Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 30 Oktober 2011

diposting pada tanggal 4 Nov 2011 20.50 oleh Essy Eisen
Damai atau adil? Benar atau rusuh?

Mikha 3: 5-12

Ada seorang pendeta yang pernah mengatakan tugas seorang nabi adalah membawa perdamaian. Jika berita sang nabi tidak membawa perdamaian, maka itu seorang nabi palsu. Bagaimana menurut pendapat saudara? Apakah berita seorang nabi harus selalu membawa perdamaian?

Betul bahwa Allah menghendaki perdamaian. Nabi-nabiNya selayaknya memberitakan perdamaian. Akan tetapi perdamaian macam apa yang dimaksudkan? Bukankah Negara Jerman berada dalam perdamaian ketika diperintah oleh Hitler antara 1933-1939? Bukanlah Kekaisaran Romawi ada dalam masa damai ketika Tuhan Yesus lahir? Tetapi apakah itu damai yang sejati? Ternyata tidak. Damai di situ hanya berarti tidak ada perang dan kerusuhan. Namun, perdamaian itu ditegakkan dengan senjata dan tirani atas orang-orang yang berbeda pendapat dari penguasa. Apakah ada keadilan di tengah perdamaian itu? Tidak. Yang ada hanyalah perdamaian semu. Keadilan hanya dijalankan untuk penguasa. Apakah Nabi yang menyerukan perdamaian selalu benar? Nyatanya tidak.

Kalau kita baca Kitab Nabi Mikha, kita temukan pernyataan yang jelas dari Tuhan Allah sendiri tentang nabi-nabi palsu. Nabi-nabi itu menyerukan perdamaian ketika perut mereka kenyang dan menyerukan perang ketika mereka kelaparan. Nabi semacam ini bisa dipesan nubuat dan isi khotbahnya, tergantung siapa yang membayar. Perdamaian agaknya bukan pesan utama dari para nabi.

Seluruh nabi di Perjanjian Lama memiliki keprihatinan yang sama seperti Mikha. Mereka prihatin akan keadilan dan kebenaran. Terkadang menyuarakan keadilan dan kebenaran mengandung risiko besar. Kita tahu nasib buruk yang menimpa Yesaya, Yeremia, dan Elia ketika mereka melawan pesan penguasa dan masyarakat banyak. Mereka berani menyuarakan apa yang benar dan adil ketika masyarakat lebih suka kedamaian semu di bawah raja-raja yang tidak takut kepada Allah. Namun, mereka inilah pahlawan-pahlawan iman Perjanjian Lama—orang-orang yang tidak berkompromi dengan kebobrokan moral bangsa Israel dan Yehuda. Mereka tetap konsisten mendengarkan suara Allah, bahkan ketika pesan dan nubuat mereka akhirnya menimbulkan “keresahan dan kerusuhan” dan melenyapkan perdamaian semu yang berusaha dipelihara oleh raja-raja mereka. Perdamaian sejati hanya terwujud ketika kebenaran dan keadilan ditegakkan. Perdamaian seperti inilah yang didukung para nabi, bukan perdamaian semu.

Saat ini kita (baca: gereja) sangat prihatin dengan kejadian-kejadian belakangan ini di Papua. Setelah berkunjung ke Jayapura dua kali dan ke Manokwari sekali, serta singgah sebentar di Timika dan Biak, saya merasa sangat sedih melihat keadaan saudara-saudara kita penduduk asli di sana. Keadilan dan kebenaran rasanya masih jauh dari apa yang kita rasakan di Pulau Jawa. Kesejahteraan dan kedamaian tampaknya semu. Sesuai dengan berita Nabi Mikha, kita diundang untuk mewujudkan keprihatinan itu dalam tindakan nyata. Jika gereja diam saja melihat ketidakadilan demi mempertahankan kedamaian semu, maka kita tak ubahnya seperti nabi-nabi upahan yang dikecam Tuhan melalui Mikha. Mari kita terus dukung PGI dalam upayanya menyuarakan kebenaran dan keadilan dan gereja-gereja di ujung timur Indonesia untuk berani membawakan suara kenabiannya seturut Firman Allah. “Tetapi aku ini penuh dengan kekuatan, dengan Roh TUHAN, dengan keadilan dan keperkasaan, untuk memberitakan kepada Yakub pelanggarannya dan kepada Israel dosanya.”

(Agustian N. Sutrisno)
Comments