Di awal tahun ini kita merayakan perjamuan kudus. Kita menyambut undangan dan campur tangan Allah lewat perjamuan kudus dan Firman-Nya. Kita tidak lagi menjadi orang yang tinggi hati dan jalan sendiri. Kita dikaruniakan Anak-Nya yang memberikan hikmat dan pengertian untuk tidak terjebak dalam kebodohan dosa. Bukan hanya itu, kita juga menjadi anak-anak-Nya yang dibentuk, dituntun, dididik, ditegur, demi segala kebaikan bagi kita ke depannya. Sungguh ajaib kasih karunia-Nya yang mengasihi kita dalam setiap jam kehidupan kita.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments