Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 29 Mei 2011

diposkan pada tanggal 7 Jul 2011 11.12 oleh Essy Eisen
“Kami bertiga, kamu bertiga, kasihanilah kami.”

Yoh 14: 15-21

“Jikalau kamu mengasihi Aku, maka akan menuruti segala perintahKu.” Begitu Tuhan Yesus mengajar murid-muridNya. Kalau kita mengaku mengasihi Tuhan, maka bukti nyatanya adalah kesungguhan kita menuruti perintah Tuhan. Seringkali, alasan untuk menolak melakukan perintah Tuhan adalah karena tidak mengerti apa dasar pemberian perintah itu. Kadang orang berpikir, kalaulah dia bisa tahu lebih banyak tentang seluk beluk Alkitab maka menjalankan perintah itu akan jadi lebih mudah. Kadang pula orang berpikir, kalau orang bisa diajar memahami isi iman Kristen sebanyak-banyaknya, maka ketaatan akan perintah Tuhan menjadi lebih mudah. Sayangnya, itu belum tentu terjadi. Pemahaman yang banyak tidak serta merta membuat orang lebih beriman ataupun lebih ingin menuruti perintah Tuhan. Malah, kadang demi menambah pengetahuan agama, orang jadi lupa melakukan perintah Tuhan.

Anthony de Mello menulis sebuah kisah tentang perjumpaan seorang Uskup dengan tiga orang nelayan sederhana dari sebuah kepulauan terpencil ketika kapal Uskup kebetulan melewati kepulauan itu. Penduduk setempat rupanya sudah menjadi Kristen karena karya misionaris yang datang berabad-abad yang lalu. Dengan Bahasa Inggris seadanya, para nelayan menjelaskan sejarah masuknya Agama Kristen ke kepulauan mereka dan cara mereka berdoa. Doa mereka sangat sederhana, “Kami bertiga, Kamu bertiga, kasihanilah kami.” Pak Uskup merasa terganggu dengan doa yang aneh dan pendek ini. Maka ia dengan sabar berupaya mengajarkan mereka Doa Bapa Kami. Nelayan-nelayan itu sangat kesulitan menghafalkan doa yang panjang, tapi akhirnya sebelum kapal Uskup berangkat lagi keesokan harinya, ketiga nelayan itu sudah dapat mengucapkan Doa Bapa Kami dengan sempurna.

Beberapa bulan kemudian, kapal Uskup kembali melewati kepulauan itu pada malam hari. Uskup dengan senang mengenang bahwa sekarang di kepulauan itu ada tiga orang nelayan yang bisa mengucapkan Doa Bapa Kami dengan sempurna. Selagi termenung, tiba-tiba ada seberkas cahaya sangat terang yang bergerak mendekati kapal. Terlihat tiga sosok manusia berjalan di atas air menuju kapal. Sang kapten kapal menghentikan kapal dan para awak berkumpul untuk melihat peristiwa ajaib ini. Ketika sudah dekat, barulah Uskup mengenali ketiga sosok itu adalah para nelayan yang dahulu diajarnya berdoa.

Ketiga nelayan itu kemudian menyapa Uskup, “Bapak Uskup, kami sangat senang berjumpa Bapak lagi. Ketika mendengar kapal Bapak akan lewat sini, kami cepat-cepat datang. Kami mohon maaf karena kami lupa doa yang bagus yang Bapak ajarkan kepada kami. Kami berkata: Bapa kami yang ada di Sorga, dimuliakanlah namaMu, datanglah kerajaanMu, lalu kami lupa sisanya. Mohon ajarkan kami sisanya.” Uskup kemudian merasa rendah diri dan berkata, “Sudahlah, pulang saja, saudara-saudara yang baik, dan setiap kali kamu berdoa, katakan saja: Kami bertiga, Kamu bertiga, kasihanilah kami.”

Kisah yang dituturkan de Mello memang bukan kisah nyata. Kisah ini ingin menggambarkan kepada kita tentang ketaatan pada perintah Tuhan walaupun kelihatannya kecil dan tidak disertai pengetahuan yang banyak, ternyata bisa jadi lebih baik hasilnya daripada sekedar mengetahui banyak segi dari ajaran agama.

Ketiga nelayan dalam kisah itu tidak punya pengetahuan tentang ajaran Kristen sedalam Uskup. Doa mereka juga tidak sepanjang doa Uskup. Namun, mereka toh menuruti perintah Tuhan sebagaimana yang pernah diajarkan oleh misionaris kepada mereka berabad-abad yang lalu—untuk beriman kepada Kristus dan menyerahkan diri kepada belas kasihan Allah Tritunggal melalui doa yang sederhana. Iman mereka yang memungkinkan mereka berjalan di atas air untuk menjumpai Uskup agaknya lebih besar daripada iman Petrus yang hanya sanggup berjalan di atas air sesaat saja sebelum ia mulai tenggelam karena merasakan tiupan angin (Mat 14: 28-30). Yesus berkata kepada Petrus, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Dapat dipahami mengapa sang Uskup merasa rendah diri berhadapan dengan orang-orang sederhana tetapi beriman besar itu. Atau lebih tepat lagi, ia merasa rendah diri berhadapan dengan Allah Tritunggal yang kuasaNya untuk menghadirkan keajaiban tidak dibatasi oleh seberapa banyak pengetahuan agama seseorang.

Dalam persiapan menyambut Pentakosta, kita dipanggil untuk menaati perintah Yesus. Yang menjadi permasalahan bukan seberapa banyak yang kita ketahui tentang perintah-perintahNya atau pengetahuan Alkitab yang mumpuni. Yang menjadi masalah adalah apakah kita mau secara sungguh-sungguh menuruti perintah Tuhan Yesus seberapapun pengetahuan kita. Kalaupun kita hanya tahu satu perintah saja, yaitu untuk berdoa, “Kami bertiga, kamu bertiga, kasihanilah kami,” turutilah perintah itu dengan segala kesungguhan hati. Memang baik kalau kita terus menambah pengetahuan kita tentang ajaran Kristiani, tetapi jangan jadikan keterbatasan pengetahuan kita sebagai halangan untuk menuruti perintah Tuhan. Agar sanggup menuruti perintah-perintah Tuhan, kita memang perlu belas kasihan Allah Tritunggal. Siapakah yang berani berkata bahwa dirinya sanggup menuruti semua perintah Tuhan dengan kekuatannya sendiri? Untuk itulah Tuhan Yesus menjanjikan Penolong lain, yaitu Roh Kudus. Kiranya dengan pertolongan Roh Kudus yang kekal bersekutu dengan Sang Bapa dan Putra—Tritunggal yang esa, kita dimampukan menuruti perintah-perintah Tuhan.

(Agusitan N. Sutrisno)
Comments