Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 29 Desember 2013

diposkan pada tanggal 28 Des 2013 21.47 oleh Admin Situs
“Waktu, Kesempatan, Merespon” Ada Batasnya!

(Matius 25:1-13)

Akan tiba saat-Nya, Allah memerintah kerajaan-Nya dengan sempurna. Saat itu, kekuasaan kejahatan akan sirna. Mengenai kapan saat-Nya, bukan menjadi urusan kita. Itu urusan Allah. Yang harus menjadi perhatian kita sebagai pengikut Kristus ialah, apa yang harus kita lakukan sebagai bukti iman kita kepada-Nya. Hidup yang seperti apakah yang kita hidupi sebagai orang yang sudah mendapatkan hidup dengan cara pandang yang baru karena karya Kristus? (Matius 7:22-27)

Lewat cerita para gadis yang mendampingi mempelai perempuan dalam menyongsong mempelai laki-laki pada sebuah pesta kawin ala – Yahudi ini, kita diajarkan Kristus untuk menjadi bijaksana dalam memberikan respons, tanggapan atas undangan kasih karunia Allah melalui Kristus.

Untuk menjadi bijaksana memang membutuhkan tenaga ekstra. Sebagian besar orang acap kali lebih memilih kebodohan dosa, karena tidak mau mengeluarkan tenaga dan usaha ekstra. Banyak orang yang kagum dan menyembah Kristus, tetapi tidak mau mengikuti Kristus. Sikap itu seperti para gadis yang tidak mau menyiapkan minyak ekstra bagi pelita yang dibawa mereka dalam cerita ini.

Sebaliknya, para gadis yang bijaksana menanti dengan tekun dan menghadirkan diri mereka dengan penuh kesiapan, sesuai dengan tugas mereka sebagai pendamping mempelai perempuan. Sikap para gadis bijaksana ini seperti orang-orang Kristen yang bukan saja beriman kepada Allah, mengagumi dan menyembah Kristus, tetapi juga mau mengikuti cara yang sudah diteladankan Kristus tentang bagaimana hidup sebagai anak-anak Allah di tengah dunia ini.

Orang Kristen yang hidupnya seperti para gadis bijaksana dengan menyiapkan minyak adalah orang-orang Kristen yang menjaga hati mereka dari pikiran yang jahat (Mat. 15:19), mereka mengasihi musuh mereka dan setia mendoakan untuk perubahan yang baik (Mat. 5:44), mereka mengampuni kesalahan orang lain (Mat. 18:21-35), mereka memiliki iman dan pengharapan yang teguh, tidak mudah menyerah (Mat. 21:21), mereka setia berpihak pada Yesus (Mat. 10:32), dan itu semua dilakukan berangkat dari kasih yang tulus kepada Allah (Mat. 22:37).

Kita harus terus menerus sadar bahwa hal-hal yang dilakukan pada menit-menit terakhir itu tidak pernah maksimal hasilnya. Seorang pelajar yang hanya mempersiapkan diri belajar beberapa saat sebelum menghadapi ujian akan mendapatkan hasil yang berbeda dari pelajar yang mempersiapkan diri belajar rutin dari hari ke hari dalam mempersiapkan ujian. Begitu juga dengan keahlian-keahlian lainnya dalam hidup kita. Seorang ahli, tidak mendapatkan keahliannya dengan sekali jadi saja. Ia tentu menghabiskan banyak waktu untuk mencoba, mengembangkan, mengevaluasi, melakukan.

Bagaimana dengan kehidupan iman kita? Jangan mengabaikan pertolongan Roh Kudus yang menghibur, menolong, menguatkan kita untuk menjadi semakin serupa Kristus dalam perjalanan hidup kita. Jangan sampai kita menyesal karena segala sesuatunya sudah menjadi begitu terlambat dan tidak dapat diulang kembali. Jangan hanya mengisi hidup kita dengan kekayaan hikmat dunia yang terbatas, tetapi isilah hidup kita juga dengan kekayaan hikmat Allah yang abadi. Hikmat yang akan memampukan kita menembus rupa-rupa peristiwa kehidupan dengan tetap memiliki pengharapan yang teguh kepada janji Allah. Bacalah Alkitab secara rutin. Pahami maknanya. Lakukan apa yang telah kita terima dari Allah.

Kita harus menerus sadar bahwa perjalanan hidup bersama Kristus menuju ke rumah Bapa itu haruslah menjadi pengalaman nyata dan serius yang harus kita tempuh sendiri. Kita tidak dapat meminjam pengalaman bersama Kristus dari kehidupan orang lain. Iman dan kebajikan hidup tidak bisa dipinjam. Iman harus dihidupi dengan otentik dan nyata.

Ada saatnya waktu-Nya tiba. Pada waktu saat-Nya tiba, hidup seperti apakah yang telah kita hidup sebagai respons, tanggapan atas kasih karunia-Nya?

(Pdt. Essy Eisen)
Comments