Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 3 Juni 2012

diposkan pada tanggal 2 Jun 2012 01.10 oleh Essy Eisen
Bapa, Anak dan Roh Kudus

Yesaya 6:1-8, Mazmur 29; Roma 8:12-17, Yohanes 3:1-17

Hari minggu ini disebut minggu Trinitas. Kita menghayati bahwa Allah Trinitas adalah Allah yang begitu jauh, namun sekaligus begitu dekat. Allah menyatakan diri kepada ciptaan-Nya dan bersedia dikenali melalui Yesus Kristus di dalam kuasa Roh Kudus. Dalam keempat pembacaan Alkitab kita hari ini, kita dapat menjumpai makna karya kasih Allah Trinitas bagi dunia. Allah yang Esa dalam ketritunggalan-Nya itu menjadi menjadi hikmat yang indah dalam iman kita. Jika kita membaca Alkitab dengan utuh baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka kita akan mengenali karya Allah Trinitas yang adalah kasih dengan sangat jelas.

Dalam kisah perutusan nabi Yesaya (Yes. 6:1-8), kita mendapati kenyataan akan dosa-dosa manusia jika dibandingkan dengan kekudusan Allah. Tetapi Allah yang kudus itu bukanlah Allah yang tiran dan semena-mena. Allah menyediakan pengampunan dosa. Yesaya bersedia menerima pengampunan Allah dan Yesaya menyerahkan dirinya untuk menjadi utusan Allah bagi dunia.

Melalui Mazmur 29, kita melihat kekuasaan Allah disanjung. Ia mengatasi semesta. Segenap citptaan takluk kepada-Nya. Melalui “suara” dan “kuasa”-Nya, Allah berkarya. Tidakkah ini juga mengingatkan kita kepada kehadiran trinitaris Allah melalui Sang Anak dan Roh Kudus. Melalui kuasa-Nya itu Allah membuktikan dan memberikan kasih-Nya untuk memberkati umat-Nya dengan sejahtera,

Rasul Paulus menjelaskan, bahwa kecenderungan manusia ialah “hidup menurut daging” dan oleh sebab itu pantas untuk mati (Rm. 8:12-13a). Namun, syukur karena Roh Kudus, kita tidak terjerumus ke dalam karakter yang mematikan itu. Kita diubahkan menjadi “anak-anak Allah”. Roh Kudus memimpin kehidupan kita. Kini, Kristus, Sang Anak, menjadi teladan dalam kehidupan kita. Bila Roh Allah ada di dalam kita, maka kita akan menjalankan hidup sebagaimana Kristus hidup.

Percakapan Nikodemus dengan Yesus mengandung pesan yang dalam tentang pembaruan karakter orang beriman. Nikodemus adalah orang yang mengenal Allah. Tetapi rupanya, imannya mau bertumbuh. Ia mengenali, bahwa di dalam Yesus, Ia sepertinya mengalami kehadiran Allah sendiri. Yesus kemudian mendorongnya untuk melangkah lebih jauh. Nikodemus didorong untuk “dilahirkan kembali”. Artinya, Nikodemus diajak untuk menerima pemberian Allah melalui karya Kristus ketimbang hanya sekedar merasa “sudah mengetahui” atau bahkan “memiliki” pengetahuan tentang karya Allah belaka. Nikodemus diundang untuk memiliki hubungan yang sangat intim berlandaskan kasih, dengan melembutkan hati supaya Roh Kudus berkarya dan memampukannya mengikut Kristus dengan setia. Memang, kita tidak segera mengetahui apa yang menjadi tanggapan Nikodemus. Tetapi kalau kita agak mempercepat adegan di dalam kisah Injil Yohanes maka kita mengetahui, apa yang terjadi dengan karakter Nikodemus kemudian ( Yoh. 7:50; 11:47; 19:39).

Hikmat iman kita mengatakan, tidak cukup jika kita hanya mengandalkan kemampuan dan kekuatan diri sendiri saja dalam mengenal Allah. Sebab, sedari awal, justru Allah yang berkenan untuk mendekatkan diri kepada kita. Di dalam Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita, Yesus Kristus, dan secara spiritual di dalam kehadiran Roh-Nya yang kudus, Allah menyapa dan hadir membarui hidup kita. Karya Tirinitas adalah karya kasih, penyataan pribadi Allah yang melampaui akal demi kesejahteraan ciptaan (Luk. 4:1, 14, 18; Kis. 16:7; Rm. 8:8; Flp. 1:19; 1 Ptr. 1:11-12.

Terpujilah Bapa, Anak dan Roh Kudus, ketiga-Nya Esa!

Pertanyaan Aplikasi
  • Apakah tepat jika dikatakan Allah adalah Allah yang jauh dan tidak peduli kepada manusia yang berdosa? Mengapa?
  • Mengapa Tuhan Yesus mengajak Nikodemus untuk “dilahirkan kembali”? Apa artinya?
  • Apa yang menjadi penghalang orang untuk memberlakukan kasih? Apa yang menjadi karya pokok Allah Trintas bagi dunia?
Comments