Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 3 Oktober 2010

diposting pada tanggal 30 Sep 2010 11.42 oleh Essy Eisen
Iman dan Karya

Lukas 17:1-10

Dialog Yesus dan para murid-Nya di ayat 5-6 dan 7-10 tampak tak terkait satu sama lain. Sementara dua ayat pertama berbicara tentang iman, ayat-ayat selanjutnya perihal karya seorang hamba. Iman dan karya. Kita memang sudah terbiasa untuk memisahkan iman dan karya. Paling-paling kita beranggapan bahwa karya adalah manifestasi iman. Bukan sebaliknya.

Di sisi lain, permintaan atau desakan para murid itu, bisa dimengerti, muncul dari keinginan yang sangat besar untuk berlomba menjadi yang terbesar. Mereka menyangka, iman yang semakin besar membuat kans mereka untuk menjadi pemimpin makin besar pula.

Yesus dengan sangat jeli mengaitkan keduanya, iman dan karya. Terhadap permintaan (bahkan perintah) para murid, “Tambahkanlah iman kami!” (ay. 5), Yesus menjawab dengan sebuah pengandaian bahwa “kalau sekiranya...” (ay. 6) mereka memiliki iman yang kecil pun, mereka bisa memindahkan pohon ara ke dasar laut. Seandainya. Nyatanya? Tidak! Karena yang terjadi justru mereka menampilkan ketidakberimanan mereka justru dengan meminta Yesus menambah iman mereka.

Sesudah itu, Yesus mengajar tentang sikap hidup seorang hamba yang setia, yang tak menuntut apa-apa dari tuannya. Hamba yang setia itu malah mampu berkata bahwa ia tak layak dan hanya mengerjakan apa yang harus dikerjakannya. Menarik sekali! Permintaan para murid agar Yesus menambah iman mereka dijawab dengan sikap seorang hamba yang berkarya dengan setia tanpa banyak menuntut.

Apa yang Yesus katakan, sesungguhnya, adalah bahwa iman kita bertumbuh dan bertambah justru ketika kita mengerjakan kehidupan kita sebagai hamba Allah dengan setia, tanpa menuntut, tanpa menimbang, dan malah menganggap diri hina di hadapan Sang Tuan. Itulah sikap iman yang sejati.

Singkatnya, iman sejati yang bertambah-tambah justru ditemukan dalam karya yang makin bertambah. Anda ingin iman Anda bertambah? Tambahkanlah karya Anda sebagai seorang hamba. Untuk memiliki iman yang bertambah, seseorang harus membuang jauh keinginan untuk menjadi tuan besar dan dengan tulus berkata bahwa karya yang bisa kulakukan ini adalah upah yang kuterima. Maka, janganlah bekerja demi upah, termasuk demi iman yang bertambah. Karena, iman akan bertambah dengan sendirinya, ketika kita menambah karya kita sebagai hamba Allah. Atau, lebih tepat lagi: Bukti iman yang bertambah adalah ketika karya kita makin bertambah. (JA)
Comments