Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 2 Nopember 2014

diposkan pada tanggal 31 Okt 2014 19.18 oleh Admin Situs   [ diperbarui31 Okt 2014 19.18 ]
Allah mengaruniakan keleluasaan hidup

Yosua 3:7-17, Mazmur 107:1-7, 33-37, 1 Tesalonika 2:9-13, Matius 23:1-12

Sebuah pesawat mengalami kerusakan mesin dan harus mendarat darurat di laut luas. Beruntung saat itu siang hari dan pesawat berhasil didaratkan di dekat sebuah pulau kecil. Ratusan penumpang yang terdiri dari orang tua dan anak-anak selamat, walaupun beberapa mengalami luka-luka akibat benturan, khususnya pilot dan ko-pilot. Walaupun semua berhasil menuju ke pulau kecil, banyak yang panik dan menangis. Beberapa malah hanya duduk terdiam memegangi luka-lukanya. “Inilah akhir hidup kita!” kata seorang pemuda. “Ah, berisik kau! Nanti juga ada regu penyelamat menolong kita!” Kata seorang bapak sambil asyik tidur-tiduran di dekat pohon. “Tolong, anak saya haus apakah ada air di sekitar sini?” Keluh seorang ibu sambil berupaya menenangkan anaknya yang masih kecil. Penumpang lain yang mendengar itu hanya terdiam saja membisu mendengar permintaan si ibu yang kebingungan itu.

Semua penumpang itu mengalami pengalaman buruk yang sama. Tetapi dengan berbagai tanggapan. Banyak yang merasakan betapa sesaknya kesusahan yang mereka alami saat itu. Tidak ada penduduk di pulau itu. Betapa sempitnya peluang mereka untuk bertahan dan selamat menunggu bantuan yang tidak dapat dipastikan kehadirannya kapan. Di tengah suasana yang sesak itu, seorang anak muda berteriak dengan suara lantang. “Bapak-bapak, ibu-ibu semua. Sambil menunggu bantuan, mari kita bertahan hidup! Adakah yang dapat membantu saya mencari sungai kecil di pulau ini? Adakah yang dapat mengumpulkan kayu-kayu untuk membuat api untuk nanti malam? Lihat, pesawat kita masih utuh, pasti ada beberapa barang atau persediaan makanan yang dapat kita gunakan untuk menolong anak-anak!” Beberapa orang mulai mengarahkan pandangan kepada si anak muda itu, dan mereka mulai bergerak. “Saya akan ikut kamu cari air!” Kata si bapak yang tadinya asyik tidur-tiduran. “Aku akan ambil beberapa barang di pesawat”, teriak seorang muda di ujung sana. “Ayo kita cari tempat yang aman untuk membangun tenda darurat!” Kata seorang bapak di pojok yang lain. Para pramugari sibuk mengumpulkan persediaan makanan di pesawat. Beberapa orang merobek celana panjangnya untuk membalut luka-luka penumpang lainnya.

Semua bekerja. Semua kini menjadi yakin bahwa mereka akan mampu bertahan. Ternyata suasananya tidak sesempit kekhawatiran mereka pada awalnya. Masih ada begitu banyak kesempatan yang dapat mereka kerjakan. Masih ada keleluasaan dalam hidup mereka, dalam keadaan yang genting itu. Semua diawali oleh kepemimpinan seorang muda yang berani mengambil langkah-langkah penting dan segera dalam menggerakkan banyak orang untuk melakukan apa yang dapat mereka kerjakan.

Kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir menuju Kanaan adalah kisah perjuangan iman, pengharapan dan kasih. Kisah mereka juga adalah kisah pembaruan hidup yang mempertanyakan ketaatan. Juga kisah kerja sama, kepemimpinan, keberanian untuk melangkah bersama. Ada perubahan hidup yang terjadi karena banyak pribadi yang mau diperbarui Tuhan dan menjadi jembatan pembaruan bagi yang lain. Yosua mendapat anugerah untuk menggantikan Musa sebagai pemimpin dan koordinator perjalanan umat Israel. Menghadapi tantangan dan kendala perjalanan umat, Allah mengaruniakan keleluasaan hidup bagi umat-Nya untuk mengambil langkah-langkah yang perlu menuju pada kebaruan hidup di depan mata (Yosua 3:7-17).

Kita tidak dibiarkan sendirian dalam mengambil keputusan dalam hidup. Ada orang-orang di sekitar kita yang memberikan kepemimpinan dalam bentuk arahan, nasihat, keteladanan. Tetapi ada saatnya bukan saja kita berkenan dipimpin, kita juga harus memimpin. Ini kesempatan baik, sebab kita dipercayakan Tuhan untuk memberikan pengaruh yang baik kepada orang lain. Kita menjadi jembatan pembaruan hidup bagi orang lain.

Saat Tuhan mempercayakan kita untuk memimpin, kita memimpin dengan keteladanan, mengarahkan dengan jelas orang yang kita pimpin dan berani mempercayakan tugas-tugas untuk dibagi. Pemimpin yang baik mengutamakan perintah Tuhan. Pemimpin yang bijak, akan menolong orang mengenali bahwa mereka adalah rekan kerja Tuhan dalam mengupayakan apa yang baik bagi sesamanya. Pemimpin yang cakap akan menolong orang mengelola sumber daya karunia Tuhan untuk kebaikan bersama. Pemimpin yang cermat akan menolong orang untuk mencermati apa-apa yang akan membinasakan hidup, dan menasihatkan orang untuk menghindarinya.

Kita belajar dari Firman-Nya bahwa memimpin, memberikan pengaruh bagi orang lain tidak boleh membebani tetapi meringankan beban yang lain. Bukan menambah masalah, tetapi menjadi solusi bagi masalah. Nasihat, dorongan, dan ajakan untuk hidup sesuai nilai-nilai kasih Kristus penting untuk diberikan oleh orang-orang yang menjalankan kepemimpinan yang meneladan kepada Kristus. Dalam pertolongan hikmat Allah, perkataan seorang pemimpin menjadi suara Allah yang mengubahkan kehidupan (1 Tesalonika 2:9-13).

Kita juga menjadi waspada untuk menghindari kepemimpinan yang buruk, yaitu kepemimpinan yang ingin dilihat baik tetapi enggan bekerja, ingin penghormatan dan penghargaan, tetapi dengan menindas dan tinggi hati. Seumur hidup kita belajar bersama kepada Bapa yang penuh kasih ditolong oleh Tuhan Yesus sebagai pemimpin kita menuju kasih Bapa yang sempurna. Yang terbesar, terkuat, menolong yang lemah. Merendahkan hati adalah modalnya (Matius 23:1-12). Selamat memimpin, dan lihatlah betapa Allah mengaruniakan keleluasaan dalam hidup yang acap kali sesak dan pengap ini! (Mazmur 107:1-7, 33-37).

(Pdt. Essy Eisen)
Comments