Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 5 Agustus 2012

diposkan pada tanggal 2 Agt 2012 22.25 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.55 oleh Admin Situs ]
“roti dan Roti”

Keluaran 16:2-4; 9-15, Mazmur 78:23-29, Efesus 4:1-16, Yohanes 6:24-35

Dalam sejarah kepemimpinan Roma, dicatat bahwa Kaisar Aurelius itu politikus yang cermat dalam meraih hati orang banyak. Pernah dalam kebijakan pemerintahannya, ia mengadakan program roti murah. Pemerintahan Romawi waktu itu memiliki sistem pengelolaan pangan yang baik. Mereka memiliki lumbung-lumbung yang besar dan kokoh. Orang-orang dapat membeli gandum untuk membuat roti dengan harga yang murah. Tentu ini memiliki dampak terselubung yang diharapkan yaitu untuk memenangkan suara politis.

Sewaktu mengadakan perjamuan makan besar untuk ribuan orang, banyak orang terkagum-kagum akan kuasa-Nya. Akibatnya, Yesus diarahkan untuk mengambil tempat dalam kepemimpinan politis juga (Yoh. 6:15). Tetapi Yesus menolak dengan tegas! Sebab motivasi orang banyak itu hanya sebatas kulit belaka. Yesus bukan hanya ingin memberikan pembaruan yang sifatnya jasmani belaka. Ia ingin menghadirkan pembaruan manusia yang berangkat dari dalam hati! (Yoh. 6:27, 35).

Sampai saat ini kadang agama juga dapat jatuh ke dalam kesalahan penempatan kala digunakan untuk meraih keuntungan, kenyamanan diri atau bahkan suara politis. Tetapi motivasi yang semacam itu adalah motivasi yang egois. Pengikut sejati dari Yesus, mengikuti Yesus berangkat dari hati yang percaya bahwa di dalam Dia ada kebenaran-kebenaran yang membawa kedamaian untuk menuju kehidupan yang utuh. Itu motif yang benar!

Yesus mengkritik orang yang hanya mau mengikutinya untuk mendapatkan manfaat keuntungan fisik belaka yang sifatnya sementara. Bagi Yesus, setiap orang yang mengikut-Nya harus terus mau belajar untuk dewasa juga di dalam pertumbuhan rohani. Roti memang penting untuk mengenyangkan dan menyokong hidup, tetapi roti saja tidak cukup, sebab roti tidak dapat menghadirkan pembaruan kehidupan yang sejati berangkat dari kedalaman hati. Kita perlu “Roti”.

Yesus mengingatkan umat bahwa dalam sejarah perjalanan mereka sebagai umat Allah di padang gurun, Musa hanya fasilitator bukan kreator. Manna seharusnya mengingatkan mereka kepada Allah, bukan semata-mata mengaggungkan Musa. Saat itulah Yesus memperkenalkan diri sebagai “Roti” (roti hidup) yang mengenyangkan kehidupan rohani mereka. Dalam pengakuan yang tulus untuk menjalin relasi yang akrab dengan Kristus, setiap orang akan mengalami pembaruan jiwa dalam kehidupan yang utuh.

Roti memang memiliki kuasa bagi diri, tetapi kuasa diri pada akhirnya akan lenyap. Roti dapat membuat kita membeli tanah, tetapi tidak dapat membeli cinta kasih; ia dapat membuat kita menjalin relasi dengan banyak orang, tetapi tidak dapat menghadirkan persaudaran sejati; ia dapat membeli emas, tetapi tidak dapat membeli kebahagiaan; perak, tetapi tidak dapat menghadirkan kejujuran; perawatan yang mahal, tetapi tidak dapat menghadirkan kesehatan yang utuh; kekayaan, tetapi tidak dapat membeli karakter; rumah-rumah, tetapi tidak dapat membeli kehangatan dan sukacita keluarga. Roti hanya menumbuhkan jasmani. Yesus menumbuhkan rohani! (Ef. 4:1-16).

Oleh sebab itu:
  1. Milikilah visi hidup yang benar. Belajarlah untuk selalu memberikan makna yang benar dalam setiap peristiwa kehidupan yang terjadi dalam hidup kita. Hindarilah motivasi yang hanya berangkat dari keegoisan belaka. Visi hidup kita ialah memuliakan Allah, bukan menjadi allah atas diri sendiri. Bukan sekedar mencari “roti” tetapi datang dan menjadikan Kristus “Roti” yang memberikan makna kehidupan sejati bagi kita. 

  2. Kelolalah hati untuk menjadi rendah hati, lemah lembut dan sabar. Hati yang seperti itu adalah hati yang “subur” bagi benih-benih pembelajaran nilai hidup sejati yang berasal dari Kristus. Semakin hari, kita dibentuk untuk memiliki nilai-nilai hidup yang kekal. 

  3. Jalinlah relasi yang hangat, dinamis dan berpengaruh, dengan Kristus dan gereja-Nya. Dengan visi hidup yang benar, hati yang terkelola baik, relasi dengan Allah dan sesama terus terbarui menjadi relasi yang diberkati dan menjadi berkat bagi sesama.
Comments