Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 3 Februari 2013

diposkan pada tanggal 1 Feb 2013 19.35 oleh Essy Eisen   [ diperbarui1 Feb 2013 20.09 ]
"Bukankah Ia ini anak Yusuf?" 

Yeremia 1:4-10, Mazmur 71:1-6, 1 Korintus 13:1-13, Lukas 4:21-30

Begitulah tanggapan para pengunjung rumah ibadat di Nazaret, setelah mereka mendengar Yesus menyatakan bahwa Dialah Kristus, yang telah diurapi Allah, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Mereka memang kagum dengan kata-kata yang indah dari Yesus, tetapi rupanya mereka sangsi kepada Yesus, karena mereka merasa mengenal Yesus sebatas anak dari Yusuf, seorang tukang kayu di Nazaret. Tidak lebih.

Semua orang pernah menghadapi masalah. Tetapi sedikit orang yang menyadari bahwa kadang “cara melihat” atau “sudut pandang” dalam menilai sesuatu itulah yang sebenarnya menjadi masalahnya. Kadang orang lebih menekankan “apa yang di belakang mata” ketimbang “apa yang di depan mata”. Buru-buru menilai, ketimbang menyimak terlebih dahulu untuk memahami dengan benar. Sikap ini acapkali akan membuat orang menjadi “buta dan tuli” terhadap apa yang benar. Mungkin juga karena kebenaran membuat orang tidak nyaman. Untuk menjaganya tetap nyaman, orang dapat dengan mudahnya mengikari kebenaran dan menafsirkan ulang apa yang dilihatnya dengan banyak alasan yang membuatnya semakin jauh dengan apa yang benar.

Pengunjung rumah ibadat di Nazaret menjadi marah. Mereka membawa Yesus ke tebing gunung. Mereka enggan menerima kebenaran dan keberanian Yesus yang sudah memperhadapkan mereka dengan kenyataan akan kepicikan dan kekerasan hati mereka. Dengan mengungkit kisah Nabi Elia dengan seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon, tanah yang bukan didiami orang Israel, juga kisah Nabi Elisa yang menyembuhkan Naaman, seorang dari Siria, secara tidak langsung Yesus ingin memperlihatkan kepada mereka bahwa kasih Allah terbuka bagi banyak bangsa, yang hati, pikiran dan tangannya mau terbuka untuk menerima sapaan kasih Allah. Sedangkan hati para pengunjung rumah ibadat itu, rupanya telah tertutup dengan “sudut pandang” yang sempit, yang telah membisukan mereka untuk menjawab panggilan yang Allah hadirkan melalui karya Yesus Kristus.

Keengganan seseorang untuk menjawab “Ya” terhadap panggilan Allah di dalam Kristus hanya akan berujung pada hidup yang lama, yang basi dan tidak berkembang. Orang itu akan kehilangan kesempatan untuk menikmati masa depan yang diberikan Yesus, karena ia tidak mau menerima pembaruan hidup. Orang itu nyaman dengan hidup yang lama. Karya Allah dibatasi oleh apa yang dinginkannya semata dan bukan apa yang dibutuhkannya.

Memang tidak mudah untuk menjawab “Ya” terhadap panggilan Allah. Penilaian yang terburu-buru tentang diri sendiri, tentang orang lain, tentang keadaan yang dialami, acapkali membuat seseorang berakhir dengan menggunakan “sudut pandang” yang justru akan semakin melemahkan diri sendiri.

Pada awal pemanggilannya sebagai seorang nabi, Yeremia sempat menyangsikan dirinya sendiri, karena ia beranggapan masih muda. Tetapi Allah setia dengan kasih-Nya! Yeremia ditolong Allah untuk terus mau berjalan bersama-Nya karena Ia berjanji akan menyertainya. Dengan perkataan-perkataan yang Allah taruh di dalam mulutnya, Yeremia dimampukan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam. Yeremia diajak Allah untuk mengenali dan menjawab “Ya” terhadap panggilannya sebagai nabi Allah dan didorong menjadi berani untuk menyatakan kasih, kebenaran dan keadilan karena pertolongan kasih Allah.

Tidak seperti para pengunjung rumah ibadat di Nazaret dalam menanggapi Yesus, Yeremia mau terus bercakap-cakap dengan Allah, menerima Firman-Nya dan bersedia dibentuk-Nya.

Bersama Rasul Paulus, kiranya saat ini kita tetap bersedia untuk mengenali panggilan Kristus dan menanggapi-Nya dengan benar. “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang kita hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti kita akan mengenal dengan sempurna, seperti kita sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”

Mari terimalah Roh dan Kasih Tuhan yang akan memberanikan kita untuk tidak menjadi “buta dan tuli” dalam menerima pertolongan-Nya atau “bisu” dalam menyatakan kebenaran-Nya.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments