Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 2 Oktober 2011

diposting pada tanggal 29 Sep 2011 09.05 oleh Essy Eisen
Keluargaku adalah Gerejaku

Kej. 6:9-22; Mzm 26:8-12; Kis 16:19-34; Luk. 8:19-21


Keluarga Nuh adalah keluarga yang sungguh berbakti kepada Allah. Di tengah keadaan zaman saat orang-orang di sekitar mereka menjadi hamba dosa, Nuh dan keluarga tetap menjadi hamba Allah. Pada akhirnya Allah mempercayakan kelangsungan kehidupan bumi pasca banjir besar yang diizinkan-Nya, kepada Nuh dan keluarganya (Kej. 6:9-22). Keluarga yang setia kepada Allah ternyata dipercaya untuk menjadi keluarga yang memimpin dan mengelola sumber-sumber daya yang besar.

Memang begitulah seharusnya semangat kehidupan keluarga yang benar. Seperti pemazmur dalam Mzm. 26:8-12, kerinduan setiap keluarga sepatutnya ialah pada saat semua bagian anggota keluarga bersama-sama boleh menikmati karya pimpinan Allah yang berujung pada kebaikan. Rumah menjadi tempat di mana Allah berdiam dan memberikan hikmat pengajaran untuk memilih tindakan-tindakan yang benar dan membangun, tetap kuat dan tidak tergoda terhadap keadaan sekitar yang lebih meladeni dosa, pengabaian kepada Allah dan kekerasan.

Untuk tiba pada suasana yang indah dan diperkenan Allah itu, setiap keluarga perlu menyimak dengan tegas apa yang dikatakan Tuhan Yesus saat Ibu dan Saudara-saudara-Nya datang kepada-Nya (Luk. 8:19). Yesus berkata: "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya." (Luk 8:21). Apa artinya? Apakah Yesus mengajarkan kita untuk mengabaikan anggota keluarga kita dan melulu membaca Alkitab? Tentu tidak sesederhana itu. Yesus mengharapkan agar keluarga-Nya menyadari bahwa Firman Allah harus menjiwai perkataan dan perbuatan di tengah keluarga dan bahkan di mana-mana saja keluarga itu berada. Saat itu Yesus sedang mengajar banyak orang untuk memahami dan memberlakukan pengajaran Kerajaan Allah dengan nyata. Keinginan Ibu dan Saudara-Saudara-Nya untuk bertemu dengan Yesus dilatarbelakangi oleh motif yang keliru. Mereka memanggil Yesus untuk semata-mata meladeni perkara-perkara biasa padahal Yesus sedang melakukan perkara yang seharusnya didukung dan dilakukan juga oleh anggota keluarga-Nya yang lain. Ajakan Yesus agar setiap orang mau mendengarkan Firman Allah dan melakukannya sebenarnya adalah untuk keluarga-Nya juga. Dengan mendengarkan dan melakukan Firman Allah, setiap orang dimampukan untuk menyimak perkara penting dalam kehidupan yang akan menjiwai cara mereka bertindak dan bersikap satu sama lain di tengah-tengah keluarga.

Iman yang dihidupi dengan setia akan membawa perubahan yang nyata pada diri orang lain. Itulah yang terlihat melalui kesaksian iman Paulus dan Silas. Walaupun di penjara, mereka tetap setia kepada Allah. Pada akhirnya ini menimbulkan kesan tersendiri bagi kepala penjara, apalagi dalam kesaksian iman mereka itu Allah berkarya menghadirkan perbuatan-Nya yang melampaui kemampuan manusia dengan kehadiran gempa bumi. Kepala penjara itu terkesan dengan kehidupan Paulus dan Silas yang baik dan karya Allah melalui kehadiran mereka. Pada akhirnya mereka memberi diri dibaptis. Dengan kesadaran mereka sendiri, tanpa dipaksa, tanpa diimingi-imingi barang, kepala penjara dan keluarganya bersedia menerima kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus, mau terhisab menjadi satu persekutuan dengan Paulus dan Silas menjadi gereja-Nya (Kis. 16:19-34).

Gereja adalah orangnya dan bukan semata-mata gedung belaka. Bahkan kalau kita lihat kisah-kisah iman dalam pembacaan Alkitab hari ini, nyata benar bahwa gereja juga dapat dipahami berwujud dalam kehidupan keluarga-keluarga yang setia kepada Firman Allah dan mau melakukan Firman Allah. Keluarga-keluarga ini mau memberi kesaksian iman yang nyata dengan menunjukkan perbuatan yang berkenan kepada Allah dan memberikan kedamaian bagi sesama yang ada di sekitarnya. Mereka sungguh diberkati. Bahkan menjadi berkat bagi yang lain!

Setelah mengingat kehadiran Kristus dalam kehidupan dan diri kita dalam Sakramen Perjamuan yang Kudus bersama-sama Gereja Tuhan Yesus di seluruh dunia pada hari ini, pertanyaan penting menunggu untuk dijawab: “bagiamana dengan keluarga yang sekaligus adalah juga “gereja” kita masing-masing?”

(Pdt. Essy Eisen)






Comments