Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 30 Januari 2011

diposkan pada tanggal 28 Jan 2011 02.38 oleh Essy Eisen
Solidaritas Kasih

Mikha 6:1-8

Berkenankah Tuhan kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak?... Hai manusia, telah dibertahukan kepadamu apa yang baik...Apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?

Belum genap dua minggu sejak Kota Brisbane, tempat tinggal saya sekarang, dilanda banjir besar. Terakhir kali Brisbane digenangi air terjadi pada tahun 1974. Sejak banjir besar lebih dari 30 tahun yang lalu itu, kota ini relatif bebas banjir karena berbagai upaya yang dikerjakan pemerintah untuk menghentikan aliran Sungai Brisbane yang berlebihan.

Seperti kota-kota besar lainnya di negara-negara berbudaya Barat, penduduk kota ini relatif tidak beragama. Gereja tentunya mudah ditemukan, hampir di tiap persimpangan jalan besar bisa ditemukan gedung gereja. Namun kalau kita masuk ke gedung-gedung itu untuk Kebaktian Minggu, biasanya bangku-bangku kosong yang akan menyapa kita. Jika saudara-saudara sesama anggota GKI di Taman Yasmin kesulitan membangun gedung gereja dan gedungnya disegel oleh pihak-pihak di luar gereja, maka gedung-gedung gereja di Brisbane seringkali ditutup secara sukarela oleh pihak gereja karena memang sudah tidak memiliki anggota jemaat lagi. Bagaimanakah reaksi penduduk kota sekuler ini ketika menghadapi banjir besar yang menenggelamkan pusat kotanya?

Begitu banjir surut, berduyun-duyun sukarelawan dari seluruh penjuru kota yang tidak terkena bencana banjir datang ke pusat kota dan bekerja bakti membersihkan kota. Mereka yang memiliki pompa air portabel dengan senang hati meminjamkannya kepada orang-orang yang tidak mereka kenal sama sekali untuk membantu membersihkan kota. Traktor-traktor dipinjamkan gratis untuk membantu menyingkirkan lumpur. Rumah-rumah yang terlanda banjir dibersihkan oleh orang-orang asing yang dengan segala kerelaan membantu orang yang terkena musibah. Mantan Perdana Menteri Kevin Rudd bahkan turun ke daerah banjir, ikut memindahkan koper milik mahasiswa Korea yang tidak dikenalnya.

Penduduk kota Brisbane sebagian besar barangkali tidak pergi ke rumah ibadah dengan rajin. Jika dipindahkan ke konteks zaman Nabi Mikha, orang-orang ini tidak pernah mempersembahkan domba jantan dan minyak ke Bait Suci untuk beribadah kepada TUHAN. Namun, mereka memenuhi panggilan Allah melalui Mikha untuk berbuat baik, adil, setia dan rendah hati dengan menolong sesamanya bahkan orang-orang asing. Jika warga sekuler karena solidaritas kemanusiaannya bersedia melupakan keegoisan dan keangkuhan diri demi menolong sesamanya, bagaimanakah kita? Apakah kita puas dengan berkebaktian dengan rajin di gereja? Dengan membayar persembahan perpuluhan, mingguan, bulanan atau tahunan kita? Apakah dengan demikian kita jadi berkenan kepada Allah? Mikha katakan itu tidak cukup dan bahkan tidak tepat. Yang TUHAN minta bukan itu. Yang TUHAN minta adalah totalitas hidup kita yang diabdikan untuk kebaikan sesama dan kemuliaan namaNya. Apakah kita masih mau menjalani panggilan Allah melalui Nabi Mikha ini?

Agustian N. Sutrisno
Comments