Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 4 Nopember 2012

diposkan pada tanggal 2 Nov 2012 23.39 oleh Essy Eisen
Dengar! Kasihilah!

Ulangan 6:1-9, Mazmur 119:1-8, Ibrani 9:11-14, Markus 12:28-34

Kristus memberikan kepada kita “jiwa” dari hukum-hukum agama. Bukan berarti apa yang sudah ada dari hukum-hukum agama itu tidak penting, tetapi tanpa pengenalan yang benar tentang “akar” dari hukum-hukum agama itu, maka praktek pelaksanaannya bisa jadi tidak utuh dan berimbang.

Dalam kitab Taurat (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan), para ahli menemukan ada 613 hukum-hukum agama yang terdiri dari 248 hukum yang sifatnya positif (apa yang harus dilakukan) dan 365 yang sifatnya negatif (apa yang tidak boleh dilakukan). 613 hukum itu telah membentuk iman dan praktek kesalehan umat dalam Perjanjian Lama. Pada zaman Yesus, kita mengetahui, banyak umat yang melakukan hukum agama, tanpa menyadari jiwa dari hukum itu.

Dalam bacaan Injil minggu ini (Mrk. 12:28-34), berangkat dari jiwa “perjanjian yang baru”, kita menjumpai Yesus meramu seluruh hukum, segenap perintah dan pengajaran para nabi itu dengan kalimat perintah yang cukup pendek: “Kasihi Allah dan kasihi sesama”. Atau dalam kalimat yang lebih lengkap: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Mengasihi di sini tentu tidak sesempit sekadar bersikap manis dan kelihatan baik saja dengan tidak melakukan “apa yang dilarang”, tetapi ada upaya lebih yang berangkat dari hati yang peduli dan turut merasakan kesusahan dan penderitaan yang dialami oleh orang lain. Ada upaya “jemput bola” ketimbang “menunggu bola”. Saat kita mau berinisatif, mengambil langkah terlebih dahulu untuk memberikan kasih melalui tindakan yang nyata bagi orang yang membutuhkan kasih, kita sedang mengasihi Allah dan mempermuliakan Allah. Kasih kita kepada Allah utuh, kasih kita kepada sesama juga utuh.

Dalam 1 Yohanes 4:11-12 dikatakan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.”

Kadang kita sulit mengasihi. Mengapa? Banyak penyebabnya. Tetapi hampir pasti, penyebabnya ialah kita salah mendengar! Yang kita dengarkan bukanlah sapaan Allah yang telah mengasihi kita, tetapi kedirian kita yang lebih banyak menuntut apa-apa yang kita anggap benar sendiri. Kita tentu ingat apa yang terjadi dengan Kain, pembunuh adiknya sendiri bukan? Saat hatinya dipenuhi tuntuan dan kedirian, Allah menyapanya dan mengajaknya untuk mengingat penyertaan-Nya, tetapi Kain lebih memilih untuk meladeni emosi negatifnya. (Kej. 4:6-8).

Atau kadang kita tidak mau mendengar atau pura-pura tidak mau mendengar. Kita mengabaikan apa yang kita ketahui baik dan benar. Kita menunda apa yang seharusnya kita lakukan dengan segera. Hati kita merasa kita tahu apa yang baik, tetapi akal budi kita “pikir-pikir” untuk melakukannya. Lambat laun kita membangun jiwa yang pecah, tidak utuh, tidak damai.

Oleh sebab itu firman Tuhan mengingatkan kita kembali. Umat Allah dalam ikatan perjanjian-Nya diajak untuk “mendengar”. “Dengar hai Israel…” (Ul. 6:1-9). Mendengar dengan sungguh-sungguh adalah langkah pertama dari pembaruan hidup. Pembelajaran apapun tidak akan pernah masuk dan mengubah hidup kita kalau kita salah mendengar, tidak mendengarkan atau pura-pura tidak mendengar.

Jika kita mau mendengar, maka kita akan dan sedang belajar bersama-Nya. Kita akan menerima pembaruan hidup. Hati kita tidak lagi dikuasai pementingan diri. Akal budi kita terkelola untuk memiliki pikiran Kristus (Flp. 2:5-7). Jiwa kita adalah jiwa yang utuh dan terselamatkan karena-Nya.

(Pdt, Essy Eisen)
Comments