Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 4 Agustus 2013

diposkan pada tanggal 17 Sep 2013 22.49 oleh Essy Eisen
Memperhatikan kebutuhan pertumbuhan rohani

Pengkotbah 1:2, 12-14, 2:18-23, Mazmur 49:1-12, Kolose 3:1-11, Lukas 12:13-21

Jika saat ini Anda sedang membaca renungan warta ini, bersyukurlah. Ini menjadi penanda kecil bahwa Anda sedang memperhatikan kebutuhan yang penting dari segala kebutuhan hidup Anda pada umumnya sebagai pengikut Kristus, yaitu pertumbuhan rohani. Mengapa pertumbuhan rohani itu penting? Sebab, sebagaimana penulis kitab Pengkotbah ungkapkan dalam sebagian besar kitabnya, adalah kesia-siaan jika apa yang kita lakukan dalam kehidupan ini, sehebat dan seagung apapun, manakala dilakukan tanpa Allah. Walaupun kelihatannya penulis kitab Pengkotbah itu seorang pesimis berat, sebenarnya dengan gaya tuturnya itu ia sedang menantang setiap pembacanya untuk mempertanyakan hakikat terpenting dalam hidup, yaitu seberapa rendah hatikah kita untuk mengakui bahwa di luar pemeliharaan Allah, kita tidak akan menemukan makna yang agung dalam hidup ini.

Dalam pembacaan Injil hari ini, Lukas mengisahkan Yesus yang diajak masuk ke dalam sebuah sengketa pembagian warisan. Yesus diajak untuk masuk dalam peperangan ego dua orang yang sebenarnya saudara. Entah apakah saudara yang satu kelewat pelit untuk berbagi, atau yang satu kelewat rakus untuk meminta, yang jelas Yesus menolak untuk berpolemik. Bagi Yesus adalah lebih penting untuk mengkoreksi hati dan pikiran seseorang, ketimbang menyelesaikan sengketa secara teknis, sebab biasanya sengketa itu, apapun kasusnya, dilatarbelakangi oleh hati yang serong dan jahat.

Seperti biasa, dalam penyelesaian sengketa itu Yesus menggunakan cerita. Cerita Yesus bukan sembarang cerita, sebab amat sering cerita Yesus itu aktual juga terjadi dalam kehidupan banyak orang secara nyata. Yesus menceritakan tentang seorang yang berhasil dalam karya hidupnya, tetapi gagal untuk mengelolanya dalam hati dan pikiran yang takut kepada Allah dan penuh perhatian kepada orang lain. Orang kaya dalam cerita Yesus itu penuh dengan “keakuan”. Perhatikan ada banyak “aku dan ku” pada ayat 17-19. Seolah-olah orang ini hidup sendiri di dunia ini dan tidak ada peran orang lain di dalamnya. Seolah-olah dia tiba-tiba saja muncul di dunia ini tanpa ada yang menciptakan. Seolah-olah hasil tanahnya dia yang menumbuhkan. Seolah-olah ia hidup selama-lamanya di dunia ini. Atau parahnya, mungkin, dia berpikir seolah-olah dia itu Tuhan? Sebab ia mengklaim diri dapat meraih ketenangan jiwa melalui upayanya sendiri! (Luk. 12:19).

Pesan Yesus melalui cerita ini jelas: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Luk. 12:15). Yesus tidak menentang seorang berlimpah harta. Yang Yesus ingatkan ialah, jangan bergantung kepada kekayaan! Bergantunglah pada Allah! Dengan menggantungkan diri kepada Allah, orang yang kaya dan berlimpah harta dapat terhindar dari jebakan mematikan ketamakan, ketidakpedulian dan kesombongan jasmani dan rohani. Harta seharusnya dapat menjadi salah satu alat untuk menunjukan kasih Allah, bukan menjadi tujuan hidup yang utama (Mat. 6:20).

Jemaat Kristen di Kolose diingatkan untuk tidak serakah, sebab keserakahan sama dengan penyembahan berhala (Kol. 3:5). Selain itu rupa-rupa sikap “manusia lama” yang menunjukkan kedirian dan keakuan sebagai “pusat hidup” seperti: percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, kemarahan, kegeraman, fitnah dan kata-kata kotor juga harus ditanggalkan.

Sebagai pribadi yang mengamini kebangkitan Kristus, mereka bukan saja diajak untuk menerima kebangkitan yang akan datang, tetapi juga kebangkitan hidup saat ini berupa transformasi diri yang sehat sesuai tuntunan Allah. Mereka diajak untuk “mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.” (Kol. 3:10).

Memperhatikan pertumbuhan rohani mirip dengan “memikirkan perkara yang di atas” (Kol. 3:2). Tetapi ini tidak sesempit melarikan diri dari kenyataan hidup, sebab secara utuh jemaat Kolose juga diberikan nasihat etis yang harus dilakukan di dunia pada ayat-ayat sesudahnya. Orang yang mau bertumbuh secara rohani merindukan dirinya semakin serupa Kristus. Orang itu mau memberi kasih ketimbang mendapat kasih, melayani ketimbang menuntut, mengampuni ketimbang membalas dendam. Nilai-nilai hidupnya terus-menerus diperbarui Kristus. Jika rohaninya bertumbuh, pada saatnya “buah”nya akan dimunculkan Allah. Buah yang sedap bagi dirinya dan sesama ciptaan Allah yang lain. Apa “buah”nya? Ini: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. (Gal 5:22-23)

Komitmen Minggu ini:

Memiliki spiritualitas yang mau diubahkan & membawa dampak baik bagi hidup orang lain.


(Pdt. Essy Eisen)
Comments