Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 30 Maret 2014

diposting pada tanggal 4 Apr 2014 02.24 oleh Admin Situs
Akulah Terang Dunia

1 Samuel 16:1-13; Mazmur 23; Efesus 5: 8-14; Yohanes 9: 1-23, 37-41.

Pengalaman orang buta dalam Yohanes 9 pastilah sangat luar biasa. Bagaimana tidak? Sejak lahir dia hidup dalam kegelapan. Sedari kecil dia tidak bisa melihat apa-apa, tidak bisa mengenali banyak hal dengan sempurna. Dia menjalani hidup dengan cara meraba-raba dan mengandalkan pendengaran. Alangkah sulitnya hidup seperti itu. Dia mungkin pernah kejeblos lobang, tersandung, dan menabrak pohon atau tembok. Tidak hanya itu saja, diapun harus menanggung beban sosial yang menganggap kebutaan itu sebagai akibat dosa (ayat 2). Lalu dia bertemu Yesus dan kegelapan yang menguasainya pun hilang. Si buta itu kemudian dapat melihat.

Apakah lalu persoalannya selesai? Tidak! Orang-orang Farisi merasa perlu menyelidiki persoalan tersebut, terutama karena penyembuhan itu Yesus lakukan pada hari Sabat. Para ahli kitab itu ingin memastikan bahwa apa yang terjadi tidak melanggar aturan (dogma) agama yang mereka anut. Dan mereka menganggap si penyembuh bukanlah berasal dari Allah semata-mata hanya karena Dia menyembuhkan orang pada hari Sabat. Tapi, ajaibnya, si buta yang telah celik dengan berani menyatakan imannya bahwa Yesus berasal dari Allah, sebab tidak mungkin orang yang tidak berasal dari Allah dapat menyembuhkan kebutaan sejak lahir (ayat 31-33).

Kisah dalam Yohanes 9 ini menunjukkan bahwa ada dua jenis kebutaan, yaitu kebutaan fisik dan kebutaan spiritual. Perjumpaan si orang buta dengan Yesus tidak hanya mencelikkan kebutaannya secara fisik saja, tapi juga secara spiritual. Karena itu dia dapat dengan tegas menyatakan imannya bahwa Yesus berasal dari Allah. Si buta berjumpa dengan terang itu dan mengalami kesembuhan secara fisik dan spiritual. Sedangkan orang-orang Farisi gagal mengenali tindakan Allah dalam Yesus. Walaupun secara fisik mereka dapat melihat, tapi para ahli kitab ini sesungguhnya mengalami kebutaan spiritual. Mereka mungkin hafal seluruh kitab-kitab, dan karena itu mereka menganggap diri sebagai orang yang paling benar, namun sesungguhnya mereka hidup dalam kegelapan. Kesombongan rohani dan pemahaman dogmatis yang kaku membuat mereka tidak bisa mengenali tindakan Allah dalam Yesus Sang Terang Dunia. Dan karenanya, mereka juga tidak mampu hidup sesuai dengan yang Allah kehendaki.

1 Samuel 16: 1-13 juga menggambarkan bahwa tidak mudah bagi manusia untuk memahami kehendak Allah. Bahkan seorang nabi seperti Samuel sempat terkecoh oleh penilaiannya sendiri (ayat 6). Kegagalan memahami kehendak Allah ini terjadi karena Samuel berpatokan pada penilaiannya sendiri yang mengutamakan apa yang terlihat di luar. Tapi rupanya kehendak Allah tidak ditentukan oleh apa yang terlihat di luar, tetapi apa yang ada di dalam, yaitu hati (ayat 7).

Dari kisah di atas kita melihat bahwa kegagalan mengenal karya dan kehendak Allah disebabkan oleh karena seseorang menganggap dirinya sudah tahu kebenaran alias sudah benar, sehingga tidak lagi membuka diri terhadap kebenaran Allah dalam Yesus Kristus. Buah dari perasaan diri sebagai orang benar dan pemahaman yang kaku membuat seseorang bertindak sewenang-wenang dan tidak adil terhadap orang lain. Berbeda dengan orang yang sudah mengalami terang Kristus, seperti orang buta yang sudah dicelikkan itu dalam Yohanes 9. Perjumpaan dengan Sang Terang mengubah hidupnya sehingga berani menyatakan kebenaran. Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan Paulus dalam Efesus 5: 8-14, bahwa orang yang sudah dilepaskan dari kegelapan akan hidup sebagai anak-anak terang, yaitu hidup yang berbuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran.

Bacaan masa Pra Paska IV ini mengajak agar kita waspada sehingga tidak terjebak dalam perasaan telah mengetahui kebenaran dan pemahaman dogmatis yang kaku, melainkan senantiasa terbuka diperbarui dan diubahkan oleh terang Kristus. Sejalan dengan itu, kita diminta untuk melihat apakah kita sudah hidup sebagai anak-anak terang, apakah kita sudah hidup berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran?

Tekad dalam Minggu Pra Paska IV: Hidup berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran.

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.)
Comments