Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 31 Agustus 2014

diposting pada tanggal 29 Agt 2014 18.20 oleh Admin Situs
Mengasihi itu yang paling penting! Jangan takut! Terus Maju bersama Kristus!

Keluaran 3:1-15, Mazmur 105:1-6, 23-26, 45, Roma 12:9-21, Matius 16:21-28

Kita senang dan rindu hari ke hari hidup kita bersama dengan orang lain menjadi lebih baik. Tetapi acap kali kerinduan kita itu terhambat oleh masalah-masalah. Hampir selalu kita beranggapan, bahwa orang lainlah yang menjadi penyebab dari masalah itu. Memang adakalanya orang lain bisa saja menjadi penyebab apa-apa yang kita anggap sebagai masalah. Tetapi kita juga harus mengakui bahwa ada andil diri kita, tentang bagaimana terselesaikannya masalah itu. Terkadang keras hatinya kita karena memperjuangkan kepentingan diri sendiri, enggan mengasihi dan melupakan kasih membuat kita tidak pernah menjadi orang yang berani mengambil langkah-langkah suci bagi penyelesaian masalah-masalah hidup kita.

Kita cinta damai, tetapi kita tidak mau menjadi pelaku damai. Kita tahu tentang kasih. Kasih itu terarah kepada tindakan untuk Allah dan orang lain. Tetapi yang kita lakukan bukan memberikan kasih, melainkan menuntut dikasihi. Kita tahu bahwa perubahan apapun dalam hidup ini membutuhkan pengorbanan, tetapi kita malah mengorbankan orang lain dan enggan melupakan kepentingan diri sendiri. Kita tahu bahwa apa yang diajarkan Tuhan Yesus itu adalah nasihat yang paling baik, yang harus ditaati dengan serius tetapi kita malah mengikuti pikiran dan pendapat kita saja. Kita tidak mau dipimpin oleh Tuhan Yesus.

Dalam Injil Minggu ini, kita mengenali misi yang dijalankan Tuhan Yesus. Ia membarui dunia ini dengan cara-Nya. Bagi-Nya, dunia ini tidak boleh menjadi tempat di mana Setan menjadi Raja. Allah saja yang harus menjadi Raja dalam dunia ini. Ada penolakan dari pemimpin dan pemuka agama yang keras hatinya waktu itu. Yesus tahu, misi-Nya akan mengakibatkan Ia terbunuh. Petrus tidak nyaman dengan perjuangan Tuhannya itu. Secara manusiawi, pikiran Petrus biasa terjadi pada banyak orang.

Tetapi bagi Tuhan Yesus, Petrus dan para pengikut-Nya harus melihat perkara surgawi juga. Mereka harus tahu bahwa kasih itu yang paling penting. Kasih selalu berkorban. Mereka harus mau terus maju bersama Yesus. Kalau ikut pikiran dan kepentingan diri sendiri saja bahaya. Tetapi Kalau ikut Yesus, selamat! Sebab Tuhan Yesus mendobrak struktur yang menindas dengan kasih dan pengorbanan. Ini tindakan yang jauh lebih berkuasa ketimbang penggunaan kekerasan. Hidup baru bersama Yesus tentu jauh lebih berharga dari kepemilikan barang. Di dalam kasih ada kehidupan baru dengan sukacita surgawi.

Menjadi perenungan bagi kita untuk menghidupi Injil-Nya ini pada hari-hari ke depan. Apakah kita berkenan untuk berjalan mengikuti Yesus dan cara-Nya dalam membarui dunia ini? Apakah kita berkenan mengikuti teladan Musa, yang bukan sekadar kagum akan kuasa Allah, tetapi juga mau datang kepada Allah, mendengar nasihat Allah dan menjadi rekan kerja Allah dalam pembebasan umat-Nya yang tertindas? Apakah kita mau menerima janji-Nya yang menolong ketidakmampuan kita dalam proses pembaruan hidup kita untuk mendobrak struktur-struktur hidup yang menindas?

Nasihat Rasul Paulus sangat terang, jelas dan praktis, terkait misi pembaruan hidup kita sebagai pengikut Kristus. Dalam semangat menyangkal kepentingan diri, berkorban dan mengikuti cara Kristus, mari kita lakukan hal-hal ini dengar serius di sepanjang hidup kita:
  • Mengasihi dengan ikhlas. 
  • Membenci dan menjauhi perbuatan jahat.
  • Memegang nasihat yang baik. 
  • Melihat sesama kita seperti saudara sendiri. 
  • Lebih banyak menghargai orang lain. 
  • Tidak menyerah dalam melakukan kasih dan mau dibimbing Roh Allah.
  • Sabar waktu menghadapi kesusahan. 
  • Tekun berdoa. 
  • Menolong orang yang mengalami kesusahan. 
  • Menyambut dengan hangat orang yang butuh perlindungan. 
  • Mendoakan orang yang kejam kepada kita supaya Allah berkenan memberkatinya/mereka. 
  • Tidak menggunakan kata-kata kasar/kutukan kepada orang lain. 
  • Menggunakan kata-kata positif/berkat kepada orang lain. 
  • Berupaya memahami pikiran dan perasaan orang lain juga/empati. 
  • Mengupayakan kerukunan. 
  • Tidak sombong. 
  • Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. 
  • Sebanyak mungkin melakukan kebaikan kepada orang lain.
(Pdt. Essy Eisen)
Comments