Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 5 Desember 2010

diposting pada tanggal 2 Des 2010 13.01 oleh Essy Eisen   [ diperbarui2 Des 2010 13.18 ]
Menanti dengan cara memperjuangkan keadilan bersama Allah yang adil
(Adven 2)

Yesaya 11:1-10
Keadaan umat Allah pada zaman nabi Yesaya digambarkan seperti pohon yang tumbang (Yes 10:33-34). Karena pilihan mereka sendiri yang menolak dinasihati Allah, mereka mengalami kehancuran. Tetapi akan tiba saat-Nya, Allah membentuk sebuah komunitas yang berawal dari keturunan Daud. Keadaan itu digambarkan sama seperti tunas yang tumbuh dan pangkalnya berbuah (Yes 11:1). Komunitas yang ditetapkan Allah itu akan memperjuangkan apa yang benar dan adil (Yes 11:1-5). Dampaknya, bukan hanya mereka akan mengalami apa yang baik di dalam lingkungan komunitas itu, tetapi banyak orang akan menikmati damai sejahtera karena apa yang diperjuangkan oleh keturunan Daud itu (Yes 11:6-10).

Allah berkenan memakai orang-orang yang mengasihi-Nya untuk menjadi pembaharu tatanan yang hancur sehingga banyak orang yang mengalami kesusahan melihat pengharapan Allah menjadi nyata melalui kehadiran mereka.

Mazmur 72:1-7, 18-19
Salomo bermazmur. Sebagai bagian dari keturunan Daud yang dipercayakan untuk memimpin umat Allah berjalan di dalam kebenaran-Nya Salomo membutuhkan bimbingan dari Allah. Apa yang diharapkan oleh Salomo ini selaras dengan apa yang menjadi kehendak Allah bagi umat-Nya. Kepemimpinannya dijalankan dengan penuh hormat dan takut kepada Allah. Buah dari kepemimpinan yang dibimbing oleh Allah itu ialah pada saat keadilan dirasakan dan dialami dengan sungguh oleh segenap umat Allah, sehingga Allah dimuliakan melaluinya.

Pengharapan Salomo harus menjadi pengharapan dan doa kita juga, yang dipercayakan oleh Allah untuk menjalankan kepemimpinan di rumah, di tempat kerja dan di mana saja, agar keadilan Allah nyata melalui tindakan ketaatan kita.

Matius 3:1-12
Yohanes pembaptis bukan hanya membaptis. Ia dengan lantang menyerukan agar orang-orang bertobat dan menghasilkan buah pertobatan. Dalam kesetiaan tugasnya mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus Kristus, Yohanes pembaptis menyerukan agar orang-orang memperjuangkan keadilan sebagai buah pertobatan. Yohanes mengajak mereka untuk peduli kepada yang membutuhkan dan tidak menjadi serakah (Luk 3:7-14).

Ketidakpedulian kepada yang lemah dan keserakahan adalah akar dari ketidakadilan. Sama seperti Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan bagi Yesus Kristus, kitapun yang saat ini menantikan kedatangan Kristus kembali dipanggil untuk menyerukan ditegakkannya keadilan dan juga mau melakukan keadilan dengan peduli kepada yang lemah dan tidak menjadi serakah.

Roma 15:4-13
“Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” (Rm 15:7). Rasul Paulus menjelaskan bahwa Yesus Kristus membuktikan melalui karya-Nya apa yang sudah dinubuatkan Yesaya (Rm 15:8-12). Dalam karya-Nya menegakkan keadilan Allah, Yesus menerima keberadaan orang berdosa agar mereka mengalami pembaruan kehidupan karena-Nya (Rm 15:1-3). Dalam penerimaan Allah melalui Yesus Kristus, orang beriman diajak untuk mau menerima sesamanya dan hidup rukun satu sama lain.

Kristus yang tidak memikirkan kesenangan-Nya sendiri, mengajak kita memiliki kerendahanhati dalam menilai dan menyikapi keberadaan sesama kita. Tindakan ini pada saat-Nya akan berujung kepada perwujudan keadilan dalam komunitas, untuk kemuliaan Allah.

Perenungan
  • Apa yang membuat seseorang berperilaku tidak adil terhadap sesamanya?
  • Bagaimana cara Kristus mewujudnyatakan keadilan?
  • Bagaimana Anda menjalankan kehidupan Anda supaya orang dapat melihat tindakan keadilan Allah melalui diri Anda?
Comments